SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
MENYAMPAIKAN SESUATU 2


__ADS_3

Aku masih saja fokus dengan buku bacaan yang aku bawa sedari tadi. Kebungkaman ini membuat pikiranku terpecah, ku sengaja melihat Wildan yang masih saja menatap kearah depan. Entah, apa yang sedang dia pikirkan saat aku mengenalkan teman baru yang ku kenal.


Ku tutup buku yang ku baca dan ikut menatap kedepan. Hembusan angin mengibarkan rambut panjangku. Bergoyang goyang sesuai arah angin yang menerbangkannya. Meskipun sudah siang hari tapi matahari tidak begitu menyengat dikulitku. Ku pejamkan sejenak kedua mataku untuk lebih menyertaimu hembusan angin setengah siang ini.


"Huft." hembusan nafas kasar yang ku dengar dari arah samping membuat ku langsung membuka mata. Ku lihat Wildan tertenduk dengan kedua tangan dan lutut yang masih menjadi penyangga tubuhnya.


"Wil, kamu kenapa? Apa ada masalah denganmu." tegurku memegang pundak Wildan. Seketika Wildan dengan posisinya yang masih sama melihat kearahku.


"Vey, apa kamu benar benar tidak ingin memberi aku kesempatan untuk menjadi orang yang selalu ada dihidupmu." ucap Wildan seperti putus asa.


Ku tarik telapak tanganku yang menempel pada pundak Wildan. Dan, aku kembali melihat ketawa teman teman yang masih ada dimatan. Ku hembuskan nafasku pelan, Wildan masih menunggu jawabanku. Dia masih melihat ku dengan wajah yang sangat frustasi. Ku yakin konsentrasi dia pasti terpecah antara ujian dengan pernyataanku tempo hari. Ku tundukkan sebentar kepalaku dan selanjutnya ku melihat Wildan.


" Wildan, aku tau kenapa kamu bilang seperti itu. Wil, aku pernah bilang kamu teman pertama yang aku kenal disekolah ini. Dan kamu juga teman yang selalu ada saat ku merasa sendiri. Aku sangat berterima kasih kepada kalian. Karna kehadiranku disekolah ini diterima dengan tangan terbuka. Terutama kamu Wil, kamu orang pertama yang membuat ku menemukan kehangatan yang dulu pernah dia berikan. Sama persis dengan apa yang kamu lakukan terhadapku. Kamu mau menerima ku saat kamu dan teman teman lainnya sudah mengetahui sakitku. Jika dulu semua teman dan sahabatku pergi, mengataiku gila. Tapi, kamu dan yang lain malah mau merangkul dan membantu ku untuk sembuh. Terima kasih sekali lagi, terima kasih karna kamu tidak melihat kekuranganku. Aku tidak ingin merusak persahabatan ini Wil, maaf jika jawabanku tanpa sengaja sudah memberikan harapan palsu. Atau tanpa sengaja aku sudah menggantungkan kamu." ucapku melihat kearah Wildan.


Wildan menatapku dengan penuh rasa yang ku yakini sudah menangis dalam diam. Tatapan mata itu terlihat sangat sendu tapi, sebisa mungkin dia tidak memperlihatkannya didepanku. "Maaf, mungkin kata kataku telah melukaimu." batinku masih menatap mata coklat itu.


Ku palingkan pandanganku dengan cepat agar aku tidak menambah rasa bersalah dalam hatiku.


"Wil, maaf, maaf aku benar benar minta maaf. Bukan maksutku melukai hatimu tapi aku yakin hatimu masih milik orang lain." ku beranikan untuk menghadap Wildan.

__ADS_1


Mungkin dia terkejut dengan apa yang aku katakan barusan. Aku sudah tau semua tentangmu dan Iren dulu dan aku tidak ingin itu terjadi lagi. Kalau boleh jujur aku juga suka tapi aku tidak bisa jika harus mencintai seseorang yang masih ada nama lain dihatinya. Wildan masih menatapku dengan wajah yang penuh dengan penasaran, kenapa aku bisa tau.


Hati-hati Wil, Vey ada keturunan cenayang lhoπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


"Aku tau, dalam persahabatan antara laki-laki dan perempuan tidak mungkin tidak ada suatu perasaan. Itu sangat wajar Wil. Sama halnya aku, selama aku kenal dengan Mas Fahmi aku pun sama pernah menyukai dia. Tapi, rasa suka itu ternyata bukan benar-benar rasa suka terhadap pasangan. Rasa itu hanya sekedar rasa suka biasa, aku kagum karna ada rasa kedewasaan yang dia berikan kepadaku. Yang mampu melindungi dan menghiburku saat ku rasa semua teman dan sahabatku tidak berpihak kepadaku. Mungkin itu yang sekarang kamu rasakan terhadapku Wil." sambung ku lagi.


