
πΈπΆ
Takkan pernah terindah
Takkan pernah terabaikan kau hancurkan diriku
Kini pun kau tlah pergi
Menjauhi diriku untuk selama-lamanya
Takkan pernah terindah
Takkan pernah terabaikan
Kau hancurkan diriku
Walau kau tak pernah mengerti
Akan arti cinta ini di hatiku
Rasa ini yang tertinggal
Selamanya memberikan luka pada hatiku
Jangan kau biarkan diriku menderita selalu
Walau kau tak pernah mengerti
Akan arti cinta ini di hatiku
Rasa ini yang tertinggal
Selamanya memberikan luka pada hatiku
Jangan kau biarkan diriku menderita selalu
Rasa ini yang tertinggal
Selamanya memberikan luka pada hatiku
Jangan kau biarkan diriku
menderita selalu
Suara merdu Wildan terdengar sangat Inah dipendengaran dengan alunan petikan gitar yang dia miliki. Duduk di tepi kursi yang terbuat dari anyaman bambu panjang paa di bawah pohon mangga miliknya.
Burung-burung yang berterbangan ikut bersender pada ranting pohon yang punggung tegak itu sandarkan. Bisa dibilang para burung gereja juga ingin ikut mendengarkan suara indah Wildan. berciutan seakan ikut menyenandungkan lirik lagu yang Wildan nyanyikan.
Jreng. . . .
Petikan senar gitar terdengar kencang terpetik bersamaan bait lirik lagu terkahir. Melipat satu lengannya di body gitar, dan menundukkan kepalanya sehingga dahinya menyentuh punggun lengannya.
Menutup mata sejenak dengan bahu yang naik turun. Menarik anak rambutnya kebelakang kepala dengan kedua telapak tangannya. Menengadah masih dengan mata terpejam seperti orang putus asa.
Hari ini Wildan jadwalnya libur kerja, dalam seminggu waktu liburnya 1 bulan 1 kali. Itu pun tidak tentu, karena bukan kerja dipabrik. Penggilingan padi yang biasa orang desa pakai untuk menggiling padi yang hendak dijadikan nasi.
"Wil."
Suara yang biasa dia dengar saat dirumah membangunkannya dari tidur singkatnya.
"Dalem, Pak!" jawab Wildan langsung menegakkan tubuhnya. Ditidurkannya gitar di sebelahnya. Sang Bapak duduk di samping Wildan menepuk bahu sebelah kiri membuat Wildan menengok melihat ke arah Bapaknya.
"Sebentar lagi kamu akan lulus sekolah Nak! Langkah apa yang akan kamu ambil kedepannya," tanyap pak Husen kepada anak laki-lakinya.
"Iya Pak, rencananya Wildan ingin langsung kerja saja. Untuk sementara ini Wildan akan kerja di penggilingan milik orang tua Niko dulu. Setelah acara Wisuda dan pengumuman kelulusan Wildan akan langsung ke kota J pak. Wildan akan cari kerja disana."
Sebelumnya Wildan telah memberitahukan kepada orang tua satunya itu. Jika beberapa hari itu dengan menunggu pengumuman dia bekerja di penggilingan milik orang tua Niko.
Angin semilir menembus kesunyian yang tercipta diantara keduanya. Sang Bapak terdiam menatap rumah setengah gubuk yang hampir roboh. Wildan pun sama dan berpikir dalam agar mendapatkan biaya untuk merenovasi rumahnya.
"Bapak cuman ingin bilang sama kamu. Jangan pernah berhenti untuk menggapai kesuksesan. Bapak mengizinkan kamu ke kota J. Bapak yakin disana kamu akan sukses, kalau saja ibumu--."
"Doakan saja, Pak! Kita harus ikhlas. Mungkin ini sudah kehendak yang diatas menguji kesabaran kita. Wildan yakin disana ibu juga pasti mendoakan Wildan."
Mendongak menatap matahari yang sinarnya sedikit redup karena tertutup kabut awan.
__ADS_1
"Bapak akan selaku mendoakan anak Bapak dimanapun kamu berada. Besok kamu akan Wisuda kan, Nak!" tanya Pak Husen.
"Iya, Pak besok pengumumannya juga disampaikan. Bapak datang bareng Wildan yah biar tidak bolak-balik," ajak Wildan dan ditolak dengan gelengan pelan sang Bapak.
"Kamu berangkat saja dulu sama Tyo. Oh yah, kemarin Tyo sama siapa itu gadis cantik anak Pak tentara," beritahu Pak Husen dan lupa dengan nama Vey.
"Vey, Pak! Kenapa Pak dengan mereka."
"Kamu belum memberitahu kalau jamu sudah kerja belakangan ini kepada mereka. Kemarin Tyo dan Nak Vey kesini menjemputmu tapi, karena Bapak tidak tahu juga jadi Bapak bilang kamu sudah berangkat pagi-pagi sekali. Akhirnya mereka pergi berdua saja," jelas Pak Husen.
"Wildan sengaja tidak memberitahukan kepada mereka Pak! Nanti saja kalau Wildan mau berangkat ke kota J," jawab Wildan tersenyum.
Berat yang dirasa Wildan sekarang, mulai saat ini dia harus menebalkan semua pikiran dan hatinya. Putus cinta dengan Irene membuat Wildan tahu segalanya.
Kondisi materi yang sekarang Wildan alami mungkin salah satunya. Hidup tidak hanya untuk CINTA tapi, materi juga perlu di kehidupan yang akan datang.
