SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
TERIAK LAH YANG KENCANG VEY


__ADS_3

Sebelum semuanya terbangun, aku sudah lebih dulu membuka mataku. Ku buka tirai yang menutupi kaca ruanganku.


Sekilas pandanganku tertuju pada hamparan air yang sangat banyak. Lama ku menatap lautan dengan ombak yang menggulung pasir putih itu.


Setelah puas aku memandangi hamparan lautan itu. Aku segera menuju kekamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Aku ingin berjalan-jalan dipinggiran pantai, sebelum mereka semua terbangun.


Sudah selesai dengan ritual mandi dan berdandan tipis aku berjalan keluar. Tanpa berpamitan terlebih dulu kepada semua keluargaku, aku segera melangkahkan kakiku.


Ingin segera menikmati suasana ditepian pantai. Saat sampai ditepi pantai aku melepas alas kakiku. Ku biarkan kulit kaki ku menyentuh pasir pantai ini.


Angin laut yang berhembus kencang, membuat kulitku bergidik. Aku yang lupa mengenakan pakaian panjang ini membiarkan angin menyentuh kulit putihku.


Aku masih berjalan dengan membawa alas kaki ku, ku biarkan arah kakiku kemana akan membawaku. Ku biarkan ayunan kaki ini terus berjalan sampai tiba ditempat yang diinkan.


Setelah berjalan cukup jauh dari penginapan. Ku berhenti di jembatan kayu yang menjulur panjang hampir ketengah laut. Ku dudukkan tubuhku ditepi dan ku biarkan kaki ku menjuntai menyentuh air laut.


Dingin, saat ku julurkan kakiku kebawah, ku tengadahkan kepalaku menghadap keatas langit. Ku hembuskan nafasku dengan pelan, dan ku biarkan kedua mataku tertutup.


Tanpa terasa air mataku tiba-tiba me galir kesamping. Karna, posisi kepalaku yang masih menengadah keatas. Tangisku makin tidak tertahan, ku naikkan kedua lututku kemudian ku tekuk.


Ku telungkupkan kepalaku disela-sela lipatan tangan dan lututku. Ditempat seperti ini lah yang aku inginkan. Ku lampiaskan segala kesedihanku dengan menangis sekerasnya.


Tidak akan ada orang yang tau meskipun ku meraung-raung. Saat dirasa ada seseorang yang duduk disampingku. Ku angkat kepalaku untuk melihatnya. Ku biarkan wajahku penuh dengan air mata yang sedari tadi tidak bisa berhenti mengalir.


Tau siapa orang yang duduk sibelahku, ku hapus sisa-sisa air mataku. Ku alihkan pandanganku kedepan, meskipun tangisku sudah tak sekeras tadi tapi air mata ini masih membanjiri wajahku.

__ADS_1


Kadang pandanganku tertunduk dan kadang pandanganku kedepan. Suasana pantai membuat ku menjadi lebih tenang, aku bebas meluapkan semuanya. Untungnya juga hari masih begitu pagi hanya ada aku dan Fatih.


Suara deburan ombak menemani keheningan ini. Tak ku ucap kan satu patah katapun untuk memulainya. Biarlah seperti ini dulu sebentar. Aku ingin meluapkan semuanya dengan menangis, mungkin setelah ini aku tidak akan sedih lagi.


Matahari mulai menampakkan wujudnya sedikit demi sedikit itu pertanda hari sudah siang. Tapi, aku masih tidak ingin beranjak dari tempat ini. Sampai akhirnya Fatih mencoba mengajak ku kembali. Sekilas, aku melihat kearah Fatih, ada rasa rindu jika menatap mata itu.


" Ayo, kita kembali Vey. Orang-orang pasti sudah pada bangun," ajak Fatih.


" Sebentar lagi, kalau kamu mau balik duluan gak papa. Aku masih ingin disini dulu," jawabku.


