SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
RENCANA PERGI BARENG


__ADS_3

"Mbak Vey, apa nanti sore ada waktu luang?" tanya Devano ketika semuanya sudah berada di kantin.


Vey yang asyik menyuapkan makanan favoritnya hanya menggeleng. Mulutnya penuh dengan makanan yang berbentuk bola bekel.


Alisya menyenggol lengan sahabatnya. Matanya melotot penuh ke arah Vey yang kedua pipinya sudah mengembang karena benda bulat itu.


Vey langsung menutup mulutnya dan segera mengunyah makanannya debgan cepat. Ditelannya benda bulat yang masih dirasa tidak terlalu halus.


Kebiasaan buruk Vey membuat Alisya dan Nindi menepuk jidatnya bersamaan. Didepan lelaki yang tampan-tampan seperti ini Vey makan dengan tidak sopannya.


"Hee hee, maaf!" cengir Vey mengambil tisu dan mengelap mulutnya. Devano dan Rizal hanya melongo melihatnya.


"Ternyata orang cantik belum tentu makan dengan anggun yah, Dev!" bisik Rizal yang terdengar oleh Nindi dan Alisya.


Vey, hanya menyengir kuda sambil menyeruput minumannya.


"Maaf yah, kalau kalian hatis ilfil melihat sahabat saya," kata Alisya tidak enak hati.


"Tidak apa-apa mbak! Semua orang pasti memiliki sisi buruk dan sisi bagus bukan begitu mbak Veyo?" tanya Davino kepada Veyo.


"Mampus," gumam Nindi melihat ke arah Veyo yang seakan tersindir.


"Ehem, yah, yah ini lah aku. Aku nyaman kok dengan diriku yang seperti ini. Dan sengaja memang aku buat demikian." ujar Vey yang semakin membuat Alisya dan Nindi menunduk.


"Oh yah, tadi kamu bilang apa?" tanya Vey kepada Devano. Devano mengangkat alisnya heran bukankah tadi Vey sudah menjawab pertanyaannya.


"Eh, bukannya tadi kamu menggeleng Vey pas Devano tanya sama kamu?" ucap Rizal.


"Memangnya nanyak apa?" tqnya Vey dengan santainya. Sedang kedua perempua yang disampingnya sudah ingin sekali memukul kepala Veyo.


Devano hanya tersenyum melihat perempuan yang unik menurutnya.


"Saya tadi nanyak, apakah nanti sore mbak Vey tidak ada acara?" ulang Devano


"Oh! Memangnya kenapa?" tanya Vey yang tidak langsung menjawab.


"Tidak, mas Vey tidak ada acara nanti sore," sanggah Alisya yang sudah tidak bisa menahan kegemasannya.


"Bagaimana kalau nati sore saya menjemput mbak Vey,"


"Jemput saja mas, bu le sama pak le pasti mengizinkannya!"


Vey langsung menatap Alisya yang terus saja menjawab. Nindi hanya terkekeh melihat Vey yang otaknya sudah mulai konek dengan pembicaraannya.


"Eh, Sya!"


"Sudah," cegah Alisya


"Memangnya jam berapa mas?"


"Enaknya jam berapa?"

__ADS_1


"Memangnya kamu mau mengajak cewek sedeng ini kemana sih?" tanya Rizal yang akhirnya penasaran.


"Ke kafe dekat alun-alun."


"Mau ngapain kesana?" tanya Vey


"Mau ngemis Vey," jawab Alisya, Rizal, Nindi dan Devano. Keempat orang itu tidak habis pikir ternyata Vey yang terlihat cantik otaknya masih belum juga konek.


"Sudahlah mas jangan hirauin Vey. Apa kita boleh ikut?" tanya Nindi.


"Silahkan, tambah banyak orang kan jadi tambah asyik," jawab Devano. Nindi dan Alisya langsung bertos ria.


Meninggalkan Vey yang masih memandangnya dengan pikiran yang masih bertanya-tanya. Diseruputnya lagi jus hijau miliknya dan langsung berdiri.


"Eh, mau kemana Vey?" tanya Rizal.


"Ke kamar mandi, kenapa mau ikut kamu?" jawab Vey ketus. Rizal langsung menggeleng cepat.


