SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
SESUATU YANG TIDAK MUDAH HILANG ITU ADALAH CINTA


__ADS_3

Akhirnya mereka semua berkumpul jadi satu. Bukan rencana dan tidak direncanakan. Tetapi, seperti kumpulan semut yang datang tiba-tiba. Irene sudah berganti baju yang dipinjamkan oleh karyawan perempuan di warkop.


Sumpah demi apapun Vey tidak pernah menyangka melihat kemesraan kedua sahabatnya itu. Meskioun sudah jelas hatinya sudah dipenuhi dengan cinta Devano.


Tapi, Vey tidak pernah tahu bahwa masih ada tempat yang masih kosong. Vey, bukan bermaksud untuk menyisahkan tempat itu. Hanya saja perasaan yang tidak seharusnya ada. Kini sedikit muncul kembali.


Jahat, mungkin itu kata yang akan temannya katakan jika tahu. Rasa yang hampir hilang dan sirna itu kini mencoba menghampiri tempat kosong itu. Vey, memutuskan untuk ke kamar kecil dan berpamitan ke Devano dan lainnya.


"Dev, aku kebelakang sebentar yah," pamit Vey langsung berdiri dan melangkah pergi.


Di tengah jalan menuju kamar mandi Vey di hadang oleh Wildan. Sibuk dengan ponselnya Vey tidak memperhatikan jalan yang sengaja di tutup oleh tubuh Wildan.


"Mas, maaf tolong minggir dong," pinta Vey yang masih menatap layar ponselnya.


Melirik ke bawah dan semakin naik ke atas. Tepat jarum jam kedua mata Vey bertatapan dengan manik mata elang Wildan. Mata yang dulu pernah mewarnai hari-hari Vey dan menguatkan Vey.


"Wildan," lirih Vey. Jantungnya seakan berhenti berdetak.


Untuk pertama kalinya lagi Vey dan Wildan bertatap sangat dekat seperti ini. Mata netranya mencoba masuk ke netra wanita yang masih tertulis indah dihatinya.


Tanpa bicara Wildan menarik tangan Vey keluar dari arah samping. Tanpa mereka sadari Devano melihat Wildan lelaki sekaligus sahabatnya menarik tunangannya untuk ikut dirinya.


Tidak ingin Tyo dan Irene curiga Devano berusaha untuk tetap bersikap biasa. Bibirnya masih mengulum senyum yang mampu menghipnotis para perempuan yang melihatnya.


Niat Vey yang hendak ke kamar mandi menjadi terurungkan karena Wildan. Ingin menolak tapi Vey tidak mampu. Karena jelas Vey juga ingin berbicara dengan sahabat pertamanya itu.

__ADS_1


Sampai saat ini mungkin mulut Vey dan separuh hatinya menganggap Wildan sebagai sahabatnya. Tapi, separuh hatinya lagi menginginkan lain. Bukan salah hati yang separuh itu untuk mengosongkan tempat untuk nama lain.


Karena pada dasarnya hati bisa dimiliki oleh siapa saja. Akan tetapi, cinta tidak untuk terbagi dan dipaksa. plin-plan mungkin perasaan yang Vey punya saat ini.


Tidak ingin membuang waktu Vey memberanikan diri untuk membuka percakapan terlebih dahulu. Hanya seledar basa-basi yang mungkin bisa menyalurkan rasa rindunya kepada sahabat yang selama ini melarikan diri dari dirinya dan hidupnya.


"Apa kabar kamu Wil?" basa-basi Vey yang merasa canggung dan takut. Takut jika pertemuannya ini melukai Devano-lelaki yang sebentar lagi meminangnya.


"Baik," jawab Wildan singkat dan pastinya dingin.


"Syukurlah kalau begitu," putus Vey yang hendak pergi meninggalkan Wildan tali sayangnya cekalan Wildan menghentikannya.


Ada perasaan yang aneh ketika dua kali pergelangan tangannya di pegang Wildan. Vey tidak tahu dan tidak ingin salah dalam mengartikannya. Hanya saja Vey berusaha untuk membentengi hatinya untuk Wildan. Meski Vey tahu itu semua hanya benteng yang tipis.


"Apa kamu pernah merasakan sakit ketika dulu aku patah hati, Vey?"


