SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
SESUATU YANG TERSEMBUNYI


__ADS_3

Pagi ini tubuhku sangat segar sekali, semalam tidurku sedikit terusik dengan mimpi itu lagi.


Mbak Asri sudah bangun terlebih dulu dan sudah berada didapur. Bukan aku malas untuk bangun pagi, tapi semalam benar-benar aku baru bisa tidur saat pukul tiga pagi.


Setelah, menyelesaikan rutinitasku dikamar aku segera menuju dapur. Disana sudah ada Eyang Putri, Mbak Asri, dan juga orang yang biasanya membantu Eyang Mbok Darmi.


" Selamat pagi semuanya." ku ciumi satu persatu wanita yang bergelut dengan perabotan itu.


" Pagi juga." jawab mereka serempak. Ku tertawa kecil mendengarnya seperti murid Tk rasanya.😊


" Eyang Kakung kemana Uti? Kok tidak kelihatan." tanyaku sambil melihat sekeliling.


" Eyang ada diteras belakang Ndok sama Fatih." jawab Eyang Putri tapi aku yang tidak tau Fatih itu siapa hanya mengernyitkan dahiku heran.


Aku yang tidak ingin tahu lebih dalam lagi akhirnya, memutuskan untuk keteras belakang. Dari arah pintu sebelah sudah terdengar tawa renyah dari Eyang Kakung.


Aku semakin penasaran dibuatnya siapa Fatih itu sebenarnya. Aku mempercepat derap langkahku. Saat tiba diambang pintu teras belakang aku mendengar suara yang tidak asing dipendengaranku.


Eyang terlihat sangat akrab dengan Mas Fahmi gadungan itu. Aku peluk Eyang Kakung dari belakang tanpa mau melihat laki-laki itu. Ku lingkarkan kedua lenganku dileher keriput itu dengan mencium pipinya.


Tampak sangat jelas kulit keriputnya saat dilihat dari dekat seperti saat ini, rambutnya pun juga sudah berganti jadi putih. "Sehatkan beliau ya allah." batinku berucap sambil ku mempererat pelukanku.


" Sudah bangun kamu Ndok, nyenyak sekali tidurmu yah sampai jam enam baru bangun." tanya Eyang Kung.


Ku berganti duduk disamping Kakung tapi masih bergelayut manja dilengannya.


" Emb ... Semalem Vey tidak bisa tidur nyenyak Akung. Oh yah Kung, kemarin kan Vey nemuin buku yang digembok. Itu punyak siapa Kung. Perasaan Vey tidak pernah punya buku yang digembok." aduku kepada Eyang.


" Terus bukunya mana Ndok." tanya Eyang. Orang yang didepan Eyang melihatku dengan diam.


" Ada dikamar Vey Kung, nanti deh kalau masik Vey kasih lihat. Vey juga tidak pernah punya buku warna biru seperti itu." sambungku. Ekor mataku masih melirik kearah Mas Fahmi gadungan itu.


" Siapa sih dia itu, wajahnya benar-benar sangat mirip. Hidungnya tidak begitu mancung tapi tatapannya itu seperti ...." belum sempat batinku melanjutkan Mbok Darmi memanggil kami untuk sarapan.


Aku berjalan terlebih dulu kedalam disusul dibelakang ada Eyang dan dia. Aku tersenyum saat Eyang putri menyuruh ku duduk disampingnya.


Kami semua sarapan dengan keheningan menikmati setiap makanan yang masuk kedalam mulut masing-masing. Sudah tradisi dikeluargaku saat makan tidak berbicara.

__ADS_1


Mungkin lainnya juga begitu tapi tidak sedikit orang yang makan, terkadang masih bersuara. Eyang mengajarkan kepada semua anggota keluarganya disiplin dalam segala hal.


Mengingat Eyang Kakung dulu juga seorang angkatan, prinsip disiplin yang dulu beliau pelajari sampai terbawa kerumah.


Selesai makan aku membantu Mbak Asri dan Mbok Darmi merapikan meja makan. Selesai mencuci piring aku mau mengajak Mbak Asri kesuatu tempat. Tempat yang dulu pernah menjadi menjadi tempat yang paling indah.


Saat kedua tanganku sibuk mencuci piring-piring kotor, aku bersenandung sambil senyum-senyum sendiri. Mbak Asri yang menyadari itu menyenggol lenganku.


Mbak Asri mengangkat dagunya seperti ada apa denganku. Aku yang sedang asyik bersenandung terkejut saat Mbak Asri dengan sengaja menyenggol lenganku.


Aku menggelengkan kepalaku sebagai jawabannya. Tapi bukan Mbak Asri namanya kalau masih saja mengganggu jika belum menemukan jawabannya.


" Apa sih Mbakku sayang? Kenapa, kepo yah." rangkulku dari belakanh sambil menyandarkan daguku pada pundaknya.


" Kamu yang kenapa, dari tadi senyum-senyum sambil nyanyi gak jelas gitu. Kenapa kamu cerita sama Mbak." cecar Mbak Asri. Kekepoannya sudah kambuh lagi, tapi aku selalu senang kepadanya. Sekarang hanya dia yang selalu mendengarkan apa yang aku ceritakan.


" Mbak, udah mandi belom. Kalau belom cepetan mandi sana aku mau mintak temenin Mbak Asri ke suatu tempat." usirku kepada Mbak Asri yang sudah selesai membersihkan meja makan.


