SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
BERWISATA KEMBALI


__ADS_3

Semuanya sudah dipersiapkan oleh Bunda dan mbak Asri. Fatih pun juga mengganti bajunya dikamar tamu. Tinggal menunggu Vey yang masih berada didalam kamarnya. Karna lama menunggu mbak Asri memanggil Vey.


"Dek, kamu sudah selesai belum keburu panas lho nanti," teriak mbak Asri dari luar kamar Vey.


"Iya mbak Vey sudah selesai kok sebentar yah," jawab Vey tak kalah kencang. Belum sempat mbak Asri melangkah Vey membuka pintunya.


Dipandangi Vey yang memakai baju tunik berwarna pink, sangat cocok dengan kulitnya. Rambutnya diikat dua ditambah satu jepit love yang melekat disana. Tangannya mententeng topi bundar sperti topi pantai. Mbak Asri menarik tangan Vey yang mau melangkah mendahuluinya.


"Dek, kamu yakin ingin memakai baju kayak gini. Mending ganti deh dek, disana sangat panas banget lho deg. Ganti lagi gih makek celana panjang sama atasan biasa saja yang lengan panjang," suruh mbak Asri. Vey melihat sekilas penampilan memutar sedikit tubuhnya membuat baju bawahnya mengikuti arah goyangan tubuh Vey.


"Salah yah mbak penampilanku kayak gini, tapi ini kan lengannya juga panjang mbak. Aku juga bawa topi kok, jadi gak bakalan kepanasan mbak," ujar Vey menolak mengganti bajunya.


"Enggak, pokoknya kamu harus ganti sekarang. Kalau tidak mau aku teriak nih manggil Bunda," ancam mbak asri.


"Aku sudah mencoba nyarik yang pas mbak, cuman ini yang pas. Cocok kok dibuat pergi wisata, ditambah topi ini," mempraktekkan memakai topi yang dia bawa dan memutar lagi tubuhnya.


"Bundaa ....!" teriak mbak Asri kemudian. Vey yang memutar-mutar tubuhnya langsung diam mematung.


"Ada apa siih mbak kok teriak-teriak gitu, bikin Bunda sama masmu kaget aja. Ada apa memangnya, hm," tanya Bunda yang terlihat panik. Vey masih sama dengan posisinya yang menghadap kebelakang.


"Lho Vey, kenapa kamu membelakangi mbakmu kayak gitu ndok. Balik sini, Bunda mau lihat," sambung Bunda lagi. Vey membalikkan tubuhnya tapi kepalanya menunduk. Topi bulat berwarna pink ditarik lebih maju agar wajahmya tidak terlihat oleh Bunda dan Fatih.


Pas Vey berbalik tawa ketiganya langsung pecah melihat ekspresi Vey yang malu. Penampilan yang dibilang salah kostum membuat dia merasa malu.


"Kamu kenapa makek baju kek gini Vey, salah ngambil atau sengaja sih kamu," tanya Fatih menahan tawanya.


"Ganti sana Ndok, makek yang bener bajunya. Pantes baju itu dibuat kepesta nak, ih kok tumben sih anak Bunda salah milih kostum," suruh Bunda langsung mendorong tubuh Vey masuk.


Vey menurut dengan apa yang dijawab Bundanya, kepalanya masih menunduk dalam.Akhirnya Vey mengganti bajunya dengan celana panjang dan atasan pendek ditutupi cardigan lengan panjang yang agak tipis.


"Nah, gini kan cocok sama temanya Dek," ucap mbak Asri yang masih menunggui Vey berganti bajunya. Vey tersenyum dan merangkul lengan mbak Asri berjalan menuju depan.

__ADS_1


Setelah sudah siap semuanya mereka bertiga berpamitan kepada Bunda. Menyalami tangan yang kulitnya yang hampir meneriput. Untuk kemudian satu persatu menaiki mobil yang dibawa Fatih.


Mbak Asri duduk disamping Fatih sedangkan Vey duduk santai dibelakang. Seperti sebelumnya Vey selalu memasang headset di masing-masing lubang telinganya.


Fatih menjalankan mobilnya kerumah Wildan dan Tio terlebih dulu untuk kemudian menyusul kerumah Irene. Setelah formasi sudah terasa lengkap, Fatih mulai menjalankan kuda besi nya mengukur jalanan yang sedikit ramai.


