SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
TAK SEPERTI BIASANYA WILDAN


__ADS_3

"Nanti sore aku mau mengajak kamu ke alun-alun kota. Apa kamu mau." ku mengajak Vey untuk bertemu di Alun-alun kota.


Hal pertama yang aku lihat dari perubahan wajahnya adalah terkejut. Yah, mungkin Vey masih trauma dengan kata-kata itu. Di alun-alun itu pula aku juga mengungkapkan perasaanku kepada Iren. Saat itu aku, Tio dan juga Iren membuat janji untuk mengistirahatkan otak yang seharian penuh bergelut dengan pelajaran. Saat itu juga aku mencoba mengungkapkan perasaanku kepada Iren.


Setelah dia menjawab dengan anggukan kepala, ku renggangkan cengkraman tanganku pada pergelangan Vey. Mataku masih saja melihat kepergiannya yang terus berlari tanpa menengok kepadaku. Ku ikuti langkah Vey yang sudah tidak terlihat itu, aku berjalan dengan rasa gontai dan tidak ada rasa semangat.


Didepan ruangan kelas ujian ku dihadang Tio yang mungkin sudah menungguku. Ruangan Tio ada disebelah ruangan ku sehingga dia sengaja menungguku. Dia mencoba menguatkan ku dengan menepuk nepuk pelan pundak ku. Aku hanya bisa menampakkan barisan gigi putihku untuk menutupi semua kekalutanku. Setelah menepuk pundakku Tio melenggang masuk kekelasnya.


Aku satu ruangan denga Iren, dia duduk di barisan depan. Mungkin dia melihat saat Tio menepuk pundakku. Kalau sudah begitu dia sudah menebak ada suatu masalah yang terjadi. Ku terus berjalan menuju bangku ku tanpa melihat Iren yang terus menatapku. Pengawas sudah membagikan kertas dan lembar untuk jawabannya.


Pikiranku masih tertuju kepada raut wajah Vey yang berubah datar tadi. Ada rasa bersalah yang menghinggap dihatiku, tak seharusnya aku mengajak dia ketempat itu lagi. Ku usap-usap rambut belakangku, ku telungkupkan kepalaku pada lipatan lenganku. Hembusan nafas kasar untuk menetrlakan semua rasa gelisahku. Dengan penuh semangat dan fokus ku mengerjakan soal-soal ujian itu.


Saat dirasa sudah tidak ada lagi soal dan jawaban yang tertinggal segera ku mengambil tas disamping bangku ku dan menyampirkannya dipundakku. Berdiri dan merapikan kertas-kertas ujian bersama lembar jawabannya, dengan langkah cepat aku sudah menyerahkannya kepada pengawas. Teman-teman lainnya menatapku dengan penuh kekesalan, tapi aku tak menghiraukannya. Saat ini aku harus segera keluar sebelum Vey pulang.


Tapi, saat aku sudah sampai lantai bawah, dari arah depan ku lihat Vey yang sudah mau naik ojek. Ku teriak memanggilnya dengan suara lumayan keras.


"Vey" teriakku.

__ADS_1


Teguran yang ku terima, karna saat itu ada satu pengawas yang baru dari kantor. Beliau menegurku saat aku berteriak memanggil nama Vey. Karna suaraku bisa mengganggu peserta ujian lainnya. Ku anggukan kepalaku sebagai permintaan maafku kepada beliau. Aku berlari untuk mengejar tukang ojek itu, tapi sudah terlalu jauh.


Akhirnya, ku putuskan untuk menunggu Tio dikantin sekolah yang terletak dibawah. Satu jam ku menunggu Tio dan saat itu pula Iren sudah duduk disampingku. Mungkin karna aku melamun atau tidak melihat kedatangannya.


"Wil, sedang menunggu siapa?" sapa Iren dan tanpa ku menyuruhnya duduk dia sudah terlebih dulu mendaratkan tubuhmya disampingku.


"Sedang menunggu Tio Ren, kamu sendiri kenapa tidak langsung pulang. Sedang menunggu Reza yah" jawabku, tapi yag aku dapatkan lagi-lagi kebungkaman. Dia seperti sedang ada masalah. Ku beranikan memberinya semangat dengan menepuk pelan pundaknya. Kebiasaan menepuk pundak itu adalah kebiasaan yang sering kita bertiga dulu lakukan untuk menguatkan satu sama lain.


