SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
Vey pergi Devano membuka mata


__ADS_3

Keempat orang itu memilih untuk pergi ke halaman belakang rumah sakit. Disana Wildan menceritakan semua tentang Vey. Depresi Vey yang pernah dialaminya sampai mendapat pembuliyan dari semua temannya.


Bahu Queen kembali bergetar