" Ngawur aja kalok ngomong (mencubit pucuk hidungku). Mbak udah dari subuh tadi yah mandinya, kamu tuh yang belum. Sana pergi mandi bau tau." sekarang gantian aku yang Mbak Asri usir sambil emngibas-ngibaskan tangannya. Tangan satunya menutup hidung bangirnya.


Capek bercanda didapur aku dan Mbak Asri berpamitan kepada kedua Eyang. Aku menyalami kedua tangan sesepuh yang gaul itu. Ku harap hari ini aku tidak lagi merasakan itu.


Tapi sebelum aku benar-benar keluar, aku menunjukkan buku yang tadi aku bilang ke Eyang. Ku serahkan buku itu ke Eyang Kakungku.


" Nih Kung bukunya, aku bolak balik gak ada namanya." Eyang Putri dan Eyang Kakung mengambil buku itu tanpa berkata. Ditambah lagi wajah terkejut dari Mas Fahmi gadungan itu.


Aku tidak mau ambil pusing saat ini. Jika sekarang aku belum tau mungkin besoknya Eyang pasti memberi tahuku.


Aku dan Mbak Asri berpamitan kembali kepada kedua Eyang itu. Melenggang keluar rumah dengan ceria.


Mbak Asri memberhentikan angkutan umum yang biasanya dinaiki jika kepasar. Jarak antara tempat yang mau aku datangi dengan rumah Eyang sekitar 43km.


Beda kota dengan rumah Eyangku, jika rumah Eyangku di Kota J tempat ini berada di Kota K. Mungkin kira-kira jarak tempuhnya hanya 1 jam 4 menit.


Udara di kota sangat jauh beda dengan dengan udara yang berada didesa. Didesa juga ada alat transportasi, tapi tidak ada pabrik satupun yang berdiri disana.


Jika siang hari udara didesa akan sangat terasa sejuk. Meskipun panas tapi tidak sebegitu terasa menyengat. Lama diangkot membuatku ingin tidur rasanya.

__ADS_1


" Jangan tidur Dek, bentar lagi nyampek lho." cegah Mbak Asri yang tau kalau aku ngantuk.


Aku menyumpal telingaku dengan headset untuk mendengarkan musik. Didalam angkot tidak begitu ramai penumpang, jadi tidak sampai harus duduk berdempetan.


Satu jam perjalanan akhirnya aku sampai di kota yang aku tuju. Setelah turun aku mengajak Mbak Asri untuk berjalan kaki. Tempatnya tidak terlalu jauh dari jalan umum.


"Hah, sampai juga. Sudah banyak berubah sekali tempat ini." ku edarkan pandanganku melihat tempat yang penuh kenangan ini.


Aku mengajak Mbak Asri duduk dirumah pohon yang dulu sering menjadi tempatku dan Mas Fahmi.


" Vey, ini yang kamu bilang tadi dirumah." tanya Mbak Asri yang sudah duduk disampingku. Ku anggukan kepalaku sambil menghirup udara dari atas rumah pohon.


" Dulu, hanya rumah pohon ini saja yang ada. Dan disini aku dulu diajak Mas Fahmi saat kelas 3 SMP. Mbak Asri gak tau, waktu itu Mas Fahmi juga mau ngajak Mbag Asri tapi Bunda bilang Mbak Asri kerja kelompok." kataku menjelaskan.


Mbak Asri manggut-manggut mendengarkan penjelasanku.Aku dan Mbak Asri menikmati suasana diatas rumah pohon ini. Terlihat sangat indah jika dari atas. Hening sesaat, Mbak Asri memutar lehernya kearahku.


" Mbak mau nanyak sama Vey, tadi itu buku apa yang dikasihkan ke Eyang." tanya mbak Asri.


" Aku juga gak tau Mbak, waktu itu aku melihat meja belajarku dan ditumpukan buku ku ada buku gembok itu. Seingat Vey, Vey tidak pernah memiliki buku yang terkunci itu. Makanya Vey tidak mau membukanya." jawabku yang masih melihat pemandangan dari atas.


" Emb ... begitu. Tadi pas kamu memberikan buku itu ke Eyang, mimik wajah kedua Eyang seketika berubah Apa kamu melihatmu juga Vey." kata Mbak Asri yang menangkap keganjilan dirau muka para Eyang begitupun dengan laki-laki itu.


Aku hanya menggeleng dan mengangkat kedua bahuku acuh. Aku saat ini tidak ingin memikirkan buku misterius itu, saat ini aku ingin menikmati sore hari diatas rumah pohon ini.


Mbak Asri tidak lagi menanyaiku perihal buku itu. Dia cukup paham dengan kediamanku itu. Kita berdua menikmati senja sore hari dari sini.


NOTES: SESUATU YANG TERSEMBUNYI TIDAK AKAN LAMA TERUNGKAPNYA.


Jangan lupa LIKE, BINTANG 5, SARANnya yah😊.


buku apa yah itu dan siapa laki-laki yang dibilang Vey Fahmi gadungan itu.😊😊


Untuk saat ini aku akan menceritakan tentang Vey dulu yah. Wildan, Iren dan lainnya disembunyikan duluπŸ˜‰.


happy reading readers ku😘😘😘😘😘


aku padamuπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2