
Rambutnya dikuncir setengah dengan pita kecil. Seperti biasa Vey hanya memoleskan sedikit bedak. Di oleskan juga lipstik tipis di bibir tipisnya. Sekali lagi Vey mematuk dirinya di depan kaca.
"Ok! Tidak terlalu menor," gumam Vey mengambil tas kecilnya di gantungan dekat meja riasnya.
Vey keluar dari kamarnya, kedua orang tua itu sangat begitu takjub. Bu lek berdiri menghampiri keponakannya yang selama ini sudah menemaninya.
"Ya allah, Nduk! Ayu tenan kamu. Pak e lihat anakmu, ayu yo pak?" kata bu lek.
"Dasare wes dadi wong ayu bu ne, gawe klambi opo wae yo tetep wayu to(Dasar nya sudah jadi orang cantik, bu! Pakai baju apa saja tetap cantik),"ย puji pak le.
Semuanya sudah siap untuk berangkat. Vey memesankan taksi Online untuk mereka ke kafe yang dituju.
Di dalam perjalanan semuanya diam. Hanya sesekali terdengar suara pak de yang berbasa-basi dengan supir taksi. Vey memandangi jalanan yang mulai ramai ketika malam tiba.
Udara dingin dengan sisa-sia aura hujan masih menyeruak. Jendela mobil Vey turunkan setengah. Kepala Vey dimajukan sedikit mendekati tepian jendela.
"Ndok, kok wajahmu sedih begitu?" suara bu lek mengejutkan Vey yang tidak tahu kenapa menjadi sedih.
"Tidak, bu lek! Vey, tidak sedih kok," jawab Vey tersenyum. Bu lek ikut tersenyum dan kembali diam.
Mobil berhenti tepat di parkiran cafe. Pak le yang duduk di depan dekat supir turun terlebih dahulu. Dan, setelah itu diikuti Vey dan bu lek.
Suara alunan musik samar-samar terdengar. Suasana kafe masih tampak terlihat sepi. Hanya terlihat beberapa pekerja yang riwa-riwi menyiapkan semuanya.
Suara khas penyanyi laki-laki menyanyikan lirik lagunya mengalun begitu merdu. Tubuh Vey terasa menegang saat pandangannya menatap sosok lelaki tampan nya bersama dengan seorang wanita cantik.
Lagu yang terus mengalun merdu membimbing Vey terus melangkah lebih dalam lagi. Pak le dan Bu le yang tahu reaksi Vey. Hanya tersenyum-senyum tak terlihat.
__ADS_1
๐ถ๐ถ
Saat kuputuskan
Bertemu orang tuamu
Kuyakinkan diri
Kaulah yang terbaik
Dan saat kau memilih
Aku yang pantas untukmu
Hati ini berikrar
Ku Yakin kaulah jawaban
Di setiap pintaku
Walau
Ku belum tahu namamu
Bisikkan di sujudku
Di sepertiga malamku
__ADS_1
Untuk
Kehadiranmu sempurna kan imanku
Haa-aa
Lanjutin sendiri yah lirik lagunya๐๐.
Devano dan adiknya langsung menghampiri ketiga orang yang baru saja datang. Tidak lupa, Devano menyelipkan tangan adiknya di lipatan lengannya.
Melihat keromantisan mereka hati Vey, tiba-tiba berdesir. Seakan aliran darah mengalir deras di saraf-saraf otak dan tubuhnya.
Matanya tetap memandang lurus kedua pasangan yang memakai baju sarimbit.
Nah, loh, baju aja berpasangan masak kalian kalah sih๐๐๐๐๐๐
Devano tersenyum seperti biasanya. Begitupun, wanita cantik disamping Devano. Dengan sopannya langsung menjabat tangan kedua orang tua paruh baya itu.
Devano mempersilahkanย ketiga orang itu untuk menduduki tempat duduk paling depan sendiri.
Devano benar-benar menjalankan niat baiknya. Alisya, Nindi dan Reza sudah ikut berkumpul dengan keluarga Vey dan Devano.
Saat itu juga mereka bertiga juga sangat terkejut.ย Dengan, semua yang Devano lakukan. Alisya sampai terharu mendengar kabar bahagia itu.
Flashback on.
Sedikit demi sedikit tamu undangan berdatangan. Kecuali, dua keluarga yang masih bersembunyi menunggu gilirannya keluar.
__ADS_1