SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
KABAR DUKA TENTANG REZA


__ADS_3

"Sya, kamu merasa tidak dari tadi ada yang memperhatikan kita," kata ku yang celingukan mencari seseorang.


"Mana sih Veyo, tidak ada kok. Itu cuma perasaanmu saja. Sudah yuk, kita pulang sudah sore banget ini," ajak Alisya langsung mengambil sepedanya lagi.


Aku yang masih penasaran tetap clingak-clinguk. Menengok ke kiri dan ke kanan. 'Benar mungkin perasaanku saja,' batin Ku langsung berdiri juga mengambil sepeda yang aku sandarkan di pohon.


Kami berdua langsung berjalan menuntun sepeda kami menyebrang jalan. Ditengah tempatku menyebrang  aku merasa diperhatikan lagi.


"Sya, ayo cepetan. Aku jadi merasa parno deh disini lama-lama!" kata ku yang merentangkan tanganku untuk menyetop kendaraan.


Melihat kendaraan berhenti aku langsung menyebrang masih dengan menuntun sepedaku. Sesampainya di pinggir jalan aku langsung naik ke sepeda dan aku mengayuh sepeda ku dulu.


Alisya juga langsung menaiki sepedanya. Kita berdua mengayuh lagi sepeda ke arah pulang. Pikiranku masih terganggu, aku merasa sejak tadi ada yang memperhatikan ku dengan Alisya.


Hampir setengah jam aku dan Alyssa mengayuh sepeda. Kurang setengah kilometer lagi kita sampai dirumah. Hari ini Alisya tidur dirumah pak lek ku.


Lama kita mengayuh akhirnya sampai juga. Aku langsung menaruh sepeda di samping rumah diikuti Alisya. Aku mengajak Alisya masuk ke dalam.


Rumah sudah dalam keadaan sepi. Bulek kerumah tetangga yang ada hajatan. Dirumah hanya ada aku dan Alyssa. Rencana hari ini setelah bersepeda masih aku pikirkan.


Aku menyuruh Alisya untuk mandi terlebih dulu, sedangkan aku membuatkannya minuman. Tidak butuh waktu lama Alisya sudah selesai mandi dan sekarang giliranku.


Setelah semuanya sudah siap aku mengobrol dengan Alyssa di ruang tengah. Tiduran sambil menonton tivi. Bosan dengan acara yang begitu-begitu saja aku langsung mematikannya.


"Sya, enaknya ngapain yah, bosen kalau dirumah terus," tanyaku yang masih tiduran sedang Alisya sedang memainkan ponselnya.


"Ngapain yah, Vey! Aku mau keluar males juga nih. Lagi pengen dirumah saja," jawab Alyssa dengan menatap terus ke layar ponselnya.


"Lagi chatan sama siapa sih Sya? Asyik bener!" tanya ku yang bangkit pergi ke kamar.


Alisya masih fokus dengan ponselnya, jari jempolnya masih menari diatas layar pipih itu. Sampai aku keluar kamar Alisya tetap saja sama.


Aku sudah siap dengan tas kecil dan ponselku yang aku taruh di dalamnya. Aku berniat keluar untuk membeli camilan dan belanja kebutuhan dapur sekalian.


"Sya, aku tinggal sebentar tidak apa-apa kan?" tanyaku setelah keluar kamar.


"Kemana Veyo, iya tidak apa-apa? Aku dirumah aja kasihan bu lek nanti," jawab Alisya yang sekarang sudah menengok ke arahku.


"Biasa, mau belanja bulanan. Ya sudah takut kesorean aku. Dan bibi," kakek ku berpamitan.


"Ye, memangnya aku pembantumu. Aku kan tamu disini?" bantah Alisya cemberut.

__ADS_1


"Iya tamu tak diundang, haa haa haa," ejek ku berlari keluar.


Sampai diluar aku langsung mengambil sepeda motor yang berada di samping rumah. Motor dari hasil jerih payahku menabung. Sedikit dibantu Bunda sih.


Aku sudah berada di jalan menuju pasar. Tidak butuh lama untuk ke pasar cuma lima menit saja. Sampai juga dan aku parkir langsung sepeda merah ku.


"Lha, kok tutup pasarnya!" gumamku langsung lemes. Tengok kanan kiri tidak ada orang. Ku tepuk jidatku, kalau pasarnya buka pagi hari saja sampai siang.


"Kok bisa bego gini nih, aduh." Aku berbalik tanpa melihat kebelakang.


Brukk!


Aku jatuh menimpa sesuatu yang tidak begitu keras menurutku. Kedua mataku yang terpejam ku buka sebelah. Aku terkejut saat melihat tampan di bawahku. Dengan segera aku beranjak bangun dari tubuhnya.


"Maaf, maaf Mas. Masnya ada yang sakit?" tanyaku tidak enak. Aku merasa wajahku sudah panas.


Laki-laki di depanku hanya berdiri tegak dan tidak bicara apapun. Kedua matanya masih menatapku, wajahnya datar tanpa ekspresi. Aku masih membolak-balikkan tubuhnya dia tetap diam saja.


"Mas, Anda tidak apa-apa kan?" tanyaku lagi dia hanya menggelengkan kepalanya dan langsung beranjak pergi.


