SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
PAGI YANG PENUH UJIAN


__ADS_3

Bahu yang bergetar seketika terhenti. Dengan gerakan cepat Vey menghilangkan jejak air di kedua pipinya.


"Siapa, Mas?" tanya Vey.


"Kamu. Tadi kalau tidak menangis lantas, kenapa bahumu naik turun?" Vey langsung menggeleng dan berdiri berjalan keluar kamar.


Kehidupan baru mulai dilakukan Vey. Setelah menikah Vey tidak terlalu takut untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri.


Bangun awal dan memulai aktivitasnya. Dengan cekatan Vey memulai semuanya tanpa kesulitan. Hari ini Vey memasak makanan kesukaan suaminya.


Dengan cekatan dan rapi Vey bergelut ria di dapur barunya. Embun pagi nampak terlihat di kaca jendela dapur miliknya.


Vey berhenti sejenak menatapnya kemudian mengusap dengan punggung telapak tangannya. Senyumnya tergambar jelas di pantulan kaca depannya.


"Terima kasih sudah mempertemukan ku dengan dia ya Robb. Terima kasih atas segalanya," syukur Vey tidak pernah terhenti terucap.


Tidak pernah terlintas sedetikpun dibenak Vey. Pernikahan ini terjadi dengan begitu cepat. Meski sebelumnya ada proses yang harus dilalui.


Sampai detik ini pun Vey berharap Devano suaminya bisa sedikit mengingatnya. Vey tahu betul meski Devano terlihat biasa.


Dalam dirinya tampak sangat asing. Tidak ingin memikirkan hal negatif Vey menggeleng berulang kali dengan mata terpejam.


Sekali lagi Devano menangkap kelakuan Vey aneh. Pelan Devano menghampiri sang istri. Vey yang asyik menggeleng dengan mata tertutup tidak melihat bayangan Devano dibelakangnya.


"Copot nanti kepalamu."


Mata Vey membelalak dan menemukan bayangan suaminya di kaca jendela. Wajah datar Devano begitu sangat tampan.


Melihat keterkejutan Vey, Devano langsung meraup wajah polos istrinya.


"Mas, apaan sih!" sebal Vey.


"Orang natap Wajah suaminya sendiri gak boleh," rajuk Vey memotong wortel tidak sesuai ukurannya.


Tanpa bicara Devano merebut pisau di tangan Vey. Menggantikan posisi Vey juga menggeser sedikit tubuh istrinya.


"Mas, masih pagi lho jangan bikin kesel kenapa sih? Siniin pisaunya?" pinta Vey merebut kembali pisau ditangan mas tampannya.


"Lama." sahut Devano memotong ulang wortel bekas potongan Vey menjadi kecil membentuk dadu.

__ADS_1


"Bener yah, Mas. Dari tadi ganggu aja ih," cemberut Vey menarik kursi di belakangnya.


Duduk bersila dengan bibir monyong. Devano tersenyum tipis melirik kelakuan istrinya. Pagi hari sangat asyik menggoda wanita manis di sampingnya.


Wanita yang beberapa hari ini menemani tidurnya. Menjadi guling hidup disetiap malamnya. Menghangatkan ketika musim dingin tiba.


Selimut bulu jauh kalah pastinya dengan hangatnya bulu yang memiliki kulit dan nafas. Tuntas memotong wortel Devano mengambil panci kecil.


Letak panci itu di dekat kulkas. Itu artinya Devano kudu melewati Vey yang cemberut terduduk.


Tidak menengok, tidak menatap Devano langsung lewat. Membuat Vey semakin cemberut dan kesal.


Klontang!


Sontak membuat Vey bangun dari duduk kesalnya. Devano dengan sekuat tenaga menahan agar bibirnya jangan sampai membuat sebuah lengkungan tampan.


Panci sudah ditangan Devano lupa mengambil sendok sayur. Kembali Devano sengaja menumpahkan tempat sendok.


Vey yang melihat itu semakin dibuat kesal. Pasalnya, Vey sudah merapikan alat masak satu persatu. Setelah selesai memakai Vey langsung mencucinya.


Sehingga tidak nampak berceceran peralatan dapur kotor. Sudah diambang batas Vey langsung mengambil tempat sendok dengan wajah kecutnya.


"Mas, wong ya sendok sayur gede gini kok ya. Astagfirullah, suami tampanku. Untung rupamu tampan Mas. Coba aja jelek kayak tukang sayur. Minggir!"


