SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
NENYANYI LEBIH BAIK


__ADS_3

Cinta, satu kata yang membuat semua orang terpesona. Terpesona akan semua janji dan bukti yang tak pasti. Tidak perlu terlalu lama untuk memahami sebuah cinta.


Pandangan pertama saat tanpa sengaja bertemu itu sudah bisa dikatakan cinta pada pandangan pertama. Itu, yang membuat Gio mencintai Vey tanpa mau melihat ke kurangan Vey.


Cinta membuat semua orang sangat mengagumi. Tidak perduli meski tersakiti. Tapi, cinta juga tidak sepenuhnya menyakitkan jika semuanya mau memahami apa arti dari sebuah cinta.


Sepulang dari tempat wisata semuanya mulai beraktivitas kembali.


Vey terus melamun dan sering kali membuang nafasnya kasar. Duduk di taman belakang sekolah seorang diri.


Ketiga sahabatnya masih membantu guru lainnya. Vey duduk bersandar dibawah pohon dengan telinga yang tertutupi headset. Menghilangkan kebosanan yang sangat menyiksa sendirian di taman.


Akhirnya, dia beranjak berdiri melangkahkan kakinya dengan malas. Menuju suatu ruangan yang akan membuat suasana hati Vey kembali.


Lelah itu yang Vey rasakan, ingin bahagia ada saja masa lalu yang datang.


Ikhlas itu sudah pasti, tetapi untuk melupakan sesuatu itu butuh proses. Tidak gampang untuk menghilangkan semuanya. Mau sekuat kita berusaha tetap saja tidak akan bisa.


"Kenapa, sesulit ini yah mau hidup tenang. padahal aku sudah memaafkan mereka." gumam Vey bermonolog sendiri.


Vey sudah duduk diruangan musik yang dulu Wildan datangi. Duduk dipojok dekat alat-alat musik yang disimpan. Menyandar disamping lemari kaca, melihat kedepan sambil memejamkan mata.


Vey masih dengan keasyikannya yang mendengarkan semua musik yang tersimpan di ponselnya. Vey berusaha untuk menghilangkan kepenatannya dengan mendengarkan musik.


Membuka kedua matanya, menatap satu persatu alat musik itu. Berdiri dan mengambil alat musik tersebut. Mencoba memetikkan senar gitar dengan jemarinya.


Jreng~~


Diam melipat satu tangannya untuk menyangga dagu lancip miliknya. Menghembuskan nafasnya sebentar untuk mengontrol hatinya yang galau.


Dengan sekali tarikan nafas Vey memulai aksinya. Memetik satu persatu senar gitar mengikuti kunci lagu yang dia nyanyikan.


๐ŸŽค๐ŸŽค


Rasa takut kehilanganmu


Kini menjelma menjadi nyata


Ku tak bisa menghindar


Mungkin cintaku tlah usai


Kata maaf tak bisa menebus


Atas satu khilafku padamu


Kau merasa dikhianati


Kau putuskan untuk pergi


๐ŸŽถKu coba tersenyum saat kau pergi


Meski lara hati menangis melepasmu


Andaikan kau tahu


Betapa aku masih mencintamu


Kata maaf tak bisa menebus


Atas satu khilafku padamu


Kau merasa dikhianati


Kau putuskan untuk pergi


Ku coba tersenyum saat kau pergi


Meski lara hati menangis melepasmu


Andaikan kau tahu


Betapa aku masih mencintamu


Ku coba tersenyum saat kau pergi


Meski lara hati menangis melepasmu


Andaikan kau tahu

__ADS_1


Betapa aku masih mencintamu oh


Ingin rasanya aku memelukmu


Tuk terakhir kali sebelum engkau pergi


Namun ku takut tak mampu


Menahan air mataku


Langsung Vey menyanyikan satu lagu lagi.


๐ŸŽธ๐ŸŽต


Engkau yang sedang patah hati


Menangislah dan jangan ragu ungkapkan


Betapa pedih hati yang tersakiti


Racun yang membunuhmu secara perlahan


Engkau yang saat ini pilu


Betapa menanggung beban kepedihan


Tumpahkan sakit itu dalam tangismu


Yang menusuk relung hati yang paling dalam


Hanya diri sendiri


Yang tak mungkin orang lain akan mengerti


Di sini ku temani kau dalam tangismu


Bila air mata dapat cairkan hati


Kan ku cabut duri pedih dalam hatimu


Agar kulihat, senyum di tidurmu malam nanti


Anggaplah semua ini


Satu langkah dewasakan diri


Juga bagi...


Engkau yang hatinya terluka


Di peluk nestapa tersapu derita


Seiring saat keringnya air mata


Tak mampu menahan pedih yang tak ada habisnya


Hanya diri sendiri


Yang tak mungkin orang lain akan mengerti


Di sini ku temani kau dalam tangismu


Bila air mata dapat cairkan hati


Kan ku cabut duri pedih dalam hatimu


Agar kulihat, senyum di tidurmu malam nanti


Anggaplah semua ini


Satu langkah dewasakan diri


Juga bagi.mu...


Jreng, Jreng, Jreng~~


Anggap saja seperti itu yah๐Ÿ˜Š


"Hah, " Vey menghembuskan nafasnya kasar.

__ADS_1


Lega, itu yang sekarang Vey rasakan, menyanyi adalah hobi Vey. Pundaknya terlihat naik turun seperti orang habis berlari jauh. Dibelakang sudah banyak siswa dan siswi yang menonton Vey bernyanyi.


