
Hari ini aku terbangun dengan penuh kebahagiaan. Akhirnya aku akan berkenjung ketempat favoritku.
Ku berjalan menuju jendela kamarku, menatap sisa-sisa air hujan yang menempel dikaca jendelaku.
Embun dipagi hari menambah kesejukkan udara hari ini. Dua minggu ku berada jauh dengan teman-temanku terutama berada jauh dari orang yang aku sayang.
Aku menuju kamar mandi untuk menyegarkan badanku. Setelah itu aku akan bersiap-siap.
Bunda sudah selesai terlebih dahulu, beliau menyiapkan sarapan untuk semuanya. Aku berangkat ditemani oleh Mbak Asri.
Ku tampakkan senyumku untuk menyambut tanah kelahiranku. Mbak Asri yang sudah siap dengan semua barangnya segera memasukkan kembali yang sudah disewa oleh Papa.
Sesudah sarapan aku dan Mbak Asri sudah siap untuk berangkat. Aku berpamitan ke pada Bunda dan papa. Dua minggu aku jauh dari Bunda dan Papa rasanya sangat sedih.
" Ingat yah Vey, kalau sudah sampai langsung kabari Bunda atau Papa. Jangan bikin Eyang repot, Mbak Asri jaga adeknya yah nak." pinta Bunda kepada kami berdua.
Aku memeluk Bunda sangat erat dan tidak ingin lepas rasanya. begitu pun dengan Mbak Asri. Bunda dan papa mengantarkan kami kemobil sewaan.
Setelah kami masuk mobilpun siap untuk berangkat. Kutengok kembali kebelakang dan melambaikan tangan kemereka.
Karak dari desa M kek kota J menempuh waktu sekitaran empat puluh menitan. Didalam mobil aku dan Mbak Asri sangat menikmati perjalanan.
Aku meminta kepada pak sopir untuk menyalakan musiknya agar tidak terlalu sepi. Aku sandarkan kepalaku dipundak Mbak Asri. Tak terasa aku sudah masuk kedalam alam mimpi.
Saat aku mulai memejamkan mataku, telingaku tidak sengaja mendengar lagu yang sering aku nyanyikan bersama Mas Fahmi.
Ku nikmati alunan musik itu sambil memejamkan mataku kembali. Dalam mimpi kenangan demi kenangan bermunculan. Mas Fahmi terlihat sangat bahagia melihatku dari jauh.
Dia, terlihat sangat tampan dan bersih, kulit sawonya berganti menjadi putih dan sangat-sangat tampan. Tidak menghilangkan senyuman yang selama ini selalu aku rindukan.
Dia rentangkan kedua tangannya dan aku segera berlari bwrhambur kepelukannya. Nyaman dan tenang saat dingin hangat itu merangkulku.
Ku benamkan kepalaku pada dada bidangnya. Badannya yang agak berisi membuat semakin nyaman dan hangat. Pelukan ini yang aku rindukan. Kehangatan ini yang aku selalu impikan.
Tak terasa air mataku menetes dikedua pipiku. Menangis sesenggukan, tangan dingin yang berganti hangat itu mengusap-ngusap kepalaku.
__ADS_1
" Menangislah Deg, keluarkan semua yang kamu rasakan selama ini. Mas akan mendengarkan, menangislah sepuasnya biar hatimu lega tidak akan beban lagi yang terpendam." ucap Mas Fahmi kepadaku yang masih memeluknya dan menangis menumpahkan segala rasa yang selama ini aku pendam.
Aku tersadar saat Mbak Asri dan Pak Sopir membangunkanku. Mereka terlihat panik melihatku yang tiba-tiba menangis. Ku buka kedua mataku, terasa ada yang basah dipipiku.
Ku lihat Mbak Asri dan Pak Sopir bergantian.
" Kenapa Mbak! Ada apa yah?" kataku kepada mereka.
* Kamu yang kenapa Vey, kok tiba-tiba saja menangis sesenggukan begitu. Kamu mimpi apa?" ujar Mbak Asri sambil mengelus pipiku.
Oh yah Pak Sopirnya gak tua yah umurnya sekitar 25 tahun.
" emb ..., gak papa Mbak." ku coba tersenyum. Hatiku terasa sangat sesak saat ini.
" Lhoo! Udah sampai yach Mas." tanyaku kepada Pak Sopir.
" Belum Deg, Mbaknya Adek menyuruh saya untuk menepi sebentar karna adek tadi tiba-tiba nangis pas tidur. Jadi Mbaknya Adek khawatir." ucap Pak Sopir yang bernama Deni itu.
Aku tersenyum dan menggeleng sebagai jawabanku. Aku meminta kepada Mas Deni untuk melanjutkan perjalanan lagi. Tinggal beberapa menit aku dan Mbak Asri akan sampai pada tempat tujuan.
Mbak Asri yang tau aku sedang dilanda kegugupan langsung menanyakan lagi. Ku yakinkan kepada Mbak Asri kalau aku tidak apa-apa.
