SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
SI TAMPAN MINTA STEMPEL


__ADS_3

Aku tidak pernah meminta untuk dikasihani.ย  Aku juga tidak meminta untuk dicintai. Kalau bisa biar aku saja yang mengasihi dan mencintai diriku sendiri kalau itu bisa.


Tetapi aku tidak bisa, tanpa belas kasih manusia lainnya aku bisa apa untuk bertahan hidup. Tanpa cinta kasih mereka aku tidak akan pernah bisa menikmati hidup.


Sadarkan aku jika aku terlalu rapuh. Ingatkan aku juga aku sering lupa akan semuanya. Tegur lah aku jika aku tidak pernah bisa membalas kasih sayang dan cinta yang kalian berikan.


Aku terlalu meminta, aku haus segalanya. Aku, aku dan aku yang mencoba untuk bangkit dari keterpurukan. Mencoba mencari cinta yang rela berkorban.


Akankah suatu hari nanti aku menemukan cinta itu. Tiba-tiba bayangan wajah si tampan dengan senyum manisnya menyerbu otakku.


Memang makhluk ciptaan Allah tidak ada yang tidak sempurna. Aku harap lain waktu dan lain tempat aku bertemu kembali.


Puas menyendiri aku membuka pintu kamarku. Suasana rumah tampak sepi, tidak biasanya seperti ini. Aku jalan menuju dapur tidak juga melihat bukle. Alisya juga tidak ada dikamarnya.


"Kelamaan bertapa jadi ditinggal dirumah sendiri deh," ucapku yang memilih duduk di teras rumah.


Udara malam sebenarnya tidak baik, tapi di dalam rumah terasa merinding sendiri. Aku tidak lupa dengan kebiasaanku yang lama. Duduk santai sambil mendengarkan musik.


Nyaman dan sangat tenang saat mendengarkan lagu di luar rumah. Angin malam tidak begitu kencang, hanya sesekali meniup-niup di kulit ku.


"Permisi, mbak,"


Pendengaran ku tidak bisa mendengar apapun kecuali musik yang terus berbunyi. Kebiasaan buruk ku dengan ponsel dan headset. Keduanya tidak pernah bisa lepas dariku.


Door! Door! Door!


"Hah," jerit ku yang langsung berdiri. Tatapanku terpana dengan seseorang yang baru beberapa menit ada di otakku.


'Si tampan ini lagi,' batinku yang sudah meloncat-loncat kegirangan. Doaku terkabulkan, doaku terwujud dalam beberapa menit kemudian.


"Mbak, maaf mengganggu. Saya datang kesini ingin meminta surat izin menginap kepada bapak Rw," ucapnya.


'Sitampan ku,' batinku. Tanpa Sadar bibirku melengkung membentuk senyuman.


"Lho, kok malah senyum sih mbaknya. Tapi, cantik tambah manis kalau tersenyum gitu. Ehem, mbak halo!" teriaknya yang langsung menyadarkan aku.


"Ehem, ehem. Ada perlu apa yah mas?" tanyaku yang langsung tergagap. 'Tahu tidak yah dia kalau aku melamun, aduh, bego kamu Ve,' batinku yang sangat malu tertangkap melamun.


"Hee hee hee, mbaknya melamun yah. Segitu amat ngeliatin akunya sampai tidak mendengar perkataanku," ejeknya yang semakin membuatku salting.

__ADS_1


"Eh, jangan kegeeran yah mas. Ada apa masnya kesini?" tanyaku sengaja aku buat jutek.


Bukan maksud diriku seperti itu kalau saja dia tahu aku salah tingkah tau.


"Kelihatan kok mbaknya ngeliatin aku kayak gitu!. Ini saya mau minta tanda tangan dan stempel dari pak rw nya. Apa pak rw ada?" jelas dia dan mengulangi lagi pertanyaannya.


"Oh, maaf tidak ada orang selain aku dirumah? Aku bisa kok memberi stempel tanda tangan pak le sudah ada tinggal stempelnya saja yang belum," jawabku mengulurkan tangan meminta surat izinnya.


Lelaki itu memberikan kertas putih yang bertuliskan namanya juga izin menginap dari pak rt.


'Devano Altara, nama yang bagus. Kayak orangnya tampan,' batinku.


Tidak menunggu lama aku langsung menempelkan stempel rw di kertasnya. Setelah itu aku kembalikan lagi kepada pemiliknya.