Belum sempat Wildan menjawab bel masuk kelasku sudah berbunyi. Saat, aku ingin beranjak Wildan menghentikanku dengan memegang pergelangan tanganku.


"Nanti sore aku mau mengajak kamu ke alun-alun kota. Apa kamu mau." ajak Wildan.


Senyum yang tadi masih mengembang sempurna kini saat mendengar alun-alun kota mendadak sirna. Suasana ditaman sudah mulai sepi, genggaman tangan Wildan masih mengikat pergelangan tangan Vey.


Akhirnya terlepas juga genggaman tanganku, dengan berlari sekuat tenaga aku menuju ruangan kelas yang jadi tempat ujianku. Untung para guru pengawas belum ada yang masuk jadi aku bisa bernafas lega. Saat sudah sampai depan pintu ku berhenti sejenak untuk menarik nafas dalam-dalam. Ku pasang wajah ceriaku kembali untuk menuju bangku yang ku duduki.


"Vey, dari mana saja kamu kok baru masuk." tegur Aldi.


"Ah, aku tadi dari taman tadi kan kamu lihat aku diajak temanku." kutengok Aldi yang berada dibelakangku.


"Sejak kapan kamu kenal dengan Wildan dan Tio Vey." penasaran Aldi.

__ADS_1


Aku hanya memberikannya sebuah senyuman tanpa mau menjawab pertanyaan dari Aldi. Guru pengawas pun sudah memasuki kelas dan mulai membagikan kertas-kertas yang penuh dengan tulisan-tulisan kecil. Ku hilangkan sejenak dan ku fokuskan untuk segera menyelesaikan kertas putih ini. Aku benar-benar tidak sabar untuk segera pulang dan menyampaikan sesuatu kepada Bunda dan Mbg Asri.


Untuk jadwal mata pelajaran kedua ini yang sudah selesai terlebih dulu boleh maju dan meletakkan soal ujian beserta jawabannya kedepan dn setelah itu boleh pulang. Tidak ku hiraukan anak-anak lain yang masih sama seperti tadi, bukan maksutku tidak ingin membantu mereka. Tapi untuk saat ini aku benar-benar ingin cepat menyelesaikan sebelum bel pulang berbunyi. Aku ingin selesai terlebih dahulu sehingga aku dengan penuh keseriusan tetap mengerjakan.


Setengah jam aku sudah bisa menyelesaikan terlebih dulu, sebelum ku beranjak berdiri aku membereskan dulu kertas ujian dengan jawabannya. Untuk kemudian aku memasukkan alat tulisku kesaku depan dadaku dan beranjak kemeja dimana para guru pengawas itu duduk. Aldi dan teman-teman lainnya memandang kearahku. Aku masih saja terus melangkahkan kakiku.


Dengan langkah panjang aku segera menuju lantai bawah sekolah. Sepi, itu yang aku rasakan, karna belum ada yang keluar kecuali aku. Kalimat itu masih terngiang dalam pikiranku, kenapa haru alun-alun kota kenapa tidak ditempat lain saja. Apa hanya Alun-alun kota itu yang mereka kunjungi. Nampak abang abang tukang ojek yang sedang nongki-nongki diwarung depan sekolah. Ku lambaikan tanganku dan salah satu tukang ojek itu pun menghampiriku.


"Ngojek Neng." ramah bang tukang ojek itu.


"Iya dong bang, masak aku memanggil abang mau ngapain lagi kalau bukan mau ngojek." kuberikan senyum manisku kepada bang ojek itu. Sebelum ku mendaratkan tubuhku dijok sepeda tukang ojek, ku dengar teriakan namaku dipanggil. Tapi aku pura pura tidak mendengarnya. Ku tepuk pundak tukang ojek itu untuk segera meluncurkan sepedanya.


NOTES: BUKAN UNTUK MENGHINDAR TAPI LEBIH TEPATNYA TIDAK INGIN MENGULANG RASA SAKIT LAGI.


Mumpung jaringannya sudah membaik, ku sempatkan untuk Up lagi. Jangan pernah bosen yah membaca Novelu yang jelek dan tidak menarik ini. Masih banyak juga yang mungkin perlu diperbaiki.😊😊😊


Aku bukan penulis NOVEL yang handal yah readers. Semoga suka yah


LOVE YOU dari Wildan😊😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2