SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
BAHAGIAKU MELIHATNYA TERSENYUM


__ADS_3

Ujian akhir dan semuanya sudah selesai kini nurid kelas 3 tinggal menunggu hasilnya saja. Sedangkan kelas satu dan kelas dua hari ini menghadapai ujian. Setelah 2 minggu kemaren kelas tiga dan kelas lainnya diliburkan.


Untuk jelas tiga sekarang bebas, mau datang kesekolah juga boleh tidak datangozn juga tidak apa-apa. Karna, sekarang mereka tidak menjalani serangkaian sekolah lagi. Empat sekawan itu diminta untuk membantu-bantu disekolah.


Dari membantu menyiapkan soal-soal ujian sampai disuruh untuk memvantu mengoreksi jawaban. Vey, Wildan, Tio dan Irene dibere tugas yang berbeda-beda. Vey dan Wildan mengoreksi lembar jawaban sedangkan Tio dan Irene bertugas untuk membantu diperpustakaan dan ruang labolatorium.


Siswa kelas tiga lainnya hanya sebagian yang datang, mereka juga ikut serta membantu para guru. Semuanya terlihat sangat tenang tidak segaduh biasanya. Mungkin karna, adik kelasnya sedang menghadapi ujian sekolah.


Wildan dan Vey sudah selesai dan keluar dari ruangan kepsek. Mereka berjalan menuju kantin sekolah untuk membeli minuman dan cemilan buat mereka. Tio juga Iren masih sibuk di ruangan Labolatorium.


Ruang kepsek berada dilantai dasar sendiri, Wildan Dan Vey berjalan menaiki anak tangga dengan kediaman masing-masing. Vey sangat heran dengan diamnya Wildan ini, Wildan memang jarang sekali bicara kalau sama teman lainnya. Tapi, diamnya Wildan yang sekarang membuat Vey bingung.


"Wil, sebentar lagi kita semua sudah lulus kedepannya kamu mau ngapain. Mau lanjut apa langsung kerja," tanya Vey mencairkan suasana.


"Kayaknya langsung kerja Vey, aku ingin membantu orang tuaku. Untuk kuliah bisa ditunda duluan kamu tau sendiri kan gimana kondisi ekonomi keluargaku," jawab Wildan.


"Oh! Iya gk papa Wil, kan kalau kuliah itu tidak langsung kan. Tahun depan atau tahun-tahun berikutnya kan juga bisa. Sukses yah Wil, tapi kalau kamu dan orang tuamu membutuhkan bantuan jangan sungkan-sungkan yah bilang sama aku atau langsung datang kerumah. Pintu rumahku selalu terbuka kok buat kalian semua," ujar Vey tersenyum.


Memang kondisi ekonomi didesa yang Vey tinggali sekarang sangat memperhatinkan. Kehidupan disini kebanyakan sebagai buurh tani dan buruh serabutan. Ibu-ibunyapun kebanyakan hanya berdiam dirumah. Sebagian ada yang menjadi buruh cuci juga.


Tio dan Irene baru saja keluar dari ruangan Lab, Vey terlihat meoamvaikan tangan kepada kedua sahabatnya. Mereka berjalan kekantin bersama. Mereka menikmati setiap waktu bersama, jika dulu hanya ada Tio, Wildan dan Irene sekarang mereka mendapat satu teman lagi.


Mereka yang dulu saling menghindar, saling menutup diri bahkan tidak pernah lagi berkumpul. Vey, kedatangan gadis cantik itu merubah semuanya, Vey yang baru kenal Tio dan Wildan langsung akrab dan langsung


Setelah menemukan tempat duduk yang nyaman mereka menikmati makanannya. Dengan mereka aku bisa bangkit lagi seperti awal dulu bersamanya. Aku bahagia, aku bahagia merasakan tawaku sendiri. Tawa yang tak pernah selepas ini aku kembangkan.


"Gimana hubungan kalian saat ini. Adem ayem saja kan kalian," tanya Tio kepada dua pasangan yang duduk didepannya.


"Yah gak gimana-gimana Yo? Emangnya kudu gimana kita. Yah gini aja dulu nanti kalau waktunya sudah tiba pasti kamu tau sendiri lha," ujar Wildan santai matanya dikedipkan sebelah kepada pujaan hatinya. Irene yang mendapat kedipanpun gelagapan menanggapinya pipinya merona.


Vey tertawa paling keras melihat Irene yang salah tingkah.


"Eh eh--! Tawamu Vey kenapa jadi los gitu yah," goda Tio. Vey bukan mengecilkan tawanya malah semakin menjadi-jadi. Semuanya pun juga ikut tertawa melihat Vey tambah terpingkal-pingkal.

__ADS_1


"Sudah, jangan ketawa terus sakit nih perutku Yo. Emang kalian ngetawain apa sih sampek ngakak gitu," tanya Vey yang tidak merasa kalau dirinya lah yang memulai tertawa.


Tio, Wildan dan Irene saling pandang melihat tingkah Vey yang sekarang. Yang dipandang masa bodo melanjutkan makannya. Seperti tak berdosa Vey juga menatap sahabatnya.