Sekian lama menunggu akhirnya yang di tunggu sudah menginjakkan kakinya dianak tangga paling bawah dan segera berlari menghampiri aku dan Iren. Tio yang melihat Iren duduk disampingku dengan menundukkan kepalanya menjadi heran. Karna sudah sangat lama sekali Iren tidak pernah lagi bergabung dengan aku dan Tio. Ku angkat kedua pundak ku sebagai jawabannya.


"Eh Ren, tumben lagi nunggu do'i yah." basa basi Tio.


Aku dan Tio pun akhirnya mencoba menghentikan langkah Iren. Tanpa mau menengok Iren menghentikan langkahnya, ku putar badan Iren untuk menghadap kearah ku.


"Ren, ada apa sebenarnya? Kenapa kamu menghindari Reza. Kalau ada masalah sebaiknya selesaikan dengan baik, kasih dia kesempatan untuk bicara. Aku dan Tio akan ada disampingmu." ucapku kepada Iren. Kepala yang tadinya menunduk perlahan terangkat menatapku.


Aku dan Tio terkejut saat wajah Iren penuh dengan lanangan air mata. Tanpa meminta persetujuanku dia sudah mendaratkan kepalanya didadaku. Memeluk dengan sangat erat dan kurasakan getaran tubuhnya yang semakin hebat. Dari kejauhan Reza melihat Iren yang sudah ada dipelukanku. Meskipun Iren pernah membuat hari-hariku sempat hancur tapi aku dan Tio masih menganggap dia sahabat.

__ADS_1


Tio yang melihat situasinya sudah tidak memungkinkan lagi. Dia menepuk pundakku dan memberi isyarat gelengan kepala untuk melepaskan pelukan Iren. Perlahan ku lepaskan pelukan Iren dan berpindah tempat dibelakang Iren. Ku lihat Reza ingin menggapai tangan Iren tapi dengan cepat Iren menepisnya. Pikiranku masih bertanya tanya ada apa sebwnarnya dengan mereka padahal beberapa tahun ini mereka masih terlihat baik-baik saja.


Tio menarik tanganku untuk sedikit menjauh dan memberi mereka kesempatan untuk bicara. Teman-teman Reza pun ikut duduk dengan kita berdua.


"Ada apa sebenarnya dengan teman kalian." tanyaku pada salah satu teman Reza. Tatapanku masih menatap kearah Iren dan Reza yang terlihat bertengkar.


"Reza harus pindah keluar kota, dan orang tua Reza tidak menyetujui hubungan mereka. Selama ini Reza diam-diam pacaran dengan Iren, Karna Reza sudah mau dijodohkan dengan wanita pilihan mamanya. Tanpa sepengetahuan Reza, mamamu Reza mendatangi Iren waktu jam istirahat. Pas saat itu aku mendengarkan semuanya apa yang dikatakan orang tua Reza. Aku kasihan melihat Iren dan segera aku berlari menjauh untuk memberitahukan kepada Reza." jawab Danu temannya Reza.


"lho, jadi selama ini orang tua Reza tidak pernah tau hubungan mereka. Trus apa reaksinya Reza saat kamu beritau." sambung penasaran.


"Dia langsung berlari keluar dan menemui Mamanya dan juga Iren. Aku dan teman-teman lainyma pun juga mengejar Reza keluar takut terjadi apa-apa dengan mereka. Reza tidak terima dan mengancam Mamanya untuk pergi dari rumahnya. Tapi ancaman Reza tidak mempan. Hemb ...! Aku benar-benar kasian melihat mereka berdua. Ternyata, pacaran sama orang kaya itu ribet yah. Mereka selalu memandang kita orang desa yang rendah dan tidak pantas untuk mereka." ucap Nino.


"Ternyata perjuanganmu berat juga Ren." batinku miris mendengar semua penjelasan Danu dan Nino.


NOTES: TIDAK SELAMANYA RODA SELALU BERADA DIATAS.๐Ÿ˜‰


Sampai sini dulu yah readers, udah panas nih otaknya๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ berasa sudah mau meledak. Tapi karna sudah lama aku tidak Update jadi aku usahakan update๐Ÿ˜Š.

__ADS_1


Jangan lupa LIKE,SARAN yah readers.


Dapat salam dari Wildan dan Veyo MISS YOU๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Šโ˜บ


__ADS_2