
Reza masih tidak membalas perkataanku dia masih saja menggenggam erat tanganku. Sedangkan matanya menatap lurus kedepan. Ingin ku lepaskan genggaman tangan ini tapi sangat sulit. Telapak tanganku sudah basah karna genggaman Reza. Ku lihat teman-temanku sudah ada dipintu kelas. Aku mencari-cari sosok yang ingin aku mintak i bantuan.
Danu, yah dimana Danu saat ini aku ingin meminta tolong untuk melepaskan tanganku dari tangan Reza. Sosok yang sudah terlihat mengerti arti dari tatapanku. Dia berjalan kearahku dan Reza, dan menepuk pundaknya.
"Za, kemana saja kamu tidak kerumah. anak-anak mencarimu lho tumben bener kamu." sapa Danu kepada Reza. Yang disapa hanya menengok sebentar untuk kemudian menatap kearahku.
" Za, sudahlah aku tau kamu sangat sayang tapi kamu apa tidak kasian melihat Iren dihina terus oleh Mamamu. Kamu jangan egois Za, Meskipun kalian tidak pacaran lagi tapi setidaknya kamu masih bisa berteman." sambung Danu.
Reza sangat dekat Danu karna Danu sebenarnya masih sepupunya. Reza juga terbuka hanya kepada Danu. Dengan bujukan dan pengertian yang Danu berikan akhirnya Reza melepaskan genggaman tangan ini.
" Jika itu keputusanmu, aku akan menerimanya. Walaupun berat karna kamu cinta pertamaku Ren. Aku juga tidak ingin kamu semakin terluka. Aku ingin melihatmu ceria seperti dulu lagi, anggap saja selama ini kita tidak pernah memiliki perasaan ini." dingin, itu yang aku tangkap dari kata-kata Reza.
" He'emb!" anggukku sebagai jawaban.
Entah, saat mendengar kata-kata terakhir Reza aku merasa ada duri yang menancap dihatiku. Tenggorokanku tercekat seperti ada batu yang mengganjal. Aku tidak mampu lagi berkata, aku ingin melangkah kekelas tapi cekalan tangan Reza menghentikan kakiku.
" Aku akan pindah keluar kota, dan aku yakin akan mempermudahkan kamu untuk melupakanku. Aku harap tidak akan pernah kembali lagi. Semoga bahagia Ren, sampai kapanpun aku tidak ingin berteman denganmu." ucap Reza yang lolos membuat aku dan semuanya membeku.
Dilepaskannya cekalan tanganku dan dia berlalu pergi tanpa mau menoleh lagi untuk terakhir kalinya.
"Apa aku melukai perasaannya? Apa aku terlalu mengikuti egoku." batinku berkata.
Tubuhku seakan membeku dibuatnya. Kata-katanya masih terngiang jelas ditelingaku. Setelah kepergian Reza, aku segera berlari menuju ketempat persembunyianku dulu. Dimana setiap keluh kesahku tercurahkan ditempat itu. Tak ada air mata yang keluar hanya rasa sesak yang aku rasakan.
Tanpa aku tau ada seseorang yang mengikuti ku saat aku berlari kesini. Wildan, dia selalu ada saat aku membutuhkan teman untuk bersandar. Insting apa yang dimiliknya, mungkin pertemanan kita yang sudah terjalin cukup lama.
" Hey, ternyata ini tempat persembunyianmu." kata Wildan mengagetkanku.
__ADS_1
" Lho, kamu kok tau kalau aku ada disini Wil." heranku karna Wildan bisa menemukan ku disini.
"Tau lah, dari bau badanmu." canda Wildan. Aku yang mendapat candaan itu hanya tersenyum simpul.
" Kamu tidak apa-apa Ren, aku tadi lihat Reza tapi kok tidak memakai seragam sekolah. Apa dia tidak masuk sekolah." tanya Wildan penasaran.
" Wil, waktu dulu kamu aku tolak apa yang kamu rasakan. Aku dulu pernah menghindarimu begitu saja tanpa memberikanmu jawaban." pertanyaan ku mengejutkan Wildan. Terlihat dari pergerakan tubuhnya yang langsung menghadapku.
" Apa kamu tadi sudah bilang kepada Reza." tanya Wildan lagi.
" He'emb, tadi aku sudah mengatakannya dia seperti tidak terima dengan keputusanku. Sebelum aku mengatakannya dia bilang kalau dia tidak akan pernah mau putus denganku. Tanganku saja tidak dia lepas-lepas sampai aku meminta bantuan Danu. Kamu tau Danu kan Wil yang waktu itu ngobrol sama kamu sama Tio. Danu membantuku menjelaskannya kepada Reza, rahmat wajahnya tampak sangat dingin Wil. Lebih dingin wajah Reza saat itu." Ku hembuskan nafasku pelan untuk melanjutkan lagi.
" Apa orang miskin seperti kita selalu dipandang lemah oleh orang seperti mereka. Yang memiliki derajat yang lebih tinggi. Wil, tidak seharusnya aku memiliki perasaan ini, seharusnya aku sadar diri sebelum aku menerima Reza dulu. Aku bagai pungguk yang merindukan bulan." sambungku. Aku tertunduk meratapi nasibku
Dan tanpa terasa buliran bening sudah mengalir deras dikedua pipiku.