Alisya dan Nindi hanya menertawakan Rizal yang terkena semprot oleh Veyo. Devano terus memandangi tubuh mungil Vey yang menghilang di balik tembok kantin.


"Eh, Vey kenapa sih lola banget," tanya Rizal.


"Mungkin dia kepikiran ponselnya," jawab Alisya


"Sebegitu cintanya dia sama ponselnya?" ujar Rizal


"Gimana yah, ponsel itu salah satu ponsel kenangan menurut Vey. Di dalamnya banyak sekali foto-foto sahabatnya yang berada di desa. Terutama foto seseorang yang pernah membuat Vey bisa seceria ini lagi." jelas Alisya.


"Maaf sebelumnya, memangnya bangkit dalam hal apa?" tanya Devano.


"Trauma gitu maksudnya," tanya Rizal yang merasa aneh.


"Bukan trauma sih, hanya saja Vey tidak ingin mengingat kenangannya dulu yang sering sekali mengunjungi kafe di desanya. Eh bukan kafe, warkop katanya sih." tutus Alisya bergantian memberi penjelasan.


"Vey anaknya suka sekali dengan bernyanyi. Bahkan pertama kali aku mengenal Vey, saat mendengar dia sedang nyanyi di taman belakang. Suaranya sangat merdu sekali. Aku sempat merekam suaranya." ungkap Nindi mengeluarkan ponselnya dan mencari rekaman suara Vey.


Di tekannya rekaman suara Vey yang ingin di dengarkan kepada dua lelaki di depannya.


"Aku mengerti


Perjalanan hidup yang kini kau lalui


Ku berharap


Meski berat, kau tak merasa sendiri


Kau telah berjuang


Menaklukkan hari-harimu yang tak mudah


Biar ku menemanimu

__ADS_1


Membasuh lelahmu


Izinkan kulukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis, tertawa


Biar kulukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


'Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia


Aku di sini


Walau letih, coba lagi, jangan berhenti


Ku berharap


Meski berat, kau tak merasa sendiri,"


Devano dan Rizal yang mendengar suara Vey saling pandang. Mereka berempat tidak sadar jika Vey sudah kembali dari kamar mandi.


Vey termenung mendengar suaranya yang direkam oleh seniornya. Di tempatnya taxi sudah penuh dengan teman-teman kampus lainnya yang turut mendengar suaranya.


"Haduh, dasar kakak senior tidak ada akhlak." gumam Vey. Salah satu dari kerumunan orang di mejanya tadi. Melihat Vey, yang berbalik arah lagi.


"Vey, mau kemana?" teriak Beni kakak senior seangkatannya. Vey yang terpanggil tidak menghiraukan suara seniornya memanggilnya.


Semua yang sedang menikmati suara Vey langsung menengok ke bekakang dimana Vey yang sudah dekat dengan pintu keluar. Vey, menengok sebentar kemudian berlari sebelum dia semakin malu.


"Dasar si Nindi ember, kain pel,air comberan, air kobokan. Ih, kalau saja aku tahu dia punya rekaman suaraku, sudah ku pastikan untuk di berikan ke bunda Maya." gerutu Veyo yang sudah berada di parkiran.


"Kok dikasihkan ke bunda Maya yah, bukan aku hapus. Haduh, auk ah terang." gerutu Vey yang langsung menyalakan sepeda motornya.


"Vey, tunggu," teriak Alisya yang sudah tidak di dengar Vey.


"Marah gak yah si Veyo?" takut Nindi.


"Gak, Vey gak bakalan ngamuk kok. Tenang saja?" jawab Alisya.


Devano dan Rizal yang baru sampai sudah tidak melihat orang yang dikejarnya.


"Hah, di-ma-na- ce-wek se-deng i-tu?" tanya Rizal dengan nafasnya yang tersengal-sengal.


"Sudah amblas dia!" tutur Alisya.

__ADS_1


'Jadi, suara itu milik Veyo,' batin Devano.


Devano pernah tanpa sengaja mendengar seseorang yang sedang bernyanyi di teras rumahnya.Devano tidak tahu suara itu milik Vey. Saat Devano ingin meminta surat kepada pa le Veyo.


__ADS_2