
"Lho, Dev kamu kok rapi bener sih. Juga, ini tempat kenapa sepi begini?" tanya Nindy yang heran tidak melihat satu orang nangkring di kafe tersebut.
"Hee hee, sebentar," ucap Devano berlari masuk ke salah satu ruangan. Untungnya tempat ini adalah milik sepupu Devano, Dio namanya.
"Kenapa dengan temanmu itu, Zal?" tanya Alisya yang menggelengkan kepalanya.
Mereka bertiga memilih duduk di meja tengah. Semua meja dan kursi dipakainya baju biar tidak kedinginan😂😂🤣🤣🤣 Bercanda.
Tertata rapi dengan hiasan bunga mawar merah ditengahnya. Ketiga remaja itu tidak mencurigai apapun. Karena, semuanya tampak terlihat biasa saja.
"Hey, perkenalkan mereka keluarga dari Vey dan ini keluargaku sendiri,"Â Devano memperkenalkan dua keluarga yang juga memakai seragam sarimbit.
Alisya, Nindi dan Rizal tampak terkejut. Mereka bertiga saling bertukar pandang tidak mengerti maksud dari semua ini. Mungkin, mereka bertiga bertanya-tanya kenapa keluarga Vey juga ada di sini.
"Dev, kapan orang tuamu datang. Kenapa tidak dibawa ke rumahku saja?" tanya Rizal yang terkejut setengah heran. Rizal sangat tahu sekali tidak akan ada hal yang penting kalau semua keluarga sahabatnya datang jauh-jauh ke kota S ini.
"Rizal, kamu tidak berubah ternyata," sapa papa Devano memeluk akrab Rizal.
Alisya 1 dan Nindi masih terlihat bingung. Keduanya memandang semua orang yang tiba-tiba banyak.
__ADS_1
"Zal, eh Dev. ini maksudnya apa yah?" tanya Nindy.
"Vano, kamu belum memberitahu teman-temanmu, Nak?" mama Devano bertanya ke anaknya.
"Sengaja, Mam! Kalau, mereka dikasih tahu awal. Semua rencana ini pasti akan hancur duluan. Apalagi, Rizal mulutnya kayak anak cewek. Ambyar," ejek Devano langsung mendapat pukulan keras di kepalanya.
" Kalau ngomong itu mbok ya jangan ngasal to Dev? Julid bener tu mulut," lontar Rizal dan disambut tawa semuanya.
"Sebentar, maksudnya rencana itu apa yah Dev?"tanya Alisya yang sedari tadi menangkap kejanggalan dari perkataan Devano barusan.
"Aku mau melamar Vey," ucapan Devano sukses membuat ketiga orang temannya cukup syok.
"Dev, kamu yakin?" tanya Rizal.
"Dev, nikah itu gak semudah apa yang kita pikirkan loh. Butuh sebuah komitmen yang harus dihadapi. Nikah itu bukan sekedar mengucap ijab kabul di depan penghulu. Kamu juga harus sudah yakin dengan keputusanmu ini. Menikah muda banyak cobaannya loh, kamu gak berfikir lagi?" tanya Rizal yang sedikit memberi pengertian.
"Zal, insyaallah aku sudah yakin sekali. Sebelum, mengambil keputusan ini aku juga sudah minta petunjuk sama Allah SWT. Jadi, bantu aku dan do'akan aku," pinta Devano meyakinkan teman-temannya yang tampak terlihat ragu.
Flashback Off.
__ADS_1
Vey, yang masih mematung tidak sadar dengan posisinya yang masih berdiri. Pak le dan bu lek sudah berjalan lebih dulu. Mengikuti Devano dan adiknya menunjukkan tempat duduknya.
Pandangan Vey tiba-tiba menjadi buram. Cepat-cepat Vey mendongakkan kepalanya agar genangan air mata itu tidak lolos keluar.
Devano yang menyadari Vey tidak ada. Menengok ke belakang ternyata, Vey memang masih mematung di tempat yang tadi.
Devano tersenyum simpul dan memanggil Vey.
"Vey, kaki mu ternyata kuat sekali yah untuk berdiri," panggil Devano menggoda Vey.
Vey yang masih mendongak langsung buru-buru menurunkan kepalanya. Bibir Vey cemberut membuat Devano semakin suka melihatnya.
"Memangnya kakiku terbuat dari besi apa?" gerutu Vey sambil berjalan menuju tempatnya.
"hihi, siapa tahu kamu robot cantik yang dibuat Allah untuk dijadikan manusia seutuhnya," Devano semakin mengejar Vey yang memelototkan kedua matanya.
Buk!
"Ndok, jadi cewek gak boleh kasar begitu?" omel bu Lek dan membuat Devano semakin kegirangan mendapat pembelaan.
__ADS_1
"Awas kamu yah," ancam Vey mengeratkan giginya.
Devano hanya tertawa melihat Vey yang kesal.