SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
CAHAYA PUTIH


__ADS_3

Dua jam lamanya Devano menutup mata dengan ditemani banyak orang. Vey, pergi kedapur untuk membuatkan minum bidan Dina, pak Udin, Jali dan Joni.


Teh hangat manis yang bisa Vey buatkan untuk mereka. Kalau tidak ada kejadian seperti pagi ini. Lemari es akan penuh dengan berbagai macam makanan juga sayuran.


Setelah memeriksa Devano bidan Dina juga memeriksa kondisi Vey sekaligus. Ketenangan yang diberikan dokter Dina bisa membuat Vey cepat membaik.


Diruang belakang dokter Dina menjelaskan kondisi Devano juga kondisi yang dialami Vey. Kenapa sampai sehisteris seperti yang dialami istri dari Devano.


"Ya allah, mbak ayu. Mesakne nemen sampean Nduk.( Ya allah, mbak cantik. Kasian sekali kamu, Nak)?" sendu pak Udin.


"Maka dari itu saya anjurkan untuk menceritakan kepada keluarganya. Nanti, aku coba membantu menghubungi salah satu keluarga dari mereka. Sepertinya, saya batu melihat mereka disini. Apa mereka baru pindah yah, Pak?" tanya bidan Dina kepada pak Udin.


"Injeh, bu bidan. Mereka pengantin baru. Baru beberapa minggu mereka tinggal disini. Keluarganya juga sangat ramah tamah bu bidan," ujar pak Udin.


"Sek, to Pak. Aku sepertinya kenal sama laki-laki ini loh," tunjuk Jali dengan dagunya.


"Kenal darimana kamu Jal. Wong baru pertama ini ketemu kok sudah mengaku-ngaku kenal. Jal, Jailangkung. Huh," sanrgah Joni yang kesal dibuat temannya itu.


"Tenanan, Jon. Mas ini kan pernah saya lihat di aplikasi itu loh?"


"Halah, wes. Ojo halu kui Jailangkung. Wes, meneng engko maning halune diterusno(Halah, wes. Jangan halu kamu itu jailangkung. Sudah, diam nanti dilanjut lagi halunya)," tandas Joni meraup muka Jali.


Dari arah belakang Vey kembali masuk dengan membawa nampan yang berisi 4 gelas teh manis hangat. Pak Udin langsung berdiri dan membantu membawanya.


"Sudah, Pak. Biar saya saja," tolak Vey dengan memberikan senyuman manisnya.


"Biyuh, biyuh. Guyune manis tenan, Jon(biyuh, biyuh. Senyumnya manis banget, Jon)," bisik Jali yang didengar bidan Dina juga pak Udin.


"Ileng, punya orang mbak ini(ingat, punya orang mbak ini)," tegur Joni kepada Jali.


"Mas Jali, memang gak bisa lihat orang senyum manis mbak Vey. Maaf, yah?!" kata Joni merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa Mas. Saya maklumin saja," jawab Vey.


"Silahkan diminum tehnya, mumpung masih hangat. Maaf, hanya bisa menyediakan teh hangat saja, bu bidan, pak, mas Jojal," sambung Vey merasa tidak karena hanya teh yang bisa diberikannya.


"Sek mbak, maaf sebelumnya. Jojal apa yah mbak?" tanya Jali bingung. Joni yang duduk disampingnya menyenggol dengan sikunya.


Vey tersenyum, memang salahnya juga memberikan singkatan nama untuk mereka.


"Hee hee hee, mas Joni dan mas Jali," cengir Vey yang semakin membuat Jali terpukau dengan kecantikan bercampur manis wajahnya.


Joni yang sadar semakin dibuat geram dengan tatapan temannya yang tidak biasa melihat Vey.

__ADS_1


"Mbak, ada obeng tidak? Saya mau pinjam sebentar boleh?" tanya Joni menekan kata obeng sambil melirik Jali.


Bidan Dina juga pak Udin menahan tawa seperti mengerti akan ucapan lelaki manis itu.


"Mau buat apa, Mas Jon?" tanya balik Vey.


"Buat menyongkel bola mata yang kurang ajar, Mbak Vey,"


Jali yang mendengar itu langsung memukul keras bahu Joni. Sehingga, membuat sang empunya meringis kesakitan.


"Ngawur, kowe iku Jojon. Jangan di dengerin mbak. Suka ngawur dia. Huh, satpam jones, iri bilang pam satpam."


Semua yang diruangan itu dibuat tertawa dengan kelakuan kembar siang itu. Tanpa mereka sadari tangan Devano terangkat.


"Eh," eluh Devano merasakan pening di kepalanya.


Vey yang mendnegar itu langsung menoleh juga langsung menghampiri suaminya.


"Mas, sini saya bantu. Pelan-pelan," Vey membantu mendudukan suaminya dan menyandarkannya.


Bidan Dina langsung memasang stetoskopnya lagi dan bergegas memeriksa Devano. Bidan Dina cukup lega ketika mengetahui Devano sudah cukup baik.


"Bagaimana?" tanya Vey was-was.


"Iya, Bu bidan. Terima kasih. Maaf jadi merepotkan semuanya," ujar Devano dengan suara yang masih terdengar lemah.


"Saya suka direpotkan kok masze," seloroh Jali sambil tersenyum lebar.


Devanonjuga Vey tertawa kecil mendengarnya. Beruntung sekali Vey juga Devano berada dilingkungan yang masyarakatnya memiliki rasa guyup dan peduli terhadap tetangga lain.


