SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
TIDAK PERNAH TAHU


__ADS_3

"Apa yang membuatmu yakin untuk mengajakku kejenjang yang serius?" tanya Vey kepada Devano. Semua orang terus menatap kedua orang yang berdiri di panggung lesehan itu.


"Karena, Allah SWT aku yakin dengan rencana yang Dia tunjukkan. Aku ingin mencintaimu di mata Allah SWT. Aku tidak akan seyakin ini kalau, bukan Allah yang menuntunku," jawab Devano dengan tenang.


"Dulu, aku sempat memimpikan menikah dengan laki-laki yang aku cinta. Aku juga memimpikan menikah dengan orang yang Allah SWT datangkan. Aku tidak akan ragu untuk menolak lamaranmu ini. Iya, aku setuju untuk bertaaruf dengan mas Devano,"


"Alhamdulillah, prok, prok, pork." Sorah suara semua tamu memenuhi kabin cafe.


Vey dan Devano menatap semua tamu yang senang mendengar jawaban Vey. beberapa bayangan putih tertangkap kedua mata Vey.


Di dekat danau samping kafe Vey. melihat bayangan Fahri, ibu dan ayahnya. Tersenyum bahagia ke arah Vey. Vey terus memandangi danau kecil itu.


Air matanya menetes ke kedua pipi Vey. Tidak ayal, seseorang yang sudah meninggal akan selalu hadir dalam setiap acara yang keluarganya buat.


Mitos, biasa orang lain tidak mempercayai itu. Karena, mereka tidak bisa dilihat dengan mata yang terbuka. Akan tetapi, bukan berati Vey bisa melihat.


Devani mengikuti kemana arah pandangan Vey. Devano yang memang peka dengan makhluk ciptaan Allah SWT lainnya. Juga turut, tersenyum dan mengangguk tak kentara.

__ADS_1


"Vey, itu siapa?" tanya Devano yang sukses membuat Vey terkejut.


"Mas, bisa melihat mereka?" tanya Vey dan diangguki Devano.


Vey menatap kembali dan sedikit menjelaskan kepada Devano calon imamnya. Devano mengerti dengan kedatangan mereka. Mungkin, mereka juga ingin menyaksikan Vey, yang di lamar oleh lelaki yang bisa membuatnya bahagia lahir batin.


"Kalau ada waktu, bisa ajak aku kemakam mas mu?" diangguki Vey dengan senang hati.


Vey masih merasa semua ini seperti mimpi. Mimpi yang akan menjadi kenyataan. Vey, memutuskan untuk bertaaruf dengan lelaki yang baru saja dikenalnya.


Mungkin, Devano adalah kebahagiaan yang dikirimkan sang pencipta untuknya. Lewat Devano, Vey pasti akan mendapatkan semuanya. Senyum aslinya, ceria aslinya tanoa harus ditutupinya lagi.


Tapi, mendengar jawaban Devano, Vey tidak ragu lagi. Menikah diusia muda tidaklah menyedihkan.


Acara berlangsung dengan penuh kebahagiaan. Hanya saja, papa Vey tidak bisa hadir dalam acara lamaran anaknya. Vey mengerti dengan ketidak hadiran sang papa.


Pukul 10.30 WIB acara baru saja selesai. Dan, para tamu sudah kembali kerumah masing-masing. Tanggal pernikahan pun sudah ditentukan oleh semua keluarga besar.

__ADS_1


Alisya, Nindi dan Rizal tidak pernah menyangka kalau temannya sudah merencanakan semuanya. Ke datangannya kembali ke tanah kelahirannya untuk menjemput bidadarinya.


"Zal, apa sebelumnya Devano pernah cerita tentang wanita yang disukainya?" tanya Nindi dengan menitikkan air mata


"Pernah, tapi aku tidak tahu kalau wanita itu adalah wanita yang sering menjahili kita," jelas Rizal.


"Jodoh memang tidak ada yang tahu. Aku sangat bangga dengan Devano yang memilih taaruf daripada harus berpacaran yang kalau dilihat. Semakin kesini semakin menakutkan. Ya allah ya robbi, semoga aku juga menemukan laki-laki seperti Devano. Amin," harap Alisya yang benar-benar menghindari itu sejak putus dengan menyukai lelaki yang di kampungnya.


"Sya, kalau misalnya Allah menyatukan aku untuk menjadi imammu, bagaimana?" tanya Rizal menggoda Alisya.


"Aku terima jika, itu memang benar-benar dari Allah. Tapi," potong Alisya.


"Apa?" tanya Nindi dan Rizal bersamaan.


"Bertobatlah dulu!" jawab Alisya membuat Nindi terbahak-bahak.


Rizal yang mendapat jawaban seperti itu merasa tertantang dan menyanggupi ucapan Alisya. Rizal memang terkenal playboy di kampusnya.

__ADS_1


NB: TUHAN TIDAK PERNAH SALAH MEMILIHKAN JODOH UNTUK SEMUA HAMBANYA.


__ADS_2