
POV TYO DAN RIZAL
ijji ma ijji ma
uri heeojil ttae himdeuldeon geunarui insareul
ulji ma ulji ma
budi haengbokhae jwo naui sarang annyeong
saranghae saranghae naega deo saranghae
ije du beon dasi
neoege haejul su eopsneun mal
neoman neoman neoman
saranghaessdeon naui jeonbuyeosseossdeon
neol apeuge haeseo
mianhae mianhae dasi doragal su eopsjiman
nan neoman nan neoman nan neoman
manhi saranghaesseossda
haji ma haji ma chueokdo haji ma
apeun nae gaseuma
miwohae miwohae ijen neol miwohae
neoreul ijeuryeomyeon
ireol subakke eopseunikka
neoman neoman neoman
saranghaessdeon naui jeonbuyeosseossdeon
__ADS_1
neol apeuge haeseo
mianhae mianhae dasi doragal su eopsjiman
nan neoman nan neoman nan neoman
neoneun nae gaseume munsincheoreom saegyeojyeo
jiuryeo haebwado
jiul su eopsneun nae saranga
neoman neoman neoman
gidarinda neomu apeun saranga
manhi bogo sipda
mianhae mianhae nan ajik neoreul saranghae
nan neoman nan neoman nan neoman
gidarinda
"Itu suara apa lipsing yang dipakai Tyo?" gumam Vey berdiri dari duduknya.
"Apa kamu tidak bisa membedakan mana suara dan mana hanya mulut bergerak-gerak?!"
Vey tersenyum kepada Devano kemudian berjalan untuk menuruni tiga anak tangga pelaminan. Beberapa orang yang menyadari kedatangan sang putri.
Membelah diri untuk memberikan jalan yang lebar. Pandangannya tertegun pada duo gesrek yang super pede. Diakhir lagu Vey orang yang pertama memberikan tepuk tangak.
Prok, Prok, Prok
Prok,Prok,Prok,Prok,Prok suara tepuk tangan dari semua tamu terdengat begitu riuh. Tyo dan Rizal saling memberikan gaya masing-masing.
Yqh, duo gesrek dengan wajah tampan dan manis. Berhasil menghipnotis semua mata.
"Zal, Wildan akan tersaingi oleh kita berdua," bisik Tyo sambil melirik Wildan.
"Wil, kamu bersiap-siap kehilangan fansmu yah," tambah Rizal yang langsung dapat delikan tajam dari beruang tampan nan dingin.
__ADS_1
"Matanya gak usah loncat gitu kenapa sih, Wil. Ambil, ambil tu fans mu kita tidak butuh," seloroh Tyo langsung berlari menuruni panggung sambil tertawa keras.
Sedang kan Rizal tetap berada diatas dengan posisi menjauh dari Wildan. Rizal melanjutkan aktifitasnya u tuk menjadi MC dipernikahan kedua sahabatnya.
"Tyooo,,, keren, keren, keren," puji Vey dan teman lainnya.
"Tapi, Yo itu tadi kamu belajar dari mana bahasa itu. Perasaanku bahasa inggrismu jelek loh," cetus Irene.
"Pengen tahu aku belajar dari mana? Sini mendekat lagi!" kata Tyo.
"Hem, jangan mau Ren. Modus itu pasti," cegah Nadin.
"Udah sini kalau pengen tahu kalian. Habis di ***** Alisya aku langsung bisa bahasa korea,"
Vey, Nadine, Irene menahan nafas untuk beberapa saat. Alisya yang sejak tadi tidak begitu memperhatikannya. Menjadi patung untuk kesekian menit dengan mata yang melotot.
Satu, dua, tiga
"Haaaa, haaaa, haaaa, haaaaa, haaaa. Ampuh berarti yah ******* Alisya. Gak nyangka aku Sya,"
Tawa dari ketiga perempuan itu begitu sangat keras. Bahkan Rizalpun sampai harus berhenti bicara.
Semua orang terheran dengan kumpulan lima orang yang tidak tahu kalau sudah membuat mata semua orang tertuju padanya.
Alisya yang malu dan tidak terima langsung memukul Tyo. Saat keduanya hendak berlari. Mereka baru sadar akan tatapan heran semua orang.
Devano sampai berdiri untuk melihatnya. Bibirnya tersungging ketika masih mendengar tawa yang berasal dari istrinya.
"Vey, sudah, jangan ketawa lagi. Vey, ya allah,, tetep aja ketawanya. Wes hop Vey(sudah berhenti Vey)," bisik Irene.
Karena Vey tidak juga berhenti akhirnya Nadine dan Irene membungkam mulut Vey.
Kriik Kriiik Kriiiik
Bumm.
Seketika ruangan itu penuh dengan suara tawa.
Waspadalah, waspadalah. Penyakit yang paling menular adalah TAWAπππππ€£π€£.
Kata WARKOP jaman dulu berkata TERTAWALAH SEBELUM TERTAWA DILARANG. Jadi, ngakak sohakππππππππππ€£π€£
__ADS_1