Dalam perjalanan tidak ada percakapan yang bisa mencairkan suasana. Mbak Asri dan juga Fatih menatap kearah depan, Irene sesekali melihat Vey yang sibuk dengan gamenya. Wildan dan Tio masing-masing menyandarkan kepalanya di pinggiran jendela mobil.


Hingga tiba-tiba terdengar suara merdu dari salah satu penumpang. Sapa lagi kalau bukan Veyo Putri Natali. Mendendangkan salah satu lagu yang dia dengar.


🎢🎢🎢


nae mame gipi gadeuk chabeorin


gongheohan sesang nareul guhaejwo


I wanna reset, I wanna reset, I wanna reset


nae soneul jaba jul saram eobtna


I wanna reset, I wanna reset, I wanna reset


Semuanya terhibur dengan nyanyian yang tidak mereka tau artinya apa. Tapi, mereka menikmati suara dari Vey, cukup menghibur diperjalanan panasnya.


"Kamu nyanyi lagu gitu ngerti artinya Vey," tanya Irene yang dari tadi ingin menanyakan arti lagu tersebut.


"Sedikit Ren, hee hee!" jawab Vey dengan cengiran.


Mereka yang mendengarnya pun tertawa, suara tawa Tio menggema didalam mobil.


"Memangnya ngaruh yah, Ren." tanya balik Vey.

__ADS_1


"Yah egak sih, cuman kan kalau kita ingin meresapi lagi kita harus tau makna dari lagu tersebut," jelas Irene.


"Oh, gitu yah!" jawab Vey.


Dia melanjutkan kegiatannya bermain game dan bersenandung sepelan mungkin. Menyanyi sebenarnya hobi Vey dengan Fahmi dulu. Sepeninggalnya Fahmi Vey sudah terlihat jarang sekali bernyanyi seperti saat ini. Dia hanya memutar dan mendengarkannya tanpa mau ikut bernyanyi.


"Wil, kenapa kamu diem aja sih. Nyanyi duet sama aku yuk. Suaramu juga gak kalah bagusnya," ajak Vey memutar tubuhnya untuk menghadap Wildan.


Wildan melihat sekilas dan kemudian menegakkan tubuhnya menghadap sepenuhnya kearah Vey.


"Lagu apa yang sekarang kamu putar memangnya. Jangan lagu yang kayak tadi yah aku gak bisa ngikutin Vey," terus terang Wildan memang tidak mengerti dengan bahasa lagu yang tadi Vey nyanyikan.


"Pilih aja sendiri nih," memberikan ponselnya kepada Wildan.


Terlihat Wildan menaikkan scrollannya keatas memilih lagu apa yang sekiranya enak dinyanyikan. Didalam ponsel Vey banyak pilihan lagu, dari yang trend di jaman nya sampai lagu yabg sedang viral saat ini.


Saat sudah menemukan lagu yang sekiranya pas untuk suasana sekarang Wildan mulai memencet tobolnya. Mulai terdengar alunan musik yang Wildan pilih.


Lagu yang dipilih Wildan lagu ciptaan teh melly yan pernah jadi soun track film ayat-ayat cinta yang pertama. Wildan menunggu bait selanjutnya yanga kan dinyanyikan. Fatih, Mbak Asri, Tio dan juga Irene sangat menikmati dua suara yang sangat merdu ini.


Irene mengangkat kedua tangannya dan menggoyang-goyangkan tangannya ke kanan dan ke kiri seperti melihat konser duet antara Vey dan Wildan. Suasana didalam mobil pun kini riuh dengan siulan Tio dan tepukan tangan dari Irene dan Mbak Asri.


"Sudah, suaranya disimpan dulu lagi sebentar lagi kita sudah sampai tujuan lho," ucap Fatih yang sebentar menengok kebelakang.


Vey, tertawa menutup bibirnya karna dari berangkat sampai hampir tiba dia tidak berhenti menyanyi. Untungnya semuanya menerima suara merdu Vey. Setengah jam mereka sudah sampai ditempat tujuan, satu persatu mulai memijak tempat wisata banyu mili.


Senyum sumringah terpancar dari wajah ayu Vey. Sudah lama sekali bagi dia tidak pernah melihat keindahan alam seperti ini. Tempat yang sangat asri dan damai, meskipun terik matahari mulai menyapa kulit mereka.


Semomuanya mulai berkeliling mencari tempat yang teduh, mengistirahatkan sejenah tubuhnya.


Sungguh indah ciptaanNYA mampu menghipnotis siapa saja yang melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2