" Yasudah, aku akan menemanimu disini. Vey, terkadang ada sebuah alasan yang tidak kita pernah tau kenapa Fahmi mau mendonorkan kornea matanya. Awalnya aku tidak menduga jika yang menjadi pendonorku itu Fahmi. Vey, jika Fahmi masih hidup, dan saat itu aku dipertemukan Fahmi dengan cara lain. Aku pasti akan menolak, tidak semua manusia hidup mau melakukannya.


Vey, mungkin benar katamu, aku tidak akan bisa seperti Fahmi. Aku tidak akan bisa menggantikan Fahmi dihidupmu. Untuk kali ini, aku benar-benar ingin menghapus semua kesedihan dan penderitaanmu. Aku tau, kehilangan seseorang yang kita sayang sangat lah sakit. Apa kamu masih ingat Vey, awal pertama kita bertemu dialun-alun. Aku yakin kamu pasti belum lupa, perempuan yang bersama waktu itu adalah kekasihku. Aku berpacaran dengan dia sudah cukup lama hingga aku memutuskan untuk mengikuti pendidikan militer. Otomatis, aku jarang bertemu dengan dia, waktu sekolah dulu pun kita juga jarang bertemu. Tapi, setelah aku menempuh pendidikan itu rasa takut akan ditinggalkannya menyergap hatiku. Kamu, pasti tau karna Pak Lek juga pernah tinggal diAsrama, tinggal disana kita tidak bisa sebebas kita tinggal dirumah Vey. Setiap pergerakan memiliki waktu paling lama 5 menit. Dan, saat itu juga aku mendapat kabar bahwa dia dijodohkan oleh orang tuanya." Fatih tertunduk saat menceritakan akhir dari cintanya. Ada rasa sedih diwajahnya.


" Vey, saat pertama kali kita bertemu tanpa disengaja waktu itu. Aku terkejut kamu tiba-tiba menangis sambil mengatakan sesuatu. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang waktu itu kamu katakan. Disitu aku ingin menanyakannya tapi kamu sudah menjauh dulu. Akhirnya, setelah aku selesai dengan pendidikan ku, aku mulai mencari tau semuanya termasuk kamu dan Fahmi. Aku meminta Ayahmu untuk mempertemukan ku dengan Papamu dan saat itu juga Papamu menceritakan semuanya. Disitu aku tau semuanya dan aku juga sering berkunjung kerumah Eyangmu. Eyangmu juga menceritakan semuanya, beliau memintaku untuk tidak menanyakan apapun jika kita bertemu nanti. Maaf, jika pertemuan tidak sengaja waktu itu membuat kamu kembali depresi lagi. Aku tidak bermaksud untuk mengingatkanmu dengan Fahmi mu. Tapi, sejauh mana kamu menghindariku kamu tidak akan pernah bisa. Kita akan sering bertemu, entah itu disini atau dikota lain. Sudah lah, aku akan membantumu untuk melepaskan semua kesedihanmu," ajak Fatih kemudian dia berdiri.


" Hey, kamu itu apa-apaan sih gak malu apa diliat banyak orang. Kamu kalau mau gila jangan ajak-ajak aku, aku masih waras," kesal ku melepaskan telapak tanganku yang membungkam mulut laki-laki sinting disampingku. Ku pelototkan mataku lagu kearah Fatih yang cekikikan,


Hari sudah menjelang siang dan juga sudah banyak orang ingin menikmati keindahan pantai. Aku me


" Benar-benar sudah gila ,,," belum sempat aku berbalik Fatih sudah menarik tanganku. Fatih membawaku berlari disepanjang pantai ini sambil berteriak memanggil namaku. Aku tercengang dengan aksi Fatih yang seperti ini. Belum selesai keterkejutanku dengan dia yang tiba-tiba berteriak sekarang dia mengajakku berlari ambil berteriak-teriak seperti dia.


Aku tidak menolak atau pun memberintak saat dia dengan tib-tiba menarik tanganku.


