SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
TINGGALKAN DIA UNTUKU(IRENE)


__ADS_3

Irene berjalan mundur untuk menghindari Vey. untungnya kamar Vey yang sekarang sudah di rombak sedikit besar. Menghindar ke pojok kamar dan meringkuk memeluk kedua lututnya.


'Ma'afkan aku, Ren?' batin Vey merasa sedih melihat Irene seperti itu.


Tidak ingin terpancing dengan ucapan Irene. Vey, merosot dan duduk di lantai. Melipat kedua kakinya untuk di dekapnya juga. Sama-sama meresapi dan melihat ke belakang lagi.


Pantas jika, dirinya disebut sahabat yang buruk pikir Vey. Perasaan bersalah memasuki jiwa Vey kembali dengan rasa hancur yang sangat sakit.


Sudah sangat lama sekali Vey sudah tidak mengingat semua kejadian dan rasa yang pernah dia rasakan. Wildan, satu nama yang berusaha Vey hilangkan. Berhasil di sebut oleh Irene dengan sangat jelas dan lantang.


Lelaki pertama yang mampu membuat dirinya berusaha bangkit dari keterpurukan. Di kamar ini lagi tumpah lah sudah semua kepedihan yang sudah terkubur dalam-dalam.


Tangis keduanya pun saling bersahutan. Irene meringkuk di pojok kamar membekap wajahnya sangat dalam. Tidak ada yang tahu keduanya menangis dengan kesedihan yang sama.


Tidak ingin seperti ini terus Vey merubah posisinya dengan menurunkan kedua kakinya. Menghadap penuh ke Irene yang menyembunyikan wajahnya.


"Irene, mungkin kata maaf dariku tidak mampu mengembalikan semuanya. Kata maafku tidak akan lagi memutar kenangan indah itu. Tapi, dengan ikhlas aku melepas Wildan untuk mu. Seharusnya, kamu sadar dengan ucapanmu sendiri. Kamu bilang aku sahabat yang buruk. Kamu tidak salahengatakan itu. Aku memang sahabat yang paling buruk yang pernah kalian kenal. Aku memang benalu yang terus ingin diperhatikan. Memanfaatkan penyakit ku agar mendapatkan perhatian Wildan dan Tyo. Iya, itu memang aku dan, hanya aku yang mereka perhatikan bukan kamu. Kamu tahu, Irene," kata Vey berucap tanpa memikirkan kondisi Irene.


Marah atau kesal itu mungkin hanya membuang waktu Vey. Marah itu yang Vey luapkan kepada Irene saat ini. Tangis Vey semakin keras dan mungkin semua yang berada di luar mendengarnya.


Pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Membuat suara Vey leluasa keluar lepas. Langkah beberapa kaki sudah masuk ke pendengaran Vey dan Irene.


"Ren, apa kamu tahu? Sejauh mana aku berusaha untuk menutup dan mengubur semuanya sendiri. Sebelum berbicara seharusnya kamu melihat kembali dirimu. Mungkin semua ini adalah karma buatmu. Karma buatmu yang sudah mempermainkan perasaan dan cinta Wildan yang hanya untuk mu. Hanya untuk mu, Ren. Apa kamu ingat, saat kamu berpelukan dan kembali lagi pada Reza. Aku akan mengingatkan mu pada masa itu dimana Wildan berusaha kuat dan tegar melihat orang yang dia percaya. Dia yakini sudah menerima cintanya dengan tulus. Tapi, ternyata hanya dipermainkan. Kamu pantas mendapat ini semua, Irene," teriak Vey yang tidak mampu menahan kesedihan yang sudah dipendamnya sangat lama.

__ADS_1


Papa, bunda, mbak Asri, Fatih dan Devano mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Vey. Mereka tidak ingin melerai atau mencegah. Meski, bunda takut Vey akan kembali depresi lagi.


"Bunda," panggil mbak Asri memegang lengan bundanya.


"Jangan mbak, biarkan Vey meluapkan semuanya," cegah bunda.


Devano tidak mengerti apa yang terjadi. Dengan diam Devano terus memperhatikan dan hanya mampu bungkam. Melihat situasinya sekarang mungkin, ada sesuatu yang diucapkan dari salah satu dari keduanya.


"Kamu hanya memikirkan kebahagiaanmu saja. Kamu merelakan persahabatan kalian hanya karena sebuah cinta yang kamu kejar. Sahabat akan memilih sahabatnya bagaimanapun keadaannya. Meskipun ada cinta diantara kalian. Kamu lah sahabat yang buruk yang mereka punya," ucapan Vey mampu membuat Irene menatapnya tajam.


"Apa? Memang benar bukan kamu sahabat yang mereka miliki seumur hidup mereka?" tanya Vey yang ditatap Irene. Irene yang memang suasana hatinya tidak baik-baik saja berdiri dan menghampiri Vey yang masih terduduk dengan sisa-sisa air matanya.


Plak!


Mbak Asri membungkam mulutnya dan kedua matanya melotot. Papa Candra ingin menghampiri putrinya langsung dicegah Fatih. Begitupun dengan Devano yang hendak melangkah masuk.


"Pa, Dev aku tahu Vey pasti bisa mengatasinya. Kalian tenang saja," ucap Devano mencegah papa mertuanya dan calon adik iparnya masuk.


Kepala Vey menyamping dengan rambut yang menutup wajahnya. Tamparan Irene sangat keras dan memekakkan telinga. Seumur-umur baru kali ini Vey merasakan tamparan di pipinya.


Vey mencoba berdiri dengan tangan satunya memegang pipi yang terasa panas. Menatap Irene dengan senyum yang sudah pasti mengejeknya pikir Irene.


"Aku tidak salah bicara kan, Ren? Sebelum kamu menuduhku seharusnya kamu berkaca dulu!" ejek Vey dengan jelas di depan irene.

__ADS_1


Terlihat tangan Irene sudah mengepal kuat. Sakit, itu yang dirasakan Vey namun, Vey berhasil membuat emosi Irene keluar.


"Bagus, keluarkan semuanya Ren. Keluarkan dan luapkan kepadaku!" batin Vey tersenyum senang meski, harus merelakan pipinya tergambar.


"Tinggalkan dia untukku!"


Kedua mata Vey terbuka lebar termangu dengan ucapan Irene.


"Tinggalkan siapa maksudmu?" tanya Vey. Baru saja Vey merasa puas karena sudah memancing amarah Irene.


Sejurus kemudian dirinya dikejutkan dengan ucapan Irene.


"Irene, siapa yang harus aku tinggalkan?" tanya Vey dengan suara yang melunak. Menutupi rasa terkejutnya Vey menurutmu dengan senyumannya.


Saling menatap dan melihat ke dalam mata masing-masing. Vey melihat jelas kerapuhan dan luka dimata Irene.


"Ire-?"


"Devano, tinggalkan dia untukku!" pinta Irene menunjuk ke arah Devano yang terkejut juga.


"Apa maksudmu?" tanya Vey dengan nada yang dingin.


"Aku ingin kamu merelakan Devano untukku. Seperti kamu merelakan Wildan untukku dulu," pinta Irene dengan sangat gamblang.

__ADS_1


NOTES: RASA CINTA ITU TIDAK BISA TERGAMBAR DENGAN JELAS. TIDAK JUGA BISA DIPEGANG.


__ADS_2