Prok, Prok, Prok, , , ,


Ramai tepukan tangan yang Vey dengar dari arah belakangnya. Vay langsung berdiri dan berbalik, terkejut dengan apa yang dia lihat. Apa suaranya mengganggu yang lainnya. Vey, masih mematung berkedip berulang kali.


Sedangkan Semua siswa dan guru-guru masih bertepuk tangan. Kagum mendengar suara Vey yang sangat merdu. Tak terkecuali ketiga sahabatnya, mereka tersenyum kepada Vey yang masih mengedip-ngedipkan kedua matanya yang indah itu.


Irene berjalan menghampiri sahabatnya itu dengan senyum yabg tak luntur. Memeluk Vey, pelukan tiba-tiba Irene menyadarkan rasa keterkejutan Vey.


"Ren, suaraku mengganggu mereka yah!" bisik Vey tak enak.


" Jika, benar mereka terganggu kenapa mereka berbondong-bondong untuk mendengarkan dan melihat kamu disini. Bernyanyi dan memainkan gitar." jawab Irene. Tampak bibir itu membentuk bulan sabit yang sangat manis.


Vey dan Irene masih tetap berada ditempatnya, menunggu sang pimpinan menghampiri.


"Don," panggil pak kepala sekolah.


Doni, ketua OSIS disekolah Vey yang sama tamoannya dengan Wildan. Setampan apa masih tetap Wildan yang menjadi nomer satu dimata mereka.


Doni yang terpanggil segera masuk dan menghampiri mereka.


"Iya, Pak!" jawab sang ketua OSIS.


"Untuk acara perpisahan kelas tiga ini apa ada PENSI nya Don!" tanya pak kepsek.


"Iya, pak kami mengadakan pentas seni untuk kenang-kenangan juga sebagai hiburan karena sudah berjuang selama ini. Sebagai hadiah juga buat kakak kelas kita yang akan meninggalkan sekolah ini." jawab Doni menjelaskan.


"Acaranya ada apa saja Don." tanya pak kepsek lagi.


"Bayak pak, kami juga menyiapkan satu band untuk menghibur kita semua. Jika, ada yang ingin menyumbangkan suaranya juga dipersilahkan pak." kata Doni


"Baiklah, Doni. Vey, apa kamu mau ikut menyumbangkan suara merdumu itu, Nak!" Pak kepsek meminta Vey untuk ikut serta.


"Insyaalloh, Pak." kata Vey tidak janji.


Pak kepsek menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar diikuti Doni. Bersamaan dengan para siswa yang ikut membubarkan diri.


Tinggal ah keempat sahabat itu dua cowok tampan dan dua cewek cantik. Mereka duduk di bangku yang memang disediakan.


"Kenapa?" tanya Wildan yang memulai percakapan.


Sontak semuanya melihat kearah Wildan yang tiba-tiba bertanya.


"Kamu, kenapa Vey." tanya Wildan lagi.


"Aku, aku gak papa Wil. Jenuh saja menunggu kalian yang masih sibuk." jawab Vey dengan mantap.


"Beneran, Vey cuman itu alasan mu." giliran Tio yang bertanya.


"Iya, Yo. Memangnya kenapa? Kamu kira aku seperti Wildan dulu. Yang galau ditolak Irene." ejek Vey yang ditertawai Tio.


Wildan yang terkena skakmak dari Vey langsung nyengir kuda dan menggaruk belakang kepalanya.


"Wil, Yo, Ren! Kalian percaya gak kalau kita melampiaskan apa yang kita rasakan rasanya sangat lega sekali. Dulu, kamu juga begitu kan Wil, hanya sja saat itu kamu sedang gabut yah." Vey terkekeh menutup mulutnya.


Mereka bertiga hanya menatap Vey dengan heran, tidak biasanya dia seperti itu. Tapi mereka tetap diam tidak ingin merusak suasana hati Vey sekarang.


"Benar Vey, itu lebih baik bukan dari pada menangis." timpal Irene.


Vey tersenyum dan kembali lagi menatap kedepan. Mereka berempat terdiam dengan posisi masing-masing. Wildan dengan menyandarkan kepalanya dibahu sang pacar. Begitupun Irene menyandarkan kepalanya diatas kepala Wildan.


Tyo dengan posisi malas menggantungkan tangannya, membiarkan jari-jarinya menyentuh lantai. Sedangkan, Vey duduk tegap dan melamun kedepan.


"Garing, Rek!" kata Tyo. Ucapan Tyo diangguki oleh ketiga orang tersebut.


Kata 'Rek' dalam bahasa indonesia berarti 'TEMAN'.


"Ayok, nanti malam kita datang ke warung kopi dulu. Disitu kan ada live musiknya." ajak Vey disambut antusias oleh Tyo.


"Makan gratis juga kan Vey," antusias Tyo. Kalau yang mengajak Vey sudah jelas tidak akan mengeluarkan dana sama sekali.


"Beres, kalau itu Tyo. Asalkan, kowe gelem tak suruh minum air kran dulu." kata Vey menggoda Tyo. Seketika ketiganya tertawa dan berdiri keluar.


NOTE: MELAMPIASKAN SESUATU TIDAK PERLU MARAH. CUKUP MENGALIHKAN DENGAN CARA YANG SEHAT.


Maaf yah kalau dikit-dikit nyanyi๐Ÿ˜Š


maaf juga kalau gak pernah update

__ADS_1


__ADS_2