"Terima kasih, mbak! Oh yah. kalau boleh kenalkan, nama saya Devano Altara." kata Devano memperkenalkan dirinya.


"Iya saya sudah baca tadi nama masnya," jawabku yang tidak sadar. Langsung ku tutup mulutku dengan kedua mataku yang sedikit melotot.


Terlihat dia tersenyum menanggalkan matanya yang menyipit seiring ditariknya kedua sudut bibirnya melengkung. Berulang kali mataku ternodai dengan senyum dan wajah tampan nya.


"Eh," aku tersentak saat tangannya melambai di depan wajahku.


"Kok melamun lagi mbak. Kenapa?" tanya nya.


"Sebenarnya ada satu lagi keperluanku mbak?" ujarnya.


"Oh, ada apa mas?" tanya kuย 


"Belum tahu nama mbaknya siapa?"


Jebur!


Mulutku menganga mendengar ucapannya. Benar-benar bisa membuatku salah tingkah si tampan batinku. Sadar mulutku yang terbuka aku langsung menutupnya.


"Maaf, aku kira masnya ada perlu apa lagi?" ucapku yang tidak enak.


Ya allah tidak ada pantes- pantes nya wanita melongo di depan cowok.


"Bagaimana, apa mbaknya mau menyebutkan namanya?" tanya nya lagi.

__ADS_1


"Iya, namaku Vey. Sudah kan mas," jawabku singkat.


'Aduh, cepetan dong pergi. Tidak tahu apa aku sudah gemetaran dag dig dug begini?' batinku ingin mengusirnya tapi sayang.


"Hee hee, Vey ya namanya. Baiklah sudah aku catat nama mbak di hatiku eh salah di otak ku," jawabnya yang langsungย  keluar.


Aku tidak salah dengar apa yang dikatakannya tadi. Sudah ditulis di hatinya, sungguh manis sekali. Rasanya tidak rela menyuruhnya pergi dari rumah pak le.


"Lho, pak pak itu kenopo to gendok kok berdiri disitu terus senyum-senyum? Ayo-ayo pak kesambet jangan-jangan gendok,"


Bukle yang baru datang langsung memukul ku dengan segepok sayur kelor. Aku yang masih melamun tidak bisa langsung menghindar.


"Bukle, bukle kenopo to aku dipukul dengan sayur kelor," teriakku yang memutari meja teras.


"Kamu kesurupan, Ndok? Pergi, pergi dari tubuh anakku. Hayo, hayo!" ucap bulekku yang terus memukulku.


"Pakle bantuin Veyo dong, kok malah diketawain sih. Ahhh!" teriakku semakin kencang.


"Haa haa haa haa haa, bu ne bu ne sudah kasihan anak itu kamu ceples sama sayur kelor. Sudah, haa haa haa," kata paklek yang tidak berhenti tertawa.


Tubuhku rasanya perih semua karena ceplesan bukle. Garis merah tergambar di kulit putihku. Benar-benar merah sekujur tubuhku rasanya.


"Ya ampun gusti, maaf ya Ndok!" sesal bukle yang langsung memelukku.


Aku membalas pelukan budeku sambil tersenyum juga. Bukan salah bukle kalau mengiraku kesurupan, karena beliau melihat aku yang berdiri di depan pintu sambil tersenyum sendiri.


"Buk le sama pak le dari mana? Terus Alisyanya mana buk le?" tanya ku yang mengajak buk le dan pek le


"Alisya sedang buk le suruh ke swalayan. Kamu, kenapa to ndok berdiri didepan pintu sambil senyum? Tidak baik lho anak perawan berdiri di depan pintu. Nolak jodoh itu namanya, lain kali jangan diulangi lagi," omel buk le yang sudah duduk.


"Iya buk le! Itu tadi ada anak baru yang minta stempel rw. Nyarik pak le tadi," jawabku


"Terus sudah kamu kasih ndok?" tanya pak le.


"Sampon pak le, tadi Vey juga bilang kalau pak le tidak ada?" jawabku lagi.


Akhirnya, Alisya yang sudah pulang dari belanja tiba tepat waktu. Kami bertiga langsung mengolah bahan makanan yang sudah lengkap.


Menu malam ini sayur kelor, ikan asin, tempe, sambel orek dan pete ditambah lagi nasi hangat yang masih mengepul.

__ADS_1


Hahahahahah,,,,,ilernya noh usapin dulu๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜‹,,,,,


NOTES: APAKAH JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA ITU SALAH?.


__ADS_2