"Woi, malah bengong sih," menyenggol lengan Tio yang masih melihatnya.


"Lha kamu tadi ngetawain apa sampek ngakak gitu Vey. Kita mah cuman ngikut kamu aja," kata Tio sambil memposisikan duduknya menghadap Vey.


"Aoa sih Yo, aku ngerasain Irene yang pipinya kek makek blas on itu. Wildan juga kenapa tiba-tiba bisa ngegombal gitu sih," jelas Vey yang masih mengaduk-aduk minumannya.


"Walah,?" Ucap Wildan, Tio dan Irene bersamaan. Mereka menepuk jidat masing-masing.


Vey yang minum hampir twrsedak melihat ketiga sahabatnya itu. Dan tawa merekapun pecah juga menjadi pusat perhatian murid lainnya.


"Eh, berisik tau ada adek kelas kita ujian noh ngakak bener kalian," ujar salah satu murid yang disebrang meja mereka. Keempat anak itu pun seketika menghentikan tawanya.


"Kamu Ren, mau nerusin kuliah apa kerja kek Wildan," tanya Vey.


"Aku mau ikut saudaraku yang dijakarta, Adiknya Ibu ku kan gak punya keturunan jadi aku diboyong kesana," jawab Tio tanpa ditanya.


"Emang sapa yang nanyak kamu Yo," goda Vey dengan wajah yang sok sinis.


"Ya kalik aja kamu atau Wildan dan Irene nanyak aku kasih bocoran duluan," jawab Tio lagi.


"Emang, kalian nanyak," kata Vey menatap wildan dan Irene yang berada didepannya. Yang ditanyak malah menggelengkan kepalanya.


Tio melihat kearah Vey dengan wajah kesalnya dan Vey yang ditatap malah bangkit karna tidak tahan menahan tawanya yang akan meledak kembali. Diikuti Wildan dan juga Irene yang sudah juga menahan tawanya, sedangkan Tio masih terduduk dengan wajah kesalnya.


"Awas kamu Vey, tunggu pembalasanku fergusoh," kesal Tio sambil memperagakan musuhnya yang menunjuk lawannya.


Vey dan Irene yang masih berjalan santai diikuti Wildan menolehkan keoalanya kebelakang. Dimana Tio yang Mulai berdiri dan berlari kecil mengejar mereka. Beyy yang melihat Tio lari mengahampirinya langsung ikut berlari dan menunjulurkan lidahnya mengejek Tio.


Wildan dan Irene tertawa melihat kekinyolan mereka berdua, Tio langsung mengejar Vey kebelakang sekolah. Dimana disana sekarang menjadi basmen mereka yang baru.

__ADS_1


"Ngeselin yah kamu Vey sekarang suka banget bikin aku kesel," kata Tio saat duduk disamping Vey. Sambil terngah-engah.


"Hihihi, maaf yah sayang ku? Bentar lagi kita gak akan bisa ketawa bareng kek tadi Yo." kata Vey mencubit kedua pipi Tio.


Tio yang mendapat kata SAYANG dari Vey pun seperti kejatuhan berlian yang banyak. Mulutnya beku tidak bisa melontarkan ucapan balasan untuk gadis mungil didepannya.


kedua tangan Vey masih berada dipipi Tio, kedua mata mereka saling pandang. Vey, tidak sadar jika perlakuan dan perkataannya bisa membuatnya salah untuk mengartikan. Lama mereka saling pandang tanpa mereka sadari Wildan dan Irene sudah berada dibelakang mereka.


Wildan yang melihat Vey menatap Tio sangat intes hatinya seperti tergores pisau.


"Pandangan matamu menarik hati," nyanyi Irene menggoda Vey dan Tio. Mendengar suara itu Vey maupun Tio pun langsung salah tingkah.


"Eh, kalian aku kira langsung masuk sekelas," ucap Vey mencoba menetralkan debaran hebat dihatinya.


"Iya ngagetin aja sih kerjaannya," jawab Tio


"Terserah kita lha mau kemana. Inikan tempat umum kali-kali kamu lupa Vey," sargas Wildan dingin.


Vey dan Tio cekikikan mendengarnya mereka kira Wildan dan Irene tidak mengikuti kebelakang sekolah. Ternyata, mereka juga membuntuti mereka yang tadi saling mengejar.


"Kamu, kenapa Wil kok ditekuk gitu wajahmu. Perasaan tadi baik-baik saja." kata Tio heran karna mimik mukanya Wildan sudah berubah


"Maksutnya, aku gak papa, cuman capek aja kali," jawab Wildan biasa.


"Habis ini kita langsung pulang apa mampir dulu kerumah Vey," tanya Irene.


"Aku terserah mereka aja Ren toh pintu rumahku juga terbuka lebar untuk kalian semua," jawab Vey.


Tio dan Wildan saling bungkam tidak ada yang menjawab. Tio masih sibuk dengan perubahan muka Wildan. Sedangkan Wildan bingung dengan hatinya.


Nah loh,, ,,,,plin plan kan kamu wilπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Solat tahajud cobak Wil biar gk plin planπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‹

__ADS_1


__ADS_2