***


Seminggu berlalu Devano dan Vey beraktifitas kembali. Vey kembali pada kesibukannya menjadi seorang dokter. Devano kembali pada kesibukan awalnya sebagai pemilik caffe shop.


Tiap hari Devano harus bolak balik kota ke pertengahan desa untuk singgah. Bisnis yang ditekuninya berada jauh dari rumah yang sekarang ditinggali bersama sang istri.


Vey, bekerja di rumah sakit swasta tidak jauh dari arah rumahnya. Bu bidan Dina telah merekomendasikan Vey bekerja disalah satu rumah sakit swasta tersebut.


Mengingat Vey lulus dengan nilai yang cukup baik dikalangannya. Bahka lulus sebelum waktunya selesai. Menjadi seorang dokter sudah menjadi impian Vey juga mendiang Fahmi dahulu.


Memakai jas putih bersih sungguh kebanggaan terbesar untuk Vey. Devano yang menatap istrinya pun ikut tersenyum. Ini awal sebuah kehidupan yang harus mereka jalani bersama.


Sebelumnya, Vey dipertemukan dengan teman bidan Dina. Mereka membicarakan pekerjaan yang akan ditugaskan kepada Vey. Ada perkataan yang menyinggung perasaan Vey kala itu.

__ADS_1


Mengingat depresi Vey yang pernah kembali muncul tiba-tiba ketika melihat darah. Bidan Dina mencoba memberikan penjelasan. Bahwa seseorang yang memiliki depresi tinggi tidak bisa dijadikan sebuah alasan untuk tidak dipekerjakan sebagai seorang dokter.


"Heh, dokter gila yang akan menjadi sebutan untuk mbak Vey," remeh dokter Triya dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


Vey tertunduk lesu, ada setetes keringat yang membasahi dahinya. Tangannya saling bertautan cemas. Benar, memang benar jika nanti dirinya akan menjadi seorang dokter. Pasti sebutan itu akan ada untuknya.


Bidan Dina selaku orang yang merekomendasikan Vey. Merasa tidak enak saat Vey dihina langsung. Dengan senyum sabarnya bidan Dina kembali bersuara.


"Maaf, mbak Triya. Apa atasan mbak Triya pernah mempermasalahkan masa lalu mbak Triya juga. Apa harus saya perjelas juga di depan saudara saya?" sergah bidan Dina.


Dokter Triya langsung bungkam dan mencoba menegakkan tubuhnya. Bidan Dina sangat tahu betul bagaimana temannya ini suka meremehkan seseorang. Menjatuhkannya langsung dengan ucapannya yang bak belati itu.


Pantulan kesuraman terbaca oleh Devano. Meski tidak sedikitpun Vey menceritakan pertemuan menyakitkan itu. Tetapi, sebagai lelaki yang bisa memahami raut suram wajah istrinya. Langsung berjalan dan memeluknya dari belakang.


Melihat sebuah tangan melingkar di perut datarnya. Dengan dagu yang menempel pada bahu kanannya. Vey, mendongakkan kepalanya dan tersenyum pada kaca di depannya.


"Jangan awali pagimu dengan kesuraman, Dik. Tetap tegakkan bahu dan luruskan pandanganmu ke depan." pesan Devano sebelum mengecup pipi putih istrinya.


Blush!


Seketika wajah Vey berubah warna menjadi merah padam. Devano terkekeh melihatnya, pasalnya mereka sudah menikah dan sudah bersama selama 1 bulan ini. Tetapi, Vey wanita itu tetap merasa malu jika menerima perlakuan seperti itu.


Melihat dirinya ditertawakan suaminya. Vey lantas melepas paksa kedua tangan Devani. Mendapat kekesalan dari sang istri Devano semakin menggodanya.


"Dik, aku heran sama kamu. Kita sudah menikah selama 1 bulan loh. Tapi kamu kayak masih malu-malu embek gitu," goda Devano.


"Mas, kok embek sih. tidak sekalian malu-malu guguk gitu," sewot Vey melengos. Tangannya tidak berhenti menyiapkan berkasnya.


"Haa haa haa. Dik, kamu itu yah. Sini, sini mas tanya sama kamu. Apa kamu pernah lihat guguk malu pas dipanggil?" pertanyaan Devano makin ngaco dan membuat Vey semakin kesal dibuatnya.


"Mas, wes hop. Ora usah diterusne. Ndang mangkat sana nanti kamu pulangnya malam lagi(Mas, sudah stop. Jangan diterusin. Cepat berangkat sana nanti kamu pulangnya malam lagi)!" elak Vey.


"Dik, dik. Ayo berangkat sama-sama," ajak Devano menarik pergelangan istrinya yang juga siap berangkat.


"Ya allah, terima kasih untuk semuanya. Terima kasih untuk sebuah cahaya putih yang Engkau dikirmkan kepadaku. Devano, mas tampan yang aku tabrak di parkiran pasar." batin Vey.


"Hii hii,"


"Lha, kok cekikikan, Dik?" tanya Devano heran.


"Em, tidak aku lagi kepikiran sesuatu. Jangan lupa bekalnya yah๐Ÿ˜Š," ingat Vey kepada sang suami.


NOTES: MASA LALU SESEORANG MUNGKIN SELAMANYA AKAN DIINGAT BURUK OLEH SEMUA ORANG. TAPI, SATU HAL YANG TIDAK PERNAH TERLIHAT YAITU MASA LALUNYA SENDIRI.

__ADS_1


__ADS_2