" Ren?" Vey yang muncul dari arah belakang. Aku mendongakkan sedikit menatap orang didepanku. Ku lihat Vey dan Tio sudah ada disini juga. Entah sejak kapan mereka berada disini, apa tadi mereka juga mengikutiku. Aku yang sedari tadi duduk lesuh melihat Vey berada didepanku. Langsung berhambur memeluk tubuh mungilnya, ku tumpahkan semua kesedihanku yang tidak bisa lagi aku pendam.
" Ayo kita semua kekantin. Pasti sudah pada lapar kan? Sudah gak usah dibahas lagi. Laperkan habis nanti." Goda Vey mentoel hidungku. Aku yang mendapat perlakuan Vey pun ikut tersenyum. Meski sejujurnya masih banyak lagi yang aku pendam.
" Ayok Vey, aku juga sudah lapar." ucap Tio berjalan mendahului kita.
Vey berjalan sambil merangkul pundakku, sesekali dia tersenyum kepadaku. Sungguh hangat senyuman yang diberikan Vey kepadaku. Ku lihat dua lelaki yang berjalan didepanku. Pundak itu yang dulu sering menjadi tempat bersandarku.
Tio memesankan makanan dan minuman buat kita bertiga. Aku duduk disamping Vey, dia masih saja melingkarkan lengannya dipundakku. Seperti sudah kenal lama, tapi aku sangat menyukai Vey yang tidak pernah pilih-pilih dalam berteman. Sangat, ku sesalkan teman-temannya dulu menjauhinya hanya karna alasan yang tidak masuk akal.
"Ren, kamu baik-baik sajakan?" tanya Vey kepadaku saat dilihat ku menundukkan kepalaku.
__ADS_1
" Iya, Vey aku baik-baik saja." jawabku dengan tersenyum.
"Wil, kamu kenapa kok melihat seperti itu. Kesambet yah kamu." ucap Vey kepada Wildan yang sedari tadi melihatku.
Tak berselang lama Tio datang dengan membawa nampan yang berisi pesanan kita. Aku hanya memesan segelas jus alpukat saja. Aku aduk-aduk minumanku dengan sesekali aku menyeruputnya.
Dari arah yang tidak iren ketahui Reza sedang memperhatikan ditemani dengan Danu. Reza masih belum bisa menerima jika Iren memutuskannya. Dia tidak membenci Iren dan tidak sepenuhnya berkata untuk tidak bertemu Iren lagi. Mungkin untuk saat ini inilah yang terbaik, karna sebentar lagi mereka sudah mau kelas 3.
****
Aku, Vey, Tio dan juga Wildan sudah berada dirumahnya Vey. Bunda dan Mbg Asri menyambut kedatangan ku, Wildan dan Tio. Melihat kehangatan yang Bunda dan Mbg Asri berikan seperti menghilangkan segala rasa sakitu tadi. Aku sangat nyaman dengan keluarga ini.
Selama ini aku tidak pernah datang berkunjung kerumah Vey. Meskipun jarak rumah kita tidak terlalu jauh, hanya saja waktu itu aku sedang menghindari Wildan. Vey menceritakan semua masalah yang aku alami. Bunda dan Mbg Asri memintaku untuk tetap kuat.
" Sudah yah nak, masa depanmu masih panjang. Jangan hanya karna putus cinta bisa mengganggu sekolahmu. Ini yang sering Bunda katakan sama Vey." Bunda menasehatiku seperti menasehati anak kandungnya.
"Iya Bunda, terima kasih aku akan selalu ingat nasehat Bunda." jawabku kepada Bunda Vey.
Mbg Asri dan Vey sedang menyiapkan makanan untuk kita makan. Vey menaruh semua makanannya ditaman belakang rumahnya. Aku yang ingin membantu menyiapkan tidak diperbilehkan sama Bunda. Beliau bicara ingin berkunjung kerumahku setelah ini.
" Makanan sudah siap Ibu Ratu." goda Vey kepada Bundanya. Jika dirumah Vey terlihat sangat manja kepada Bundanya. Dia bergelayut manja tanpa malu merasa mita. Mungkin Wildan dan Tio sudah. biasa melihat keakraban Ibu dam Anak ini. Karna mereka sering bermain kerumah Vey.
Dari arah luar terdengar ada seseorang yang mengetuk pintu sebelum memasuki rumah. Terlihat seorang lelaki yang gagah dengan seragam dinasnya. Senyum yang ditampakkan pertama kali.
" Eh, ada anak baru yah Bun, kok tidak ngasih tau Papa sih." ucap beliau. Aku yang dikatai anak baru langsung menyalami Papa Vey. Satu kehangatan lagi yang aku dapatkan dari keluarga Vey.
Benar kata orang, keluarga Vey sangatlah ramah dan ringan tangan. Mereka sangat jauh beda dengan orang kaya lainnya. Keserdahanaan itu lah yang membuat mereka bahagia. Tidak perlu rumah besar dan bertingkat-tingkat jika ingin bahagia. Cukup keterbukaan dalam keluarga yang terpenting. Seperti aku, Ibu dan Bapak. Aku memiliki keluarga baru lagi setelah keluarga Wildan dan Tio.
__ADS_1
NOTES: KEGAGALAN DALAM SETIAP HUBUNGAN ITU WAJAR. TAPI DALAM MENCARI ILMU JANGAN SAMPAI ADA KATA GAGAL.
Jangan lupa LIKE, SARAN yah kalau mau bisa banci VOTE. Aku tidak mengharapkan sesuatu yang lebih. Maafkan yah kalau dipart sebelumnya ada yang pendek atau ada yang panjang. Karna sesuai ide yang sudah ada dikepala.Jangan dibully yah readers yang baikπππ