Empat puluh menit sudah perjalanan ku tempuh. Kini sudah terlihat pelataran rumah Eyang ku. Tampak didepan sana ada Eyang kakung dan Eyang putri yang menunggu kedatangan cucu-cucunya.
Tidak ada barang yang cukup banyak hanya oleh-oleh untuk dikasihkan ketetangga dan saudara. Eyang menyambut kedatangan kita dengan suka cita. Semenjak kepindahanku, aku tidak pernah lagi mengunjungi beliau. Hanya Mbak Asri dan Bunda yang sesekali menjenguknya.
" Cucu Eyang sudah tambah gede saja. Gimana kabarnya nak. Bunda dan Papa gimana kabarnya." tanya Eyang putri sambil memeluk ku.
" Alhamdulillah, Bunda sama Papa baik Eyang, sebenarnya tadi Nunda mau ikut tapi Papa kasian kalau ditinggal sendiri." jawabku. Kemaren sebenarnya Bunda ingin ikut tapi Papa tidak bisa.
" Kamu, gimana kabarnya ndok! Gimana udah ada calon." goda Eyang kakung ke Mbak Asri.
" Belum Eyang, Asri tidak mau memikirkan itu dulu. Saat ini Asri ingin membahagiakan Bunda, Papa, sama Adek kecilku ini (sambil menatap kearahku)." masih meluk Eyang Kakung dan Eyang Putri.
Mas Deni juga dipersilahkan masuk dulu untuk istirahat oleh Kakung. Setelah menyapa aku langsung menuju kamarku, begitupun Mbak Asri juga menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamarku.
__ADS_1
Eyang putri membuatkan kopi Mas Deni dan Eyang kakung yang diruang tamu. Mbak Asri keluar terlebih dulu untuk membantu Eyang Putri. Aku masih merebahkan tubuhku ditempat tidurku.
Ku arahkan pandanganku melihat kamarku. Masih sama seperti dulu, yang membedakan hanya cat yang sekarang diganti dengan walpaper dinding. Tempat yang penuh dengan kenangan indah.
Didinding kamarku ada foto ku dan Mas Fahmi yang sengaja dicetak dengan ukuran besar. Ku langkahkan kakiku menghampiri foto besar itu. Dipojok bawah terdapat tulisan TERSENYUMLAH WALAUPUN KU TAK ADA.
Aku tak pernah menyadari arti dari tulisan itu sebelumnya. Tulisan tangan Mas Fahmi yang entah dari kapan dia tulis. Mungkin, karna aku tidak pernah menyadari jika ada satu pesan yang sengaja dia tulis kecil.
Ku usap tulisan yang berbentuk tulisan latin itu.
" Apa ini pesan yang dulu kamu bilang Mas. Apa pesan ini sudah ada dipikiranmu sebelum kejadian itu merenggutmu juga merenggut Ibu dan Ayah." ku bungkam mulutku agar suara tangisku tidak terdengar oleh Eyang dan lainnya.
flash back
Saat ini Mas Fahmi mengajak aku untuk mencetak salah satu foto yang kita ambil. Foto yang menampilkan sebuah senyuman yang penuh arti. Sebuah foto yang akan menjadi teman tidurku setiap malamnya.
" Vey, jika dikemudian hari Mas tidak bisa lagi menjagamu. Mas harap kamu akan selalu tersenyum seperti ini. Mas tidak akan tenang jika melihat kamu sedih. Janji sama Mas Fahmi kalau kamu akan selalu tersenyum." pinta Mas Fahmi.
" Ngomong apa sih Mas? Mas Fahmi tidak akan pergi kemana-mana. Mas Fahmi akan terus bersama denganku. Bantu Vey yang lemah ini Mas." kataku sambil memeluk erat Mas Fahmi.
" Nanti, kalau fotonya sudah jadi jangan dipasang dulu yah, tunggu waktu yang tepat ada pesanku disana." sambung Mas Fahmi kembali.
flash back on
Sekelebat memori itu masih aku ingat dengan jelas. Tapi, aku tidak akan pernah menduga jika pesan yang dia maksud adalah pesan terakhir yang dia ucapkan.
Ku alihkan pandanganku lagi menuju meja belajar yang dulu menjadi tempat belajarku. Buku-buku masih tertata dengan rapi tidak ada debu atau pun sarang laba-laba.
" Masih rapi saja nih." ku raba satu persatu tata bukuku. Hingga akhirnya tanganku berhenti pada satu buku yang tidak pernah aku lihat.
NOTES: TIDAK SEMUA ORANG BISA MENGHINDARI SEBUAH TAKDIR.
Jangan lupa LIKE, SARAN dan VOTE kalau berkenanππππ
aku tidak memaksa para readers untuk menyukai karyaku. aku juga tidak memaksa para readers untuk mendukungku.ππππ
__ADS_1
sewajarnya saja lah,suka Alhamdulillah,,,,tidak suka aku cuman bisa ngasih senyumπππ