Realitas saja pikir Wildan, Reza lebih pantas untuk Irene. Materi yang Reza punya akan membantu Irene dan kedua orang tuanya. Biarpun seribu orang menolak hubungan mereka jika keduanya mau memperjuangkannya pasti semuanya akan lebih mudah.
"Nak, Bapak dengar anak Pak Sasongko kembali kesini yah."
Wildan memandang penuh wajah Bapaknya yang masih menatap ke depan. Mungkn yang dimaksud Bapaknya adalah Reza.
"Bapak tahu darimana?" tanya Wildan.
"Kemarin, Bapak lihat dia berboncengan sama, Irene," Pak Husen terlihat ragu saat ingin mengatakan nama Irene. Pak Husen menengok ke arah Wildan yang menatapnya sedari tadi.
"Iya, saat kami berempat ke tempat Niko Reza datang dengan sepupunya yang satu sekolah dengan Wildan," kata Wildan dengan wajah biasa saja. Menyamarkan sara sedihnya dengan senyuman lebarnya.
Pak Husen menatap lama wajah Wildan yang mencoba untuk tersenyum lebar.
"Kamu harus sabar, namanya juga cnta kalian cinta anak SMA bukan cinta yang sesungguhnya."
Pak Husen mencoba menguatkan Wildan dengan semua perjataannya.
"Oh yah, Wil! Aoa kamu tidak kesekolah hari ini," tanya Pak Husen pada Wildan yang terlihat santai dirumah sejak tadi pagi. Untuk mengalihkan pembicaraannya yang akan merusak suasana.
"Tidak, Pak! Wildan ingin istirahat saja dirumah. Lagi pula acarnya masih besok kan, Pak?" jawab Wildan.
Setelah lama mengobrol dengan anaknya Pak Husen berpamitan untuk ke warung depan. Wildan kembali memetik senar gitarnya yang satu jam dia anggurin.
Pak Husen mencoba menguatkan Wildan dengan semua perjataannya.
Di sekolah tepatnya di ruang musik anak-anak lainnya sudah berkumpul untuk melakukan gladi bersik untuk acara besok. Yang di tunjuk melakukan paduan suara sebagai acara awalnya para anak kelas satu dan dua.
Untuk acara selanjutnya ketua Osis juga membuat acar tari-tarian dan lomba puisi yang ditujukan untuk kelas 3. Vey, siswi kelas 3 yang pertama ditunjuk oleh pak kepsek untuk ikut serta dalam perayaan perpisahan besok.
Semua guru dan anak-anak lainnya turut mempersiapkan semuanya sebaik mungkin. Semuanya tidak ada yang berdiam diri, memangku tangan di tempat masing-masing.
Vey, Tyo dan juga Irene di tunjuk untuk ikut meramaikan acaranya. Wildan, sudah pasti tidak tertinggal, semuanya sudah pasti di atur dengan baik oleh ketua Osis. Irene yang berada di ruang musik mencoba suaranya dengan dibantu kelas 3 yang bisa memainkan alat musik.
Irene mulai mencoba tes vokal saat musik pertama didengar. Lagu yang akan Irene bawakan lagu legendaris yang vokalisnya digandrungi oleh para wanita. Sekolah juga mendatangkan salah satu Band yang berasal dari kota M.
π€π€
Dan...
Dan bila esok datang kembali
Seperti sedia kala
Di mana kau bisa bercanda
Dan...
Perlahan kau pun lupakan aku
Mimpi burukmu
Di mana telah kutancapkan duri tajam
Kau pun menangis, menangis sedih
Maafkan aku
Dan...
__ADS_1
Bukan maksudku, bukan inginku
Melukaimu
Sadarkah kau di sini ku pun terluka
Melupakanmu, menepikanmu
Maafkan aku
Lupakanlah saja diriku
Bila itu bisa membuatmu
Kembali bersinar dan berpijar
Seperti dulu kala
Caci-maki saja diriku
Bila itu bisa membuatmu
Kembali bersinar dan berpijar
Seperti dulu kala
Dan...
Bukan maksudku, bukan inginku
Melukaimu
Sadarkah kau di sini 'ku pun terluka
Melupakanmu, menepikanmu
Maafkan aku
Lupakanlah saja diriku
Bila itu bisa membuatmu
Kembali bersinar dan berpijar
Seperti dulu kala
Caci-maki saja diriku
Bila itu bisa membuatmu
Kembali bersinar dan berpijar
Seperti dulu kala
Lupakanlah saja diriku
Bila itu bisa membuatmu
Kembali bersinar dan berpijar
Seperti dulu kala
Caci-maki saja diriku
Bila itu bisa membuatmu
Kembali bersinar dan berpijar
Seperti dulu kala
Vey dan Tyo yang juga berada disana merasa lagu yang dinyanyikan Irene itu mengutarakan perasaan bersalahnya kepada Wildan. Vey terpaku, tanpa sadar setetes air matanya sudah lolos meluncur.
Dihapusnya dengan segera agar semua anak yang berada disana tidak mengetahuinya. Tapi terlambat, laki-laki yang berada di sisi nya melihat air bening itu. Tyo sama halnya Vey, dia juga merasakan apa yang Vey rasakan.
Beberapa siswa yang sedang berlatih langsung ikut terdiam dan mendengarkan Irene bernyanyi. Bukan suaranya yang menjadi perhatian mereka, tapi, lagu yang dia bawakan sudah sangat jelas mereka mengetahuinya.
__ADS_1
πππππππππππππππππ
NOTES: CINTA TIDAK SELAMANYA MEMILIKI. CINTA JUGA TIDAK SELAMANYA BAHAGIA.