" Vey ,,,, Teriak lah Vey, teriak lah sekencangmu. Luapkan semua ditempat ini, ditempat pertama dan terakhir yang melihatmu menangis," Fatih berteriak sambil berlari.

__ADS_1


Nafasnya terlihat jelas naik turun, dia tersengal-sengal saat berlari sambil bicara. Tangannya masih memegang pergelangan tanganku.


" Dia mau ngajak aku berlari sampai mana, ini sudah sangat jauh sekali," gumamku dalam hati. Terbesit rasa takut saat berada jauh dari tempat tadi.


Aku yang sudah merasa lelah langsung memberhentikan lariku, masa bodoh dengan dia yang terjungkal kebelakang karna ku tarik tanganku untuk melepaskan. Ku atur sedikit demi sedikit nafasku, terlihat Fatih terduduk dipasir putih ini. Pundaknya terlihat naik turun untuk mengatur pernafasannya juga.


Ku tegakkan badanku menghadap kearah lengkungan laut.


" Guduk ada salahnya untuk mencobanya," batinku, menengik sebentar kearah Fatih dan kemudian ku tarik nafasku dalam-dalam dulu dan ....


Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhkkkkkkkkkkkkkkkkkkk


wkwkwkwkwkwkwk sengaja aku panjangin teriaknya Vey biar dia puas😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣🤣. Jadi ketawa sendiri maaf yah☺


" Aku benci semuanya, aku benci diriku yang rapuh, aku benci setiap hari menangis, aku beeeennnncccciiiii aaaaaaaaahhhhhhhhh. Kembalikan senyumku seperti dulu lagi, Mas Fahmiiiiiiiiii,,,,,,,,,, Aku benci kamuuuuuuu aku ,,,, aku benci kalian," teriakku bersamaan dengan pecahnya tangisanku. Ku tutup wajahku dengan kedua tanganku, perlahan tubuhku berangsur merosot.


" Vey," panggil Fatih. Tanpa meminta ijinnya aku langsung memeluknya. Ku benamkan wajahku didada kekarnya, terasa Fatih juga membalas pelukanku. Ku eratkan lagi pelukanku dengan tangis yang tambah kencang.


" Jangan pernah menghindariku, jangan pernah menjauh dariku. Jangan pernah membenci semuanya terutama membenci Fahmi. Kita tidak bisa menyalahkan takdir yang sudah tertulis. Kamu harus bisa memaafkan semuanya terutama dirimu sendiri. Kamu harus kembali berteman dengan hatimu lagi Vey, seperti yang ku katakan tadi, biarlah tempat ini melihatmu seperti ini. Tapi. suatu saat nanti kamu kesini lagi aku harap kamu kembali dengan kebahagiaan. Kamu harus janji itu kepadaku dan juga (melepaskan pelukanku dan tangannya menangkup kedua pipiku agar menatapnya) kepada mata ini. Tubuh ini memang milikku tapi mata ini dia titipkan padaku untuk bisa melihatmu tersenyum. Bukan melihatmu menangis dan sedih seperti ini," kata Fatih sambil menghapus air mataku yang tidak berhenti ini.


" Senyum dong, cantiknya hilangkan jadinya. Elap itu ingusmu, gak malu apa sama kepiting," goda Fatih menghiburku.


Seketika aku memukul pundak Fatih, Fatih mercon menghindar dari pukulanku. Dia berlari sambil menjukurkan ujung lidahnya mengejekku. Aku tersenyum melihat dia bertingkah seperti anak kecil. Akhirnya akupun juga berlari menyusulnya.


NB: JIKA BERTERIAK BISA MEMBUAT HATI PLONG LAKUKANLAH. KARNA, AKAN TERASA SESAK JIKA DITAHAN.

__ADS_1


Jangan lupa LIKE, SARAN, RATE dan VOTE tidak memaksa😊.


__ADS_2