"Hah, orang aneh. Dari tadi ditanya hanya diam saja habis itu langsung pergi, capek deh!" kataku menepuk jidat ku.


Mataku masih menatap punggung itu yang mulai sedikit menjauh. Matanya sangat indah, hidungnya mancung, buku mata yang lentik seperti dijepit. Benar-benar bukan seperti laki-laki, wajahnya ayu dan putih bersih.


"Ya allah." Jantungku langsung berdegup kencang. Buru-buru aku kembali ke sepeda ku dan langsung men starternya.


Di perjalanan pulang kerumah aku terus terbayang wajah tampannya dan sekilas senyumannya. Baru kali ini aku melihat seorang laki-laki tersenyum setampan itu. 


Mengingat senyumannya membuat ku tiba-tiba memikirkan Wildan. Bagaimana kabarnya dia sekarang? Apa dia masih berada di desa atau?.


Getaran di ponselku membuyarkan lamunan ku. Dengan hati-hati aku menepikan motorku untuk melihat siapa yang menelpon ku.


'Bunda, kok tumben ada apa yah?' batinku.


"Assalamualaikum, Bunda ada apa yah? Kok tumben telfon Vey?" ucapku yang tidak sabar.


"Vey, bunda baru saja dengar dari tetangga katanya pacarnya Iren meninggal dunia!" jawab bunda.


"Pacar Irene, siapa bun? Bukan-nya!"  Aku langsung menutup mulutku dengan satu tanganku yang bebas.


"Bunda, bunda dengar dari siapa? terus Irene bagaimana sekarang bun?"  tanyaku yang dengan nada gemetar.

__ADS_1


Baru saja aku ingin menelpon Tyo tapi kabar buruk yang aku terima. Reza, baru saja mereka berdua mendapat restu tapi mereka harus dipisahkan lagi.


Aku yang sudah mendengar penjelasan bunda langsung mematikan sambungan teleponku. Dengan perasaan yang kacau aku langsung menstater motor lagi.


Dengan sedikit berteriak aku masuk ke dalam rumah. Di Ruang tengah sudah ada bulek, pak lek dan Alyssa. Mereka langsung berdiri saat melihatku masuk dengan menangis.


"Ndok, ada apa to ndok? Kenopo kamu pulang-pulang kok langsung nangis kejer ssperti ini?" tanya bulek yang terus menenangkan aku.


Aku yang masih syok tidak bisa menjelaskan nya. Mereka semua menuntunku yang sudah gemetar dan terus menangis. Pak lek berlari ke dapur untuk mengambilkan ku air minum.


"Ini Ndok, minum dulu!" serah pak Lek memberiku air minum.


Aku ambil dan langsung aku teguk habis isinya. Aku mulai sedikit bisa tenang. Dengan sedikit sesenggukkan aku memanggil bulek.


"Bulek," panggilku langsung memeluknya.


"Kenapa, cerita sama kita Nak?" tanya bulek yang mengelus rambutku.


"Teman Veyo bulek, temen Veyo meninggal," jawabku dengan sisa sesenggukanku.


"Innalillahi wainnailaihi rojiun?" ucapan mereka bertiga serempak.


"Kamu dapat kabar dari siapa to Ndok? Kalau masih belum jelas jangan dipercaya!" kata paklek.


"Tadi pas Veyo mau arah pulang bunda telpon. Veyo angkat dan bunda bilang pacar Irene temen Veyo meninggal dunia," kataku lagi yang sudah melepaskan pelukan bu lek ku.


"Coba kamu telpon teman kamu yang lainnya, apa benar kabar itu?" suruh bu lek.


Aku langsung mengambil ponselku yang ada di dalam tas. Aku mencari nomor Tyo, dan ketemu langsung saja aku telpon.


Lama Tyo tidak langsung mengangkat telponku. Aku sungguh cemas dengan kabar yang menimpa Reza pacar Irene. Aku matikan sambungan ku karena lama Tyo menjawab.


Aku mencari aplikasi yang sekarang sudah mendunia Whatsapp. Di grup alumni sudah ramai, banyak dari mereka juga mengatakan hal yang sama. Aku sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Irene sekarang?.


Mengingat waktu dulu aku kehilangan mas Fahmi. Perasaan ku benar-benar hancur sampai aku harus mengalami depresi. 


'Ya allah kenapa engkau tidak memberi mereka kesempatan untuk bahagia. Setelah apa yang mereka perjuangkan sskarang, mereka harus terpisah selamanya,' batinku meraung sedih merasakan rasa kehilangan itu.


Aku terus menangis sampai ketiga orang terus menenangkanku. Aku tidak mungkin untuk pergi ke desa. Beberapa bulan ini dan kedepannya aku akan sibuk dengan praktek.


Wildan apakah dia mendengar kabar ini juga batinku. Kepalaku langsung penuh dengan nama Wildan. Semakin lama tangisanku menjadi kencang. Aku yakin tetangga disamping rumah pasti mendengarnya.

__ADS_1


NOTES: TIDAK ADA MANUSIA YANG TAHU. KAPAN DAN DIMANA AJAL MENJEMPUT.


__ADS_2