"Tidak ada sahabat yang bahagia jika salah satu sahabatnya terluka. Aku ingat betul dimana aku merasa terkucilkan, kamu dan yang lainnya yang membantuku untuk bangkit. Iya, aku merasakan itu Wil, dan aku tahu bagaimana rasanya itu,"


Memang benar, pertama kali Vey merasa dikucilkan dan dijauhui. Wildan dan Tyo lah yang selalu membantunya. Bukan hanya dua lelaki yang pernah menaruh hati kepadanya. Semua orang juga turut membantu Vey untuk bangkit dan mengembalikan semangat hidup Vey.


"Tapi bukan berarti semuanya terbalaskan Wil. Ada kalanya kita harus ikhlas dan rela demi kebahagiaan orang yang kita sayangi. Maka dari itu aku sangat menyayangkan dirimu yang begktu saja menghilang tanpa tahu keberadaanmu selama ini. Jujur, aku sangat kecewa dengan kepergianmu itu,"


Vey berkata dengan posisi membelakangi Wildan yang duduk dan tangannya masih tidak ingin melepas pergelangan tangan Vey. Sedang, di bilik bambu yang tidak jauh ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan mereka berdua.


"Aku tahu Vey. Tapi tidak mudah untukku melakukan itu ketika aku merasa, cintaku waktu itu terbalas, Vey. Betapa bahagianya aku waktu itu sampai melupakan rasa yang pernah ada untuk wanita lain."

__ADS_1


Wanita lain yang dimaksud Wildan adalah Vey. Dimana Wildan dulu sempat mengutarakan isi hatinya yang tidak terbalas.


"Aku bisa menghapus rasa cintaku kepadanya tapi tidak untuk cintaku yang satu ini. Dari dulu sampai sekarang," imbuh Wildan.


"Berarti dirimu tidak jauh berbeda dengan dirinya. Yang dicintai namun tidak mencintai dengan tulus. Terus, selama itu apa yang kamu rasakan berarti bukan cinta yang dulu pernah membuatmu berubah. Jangan pernah mempermainkan sebuah perasaan Wil,"


"Vey, kalau dia bisa mempermainkan perasaanku. Kenapa aku tidak bisa mempermainkannya juga," sentak Wildan dibarengi dirinya yang berdiri menghadap ke punggung Vey.


Vey semakin tersentak mendengarnya. Tidak, selama ini Wildan adalah lelaki yang selalu Vey banggakan. Tidak dipungkiri jika Wildan adalah lelaki yang pernah Vey cintai juga. Bukan lelaki yang suka balas dendam karena hatinya yang tersakiti.


Kehidupan dikota membuat Wildan menjadi sosok lelaki yang semakin keras dan berubah. Wildan semakin arogan dan tidak bisa diartikan. Bukan hanya datar Wildan juga sudah berubah menjadi sosok lelaki yang sangat gampang melukai.


"Jangan merasa kalah dengan rasa yang melukaimu Wil. Jangan merubah jati dirimu yang sebenarnya dan membuat dirimu yang lain. Wil-," ucapannya terpotong dengan suara Wildan yang memanggil namanya.


"Vey," Wildan membalikkan tubuh Vey untuk menghadapanya. Tetapi Vey tidak ingin melihat wajah Wildan.


"Katakan kepadaku kalau kamu benar-benar mencintainya. Katakan Vey?"


"Apa maksudmu?"


Netra itu saling bertemu pandang. Ada yang Wildan temukan dalam bola mata Vey. Rasa cinta untuknya masih tersimpan jelas di depan matanya.


"Heh, Vey. Jangan membohongi dirimu juga hatimu. Aku tahu betul tidak gampang buatmu untuk mencintai lelaki lain. Jujur lah dengan ku," pinta Wildan memaksa untuk jujur.


Setitik air bening menerobos keluar dari tempatnya. Air mata yang sejak tadi Vey bendung dan simpan. Kini, keluar dengan begitu lancarnya. Dihadapan Wildan sehingga, membuat lelaki itu semakin yakin.

__ADS_1


Kalau Vey hanya mencintai dirinya bukan Devano. Vey langsung menghapus paksa air matanya dan menghempaskan kedua tangan Wildan yang dibahunya.


"Cinta atau tidaknya aku itu semua bukan urusanmu. Aku sudah membuang semua perasaan cintaku yang selama ini aku tutupi. Dan, saat ini aku, aku, aku sangat mencintainya," sangkal Vey memalingkan wajahnya kearah lain.


__ADS_2