
Bang, calon kakak ipar kalau marah makin cantik yah," bisik adiknya. Devano langsung menutup mulut adiknya yang bisa saja ucapannya terdengar oleh Vey.
"Kenapa kalian, kalau mau romantis-romantisan lihat-lihat dong. Gak sopan," kesal Vey dibuatnya.
Devano melepas sumpalan tangannya di bibir adiknya. Dan berganti melingkarkan tangannya ke bahu adiknya.
Vey langsung memalingkan mukanya tidak ingin menambah perih di hatinya. Devano, bu lek, pak le dan adiknya Devano. Tertawa tertahan melihat Vey yang sangat jelas cemburu.
Setelah menyapa tamu pentingnya Devano kembali untuk menyambut tamu lainnya. Suara musik masih terdengar di pendengaran Vey.
Vey sangat menikmati sebuah lagu yang selalu di dengarnya. Melukis senja dari Budi Doremi. Karena, suara sound dari kafe besar. Jadi, suara Vey tidak terdengar jelas.
Keluarga Vey dan keluarga Devano melihat Vey yang tampak cantik dari kejauhan. Bunda tidak kuasa melihat anaknya yang sebentar lagi jadi milik lelaki lain.
"Bunda tidak menyangka mbak, sebentar lagi adek mau dipersunting orang," ucap bunda yang terharu.
"iya, Bun! Vey kota sudah besar. Sudah saatnya Vey mendapatkan kebahagiaannya. Semoga, Devano orang tepat untuk bisa membuat Vey bahagia," mbak Asri pun mendoakan yang terbaik untuk adik kesayangannya.
__ADS_1
Dari arah belakang tampak ketiga teman Vey memasuki kafe. Alisya, Nindi dan Rizal disambut kedatangannya dengan Devano.
"Dev, Vey udah datang belum?" tanya Nindy yang celingukan mencari keberadaan temannya itu.
"Itu," tunjuk Devano ke arah depan. Untung, saat Devano menunjuk Vey tidak melihatnya.
"Ok, kita kesana dulu," belum sempat melangkah Alyssa di cekal oleh Rizal.
"Ish,,,,bukan muhrim Zal," kesal alisya yang tidak dipegang oleh lelaki.
"Eh, maaf, maaf Sya. Habisnya kamu mau nyelonong saja. Udah kita di sini saja, nanti kalau Devano sudah memulai acaranya kita baru deh muncul," usul Rizal.
"Dasar bu nyai gak sabaran banget," ejek Nindi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 malam. Waktunya sang pembawa acara mengungkapkan apa saja acara yang akan dilaksanakan.
Vey, tetap membelakangi pembawa acara. Ketika, semuanya memutar kursinya untuk menyaksikan acara demi acara yang dilangsungkan.
__ADS_1
Pak le dan bu lek hanya tersenyum-senyum melihat Vey yang mulai bosan. Beberapa kali Vey menyandarkan punggungnya terus menegakkan tubuhnya. Melihat keluar, menunduk, memainkan ponselnya.
"Bu lek, kenapa lama sekali sih acaranya. Dari tadi ngomong terus masnya. Bosen," gerutu Vey yang sedikit membanting ponselnya ke meja.
"Sabar to, Nduk! Sebentar lagi acara utamanya main kok," bujuk Pak le agar Vey tidak pergi.
"Hem," dehem Vey memainkan ponselnya lagi. Lagunya disanggah dengan tangan satunya.
Sedangkan ketiga temannya melihat Vey yang terus cemberut.
"Haa haa haa, rasain kamu Vey. Bosen, bosen gak," kelakar Rizal mengumpati Vey dari jauh.
"Zal, julid banget sih kamu itu," cakap Nindi tertawa.
"Kapan lagi kan ratu jail kita kena getahnya. Haa haa haa," cetus Alisya disetujui Nindy dan Rizal.
"Aku suka lihat Vey seperti selimut kusut seperti itu," ledek Rizal tertawa ngakak.
__ADS_1
"Iya, kapan lagi cobak Vey kek orang yang ingin makan orang. Lihat saja, puas aku," imbuh Nindi yang sering kali menjadi korban kejahilan Vey.
"Astagfirulloh, berdosa banget kalian berdua ini. Senang diatas penderitaan Vey. Termasuk aku, haa haa haa," ucapan alisya semakin membuat Nindi dan Rizal semakin tertawa terbahak-bahak