"Ini belum seberapa," gimana Devano yang terdengar oleh Vey.


"Apanya, Mas. Ngomong lagi coba!"


Devano tidak mendengarkan Vey yang terdengar sedang menggerutu kecil. Lima menit sudah semuanya masak ditangan Devano.


Vey mencuci peralatan yang kotor. Dan merapikan kembali ketempat semula. Harum wangi tercium. Kepulan asap keluar menyeruak dari panci dan masakan lainnya.


Cacing-cacing diperut keduanya sudah menunggu sedari tadi. Melihat semuanya sudah tersaji di meja makan. Keduanya duduk berhadapan.


"Enak tidak yah," ujar Vey mengejek masakan suaminya.


"Tidak usah makan. Biar aku saja yang menghabiskannya," sahut Devano sambil menggapai entong nasi.


Vey segera menampik tangan suaminya yang masih diudara. Tangan Devano kembali pada posisi semula. Dengan telaten dan tanpa malu Vey mengambilkan nasi dua entong penuh dipiring suaminya.

__ADS_1


Devano terkejut namun dengan cepat merubah mimik wajahnya biasa saja.


"Ayo mas, habiskan yah. Kasian makanannya nanti nangis!" titah Vey tersenyum simpul.


Dirinya juga mengambil nasi diletakkan di piring miliknya. Sayur kangkung asem dikasih wortel kesukaan Vey. Sambal orek, ikan asin, peyek udang kecil.


Semenit kemudian Devano sudah mulai tidak bisa meneruskan makannya. Vey terkekeh melihat suaminya begah karena berusaha menghabiskan makanannya.


"Hem, wong cuma 2 entong nasi aja sudah mau muntah. Gini kok mau menghabiskan semuanya. Vey, kok mau ditipu," mengambil piring suaminya yang masih tersisa banyak makanannya.


Tanpa bicara, tanpa jijik makan bekas suaminya. Vey melahapnya dengan santai. Berulang kali tangan dan mulutnya bergantian memasukkan kedalam gua nikmatmya.


"Hey, Dek. Kamu itu, wanita apa laki sih?"


"Eman Mas. Mubazir kalau tidak habis. Salah sendiri nantang aku. Lupa kalau istri sampean ini doyan makan besar. Apalagi kalau sedang dalam mode in kesal bin sebel. Makin jadi aku," ucap Vey dengan mulut yang penuh.


Devano menepuk dahinya dan menggeleng. Dadanya dielus melihat istrinya yang lahap menghabiskan sisa makanannya.


Suami istri yang benar-benar konyol dan tidak bisa ditebak kejahilannya. Nyantap menyantap sudah selesai. Kini Vey siap melanjutkan aksinya yang kedua.


Berkebun dan menyirami tanamannya adalah hobi baru Vey. Taman yang tidak begitu luas namun nyaman. Membuat pemandangan sejuk di setiap mata memandang.


Bunga tulip, bunga mawar dan tanaman lainnya memenuhi taman sederhana Vey. Rimbun tapi masih tampak rapinya.


"Semoga tidak ada pengganggu lagi," harap Vey sambil terus menyiram bunganya.


Bersenandung membuat Vey merasa terhibur. Apalagi sambil menyirami bunga mawar kesuakaannya.


Dari dalam Devano melihat istrinya. Tatapannya sungguh dalam. Punggung tegak itu terlihat kuat.


Nyut!


Denyutan hebat mulai dirasa Devano kembali. Mencoba tenang dan tidak mengganggu istrinya. Devano berjalan merayap sambil tangan satunya memegang kepalanya.


Setiap kali Devano berusaha mengingat sedikit. Rasa sakit dan denyutan itu terasa menghantam kepala belakangnya.


Keringat dingin keluar membasahi seluruh wajahnya. Di depan kotak P3K Devamo langsung meraih botol obat miliknya. Dengan tangan bergetar Devano mencoba mengeluarkan dua biji obat.


Saking sakitnya Devano sampai tidak kuat berdiri. Kakinya lemas dengan susah payah Devano berusaha mengambil namun tidak kunjung jarinya menggapai.

__ADS_1


Sudah tidak bisa ditahan lagi Devano menumpahkan semua obatnya. Rintihan kecil terdengar keliar dari bibir pucatnya.


Vey yang masih sibuk menyiram dan menanam tanaman barunya. Tidak tahu dengan kesakitan suaminya.


__ADS_2