SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
NANAH SETELAH LUKA


__ADS_3

Vey tampak terlihat sangat anggun dan cantik. Memakai gaun putih dan bersanggul. Riasan diwajahnya juga tampak tipis.


Sungguh pintar MUA yang memolek wajah Vey. Semua yang ada diruangan itu tersenyum bahagia. Dengan dituntun sang papa Devano mengikuti arahan orang tua laki-lakinya.


Dokter dan suster juga ikut dalam acara bahagia itu. Mengingat kondisi Devano yang belum benar-benar sehat. Papa Ricard meminta dokter untuk mendampingi sampai acara tersebut selesai.


Dengan lemah Devano mengucap ijab qobul dengan sekali tarikan nafas. Vey menangis tertunduk mendengar semua orang berkata ***SAH.


Sah*** dalam artian Vey sudah selesai melajang dan menjadi seorang istri dari Devano. Ucapan syukur menggema dalam ruangan sempit itu.


Tangis haru bunda dan mbak Asri melihat Vey sudah sah jadi milik orang lain. Dengan bercucuran air mata bunda memberikan benda berbentuk hati kepada Devano.


Devano tertatih mengangkat kedua tangannya. Dengan sigap Vey menuntun tangan yang gemetar itu menyentuh kotak merah.


"Pelan-pelan saja, Mas," ujar Vey dan diangguki Devano. Panggilan baru untuk mas tampannya.

__ADS_1


Dibantu sang papa Devano mengalungkan perhiasan itu ke leher Vey. Sungguh momen yang sangat indah untuk diabadikan.


Vey menunduk agar Devano bisa lebih mudah. Sudah melingkar sempurna Devano mencium kening Vey lama. Wildan, memalingkan wajah tidak sanggup melihatnya.


Tyo hanya bisa menenangkan sahabatnya. Tidak bisa merubah keadaan yang tidak berpihak pada nya.


"Wil, sudah saatnya kamu merelakan Vey. Untuk kedepannya kamu harus bisa melepas semua rasa ini. Vey pernah bahagia ketika kamu memilih Irene. Dulu," bisik Tyo.


Tanpa berkata lagi Wildan langsung keluar dan membuat beberapa orang disana melihatnya.


"Mas, coba kamu tenangkan Wildan!" pinta mbak Asri kepada suaminya. Fatih langsung melipir keluar.


Dengan hati-hati Fatih duduk di samping Wildan. Entah, bagaimana memulai pembicaraan. Ketika berhadapan dengan orang yang sedang patah hati.


Fatih hanya bisa mengelus punggung Wildan. Menyalurkan rasa yang mungkin bisa membuat Wildan lebih tenang. Sesama lelaki Fatih ingin menguatkan Wildan yang rapuh.

__ADS_1


"Wil, mas tahu apa yang kamu rasakan. Mas yakin kamu akan menemukan seseorang yang jauh lebih baik dari Vey. Apa kamu tidak ingat dulu, mas juga pernah berada di posisimu. Tapi apa, sekarang mas menemukan wanita yang sangat baik kepada mas. Kamu pasti bisa, Wil. Percayalah, ini semua akan membuka matamu lebih lebar lagi. Jodohmu bukan adik mas. Jodohmu masih Allah sembunyikan agar kau mencari dan menjemputnya. Sudah lah, kamu yang sabar, laki-laki tidak boleh rapuh hanya karena masalah wanita. Boleh rapuh tapi setelah itu tataplah ke depan. Ayo, kita masuk lagi," nasihat Fatih kepada Wildan dan mengajaknya kembali masuk.


"Mas, apa aku sanggup untuk kembali masuk lagi. Melihat Vey dengan orang lain. Meskipun orang lain itu sangat dekat dengan Wildan,"


Mendengar penuturan itu Fatih sempat iku bingung. Kemudian Fatih mengatakan. "Wil, mas tahu betul tapi cukup hari ini kamu terluka. Yakinlah, Vey hanya ingin semua sahabatnya bahagia. Vey mengundang kalian kesini bukan untuk melihat kamu terluka. Ayolah, bangkitlah Wil, ini hanya sementara. Apa kamu tidak kasihan dengan Vey dan Devano kalau kamu pergi. Bagaimana mereka akan bahagia Wil?"


"Mas,"


"Sudah, ayo!"


Dengan paksaan Wildan akhirnya mau kembali masuk kedalam. Dan benar saja, disana di depan itu Vey tersenyum lebar. Rona bahagianya benar-benar terlihat.


Hem,,,,harus ada lagu nih๐Ÿ˜‚๐Ÿคฃ


Harusnya aku yang disana, dampingimu sepenuhnya.

__ADS_1


Harusnya aku yang disana dan bukan dia.


Gitu ta๐Ÿ˜‚๐Ÿคฃ


__ADS_2