SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
BERSATUNYA WILDAN DAN IREN


__ADS_3

Dilagu terakhir Wildan langsung berjongkok yang masih memegang tangan Iren sebelah.


Wildan menekuk kaki satunya seperti yang dilakukan laki-laki yang ingin melamar kekasihnya.


Iren masih tertegun melihat Wildan yang tiba-tiba berjongkok itu. Iren melihat sekelilingnya yang memandangnya penuh dengan kekaguman.


" Ren, aku tau kamu masih belum bisa melupakan dia. Aku juga tau kamu masih ada perasaan buat dia. Tapi, aku ingin mengobati semua lukamu. Ijinkan aku untuk menggantikan semuanya. Kamu mau kan menerima perasaanku ini." ungkap Wildan.


Iren masih bingung mau menjawab apa tapi dia juga merasa ingin memberi kesempatan kepada Wildan.


Iren menatap teman-temannya yang berada disebrang sana. Begitupun dengan Wildan, dia menatap semua para pengunjung.


Suasana yang tadinya ramai dan penuh keceriaan kini berubah menjadi ketegangan. Tatapan mata Wildan tak sengaja bertemu dengan manik mata milik Vey. Vey sedikit menganggukan kepalanya dan tersenyum kearah Wildan untuk meyakinkannya.


Iren kembali menatap Wildan yang setia dengan posisinya. Dia masih menimbang nimbang, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan.


Iren mencoba untuk memberi kesempatan kepada Wildan. Dia mau menerima Wildan meskipun dihatinya masih menyimpan sedikit rasa untuk Reza.


Dengan memantapkan hati Iren mengangguk sebagai jawaban. Semua pengunjung berdiri dan bertepuk tangan. Vey juga ikut berdiri meskipun ada sedikit rasa sesak.


Malam yang indah itu menjadi saksi bersatunya cinta Wildan dan Iren. Sudahlah aku memang sengaja ingin menyatukan mereka kembali meskipun sesak.


Wildan turun dari panggung dengan masih menggandeng tangan Iren. Mereka tampak sangat bahagia sekali. Aku mencoba tersenyum melihat mereka.


" Selamat yah, akhirnya diterima juga." ucapku kepada Wildan dan Iren.


" Makasih yah Vey, ternyata kamu benar. Aku masih belum bisa melupakan cinta pertamaku." kata Wildan.


" Iya, sama-sama! Tapi ingat yah kalian masih sekolah, jangan sampai pelajaran kalian terganggu. Apalagi sekarang sudah kelas tiga." nasehatku kepada Iren dan Wildan.


Malam makin larut aku dan semua bergegas untuk pulang. Satu persatu semuanya pulang kerumah masing-masing.


Sekarang hanya Aku yang masih dikafe ini. Aku masih ingin menikmati suasana sejuk ini. Meskipun hanya dua minggu aku dikota kelahiran, tapi aku pasti sangat merindukan suasana sejuk ini.


" Lho Mbaknya masih disini toh." ujar sang vokalis sekaligus yang memiliki tempat ini.


" Eh, iya mas lagi pengen nikmati udara ditengah sawah malam gini Mas. Udah mau tutup yah Mas." kata ku sambil memasukkan ponselku.


" Egak juga sih santai aja, ngomong-ngomong kenalin aku Tito." dia mengulurkan tangannya.


" Veyo, panggil aja Vey." balasku menjabat uluran tangan Tito.

__ADS_1


Setelah lama berbincang-bincang aku segera berpamitan untuk pulang. Sebelum Tito menghampiriku tadi aku sudah menelfon Papa untuk menjemputku.


Aku menunggu Papa didepan kafe, tidak menunggu lama ku lihat sepeda motor Papa yang datang. Aku langsung mengambil helm yang diberikan Papa dan segera naik dibelakang Papa.


Besok aku sudah berangkat, sesampainya dirumah aku melihat suasana sudah sepi dan gelap. Bunda dan Mbak Asri pasti sudah tidur karna jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam.


Ku rebahkan tubuhku dikasur empukku, dan ku telungkupkan kepalaku dibantal. Ku menatap bingkai foto yang menampilkan senyum tampannya.


Ku raih foto itu dan ku tatap sendu wajahnya. Terbesit dalam hatiku rasa rindu yang teramat sangat. Semenjak kejadian aku dikucilkan, aku tidak pernah lagi berkunjung kemaleman Mas Fahmi.


Aku berasa melakukan kesalahan besar waktu itu. Setiap aku keluar rumah sendiri ataupun bersama Bunda. Orang-orang dikompleks memandangku dengan sebelah matanya.


Mereka menganggapku seperti remaja yang gila. Benar-benar sangat miris jika mengingat semua itu. Ku usap foto itu, dan ku peluk foto itu untuk menyalurkan rasa rinduku.


Tak terhitung menit aku sudah memejamkan mataku sambil memeluk foto Mas Fahmi. Rasa kantuk yang teramat sangat sudah mengantarkanku kealam mimpi indahku.


***


Pagi, harinya terdengar Bunda yang mengetuk pintu kamarku. Aku masih menikmati mimpiku yang bertemu dengan seseorang.


Benar-benar sangat malas untuk bangun, padahal Bunda dan aku sepakat berangkat lebih pagi.


Aku hanya menggeliat meregangkan ototku, ku berpindah posisi menghadap Bunda. Dengan masih lengket mataku sulit untuk aku buka.


" Bun, gak jadi berangkat sekarang yah! Besok aja gimana. Vey ngantuk banget Bun." jawabku masih dengan mata tertutup.


Tanpa banyak bicara Bunda meninggalkanku. Sebelum Bunda keluar, dia mengambil bingkai foto yang semalam aku peluk.


Bunda menaruh dimeja belajarku lagi kemudian beliau berjalan keluar kamarku. Hari ini aku hanya ingin tidur seharian tidak ingin ada gangguan.


" Lho, Bun mana Veyonya gak jadi berangkat sekarang." tanya Mbak Asri.


" Egak Mbak, Vey kayaknya masih ngantuk dia. Mungkin juga masih capek. Biarin aja dia tidur kasian juga Mbak. Tidurnya gak teratur." jawab Bunda.


Mbak Asri melanjutkan pekerjaan yang membantu Bunda menyiapkan sarapan. Papa sudah berangkat sedari tadi. Bulan ini Papa jarang sarapan bersama.


Matahari sudah naik diufuk timur, tapi aku masih saja bermalas-malasan dikasur empukku. Tidak ku hiraukan suara ponselku yang terus berbunyi.


Saat dirasa perutku sudah mulai keroncongan baru aku bangun dan menuju kamar mandi.


" Pagi Bunda, Mbak Asri." sapaku kepada mereka yang diruang tivi.

__ADS_1


" Udah sore sayang bukan pagi lagi." cetus Mbak Asri. Bunda yang disampingnya Mbak Asri tertawa melihatku.


Ternyata lama juga aku tidur sampai-sampai sore aku bilang pagi. Aku yang ada diruangan tivi tertawa malu.


Ku dudukkan tubuhku disamping Bunda, bergelayut manja dan menyenderkan kepalaku dipundak Bunda.


Kami bertiga melihat tivi dengan tenang, hatiku masih sedikit gelisah. Entah, apa yang membuatku seperti orang patah hati.


" Papa belum pulang Bun, sekarang Papa jarang ikut sarapan bareng yah Bun kasian. Gitu yah kalok jadi abdi negara, tiap menit, tiap detik, tiap jam ditelfon langsung berangkat. Nanti, kalau Vey udah besar Vey gak mau ah cari suami orang Angkatan." cerocoku ngalur ngidul gak jelas.


Bunda yang mendengarkanku ngoceh gak jelas mencubit hidungku.bak Asri hanya geleng-geleng kepala sambil terus memakan camilannya.


Suasana kembali hening lagi, matahari sudah berganti dengan bulan. Masih jam tujuh aku sudah sangat mengantuk lagi. Aku meminta ijin untuk kekamar lagi.


Saat ingin masuk kamar, Bunda memanggilku untuk makan malam dulu. Aku menolaknya karna sudah tidak tahan lagi untuk segera tidur.


Badanku rasanya sangat capek, melihat bantal dan guling aku langsung berlari dan matapun sudah terpejam. Pintu kamar sedikit terbuka, Papa yang ingin melihatku langsung masuk.


Bunda mengekori dibelakangnya, beliau berdiri disamping ranjangku. Sedangkan Papaku duduk ditepian ranjangku. Terasa telapak tangan Papa menyentuh kepalaku.


Diusap-usapnya puncak kepalaku yang memaksaku untuk membuka kedua mataku.


" Kok bangun sayang, terganggu yah." kata Papa.


" Papa, udah pulang. Udah makan juga Pa?" cecarku. Dengan suara khas orang bangun tidur ku menanyakan semuanya.


Papa yang sadar akan kekhawatiranku pun hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman. Kemudian beliau menyuruhku untuk melanjutkan tidurku.


Sebelum aku memejamkan mataku kembali, aku mengambil foto Mas Fahmi. Mengajak ngobrol sebentar meski aku tau dia tidak akan menjawabnya.


" Mas, kenapa hatiku sakit yah saat kemaren malam Wildan nembak Iren lagi. Padahal, aku sendiri yang meminta dia untuk tetap berteman. Mas Fahmi, besok aku datang ketempatmu tunggu yah." ucapku mencium bingkai foto itu dan kemudian menarohnya lagi.


Ku pejamkan kedua mataku kembali dan berharap besok tidak kesiangan lagi.


NOTES: MULUT BISA BERKATA BEDA TAPI HATI BERKATA LAIN.


LIKE, SARAN dan kasih rate aja


Kalau Vote kayaknya terlalu muluk yah😊😊😊


Segini dulu yah ngantuk nih authornya.Selamat malam semuanya love you readers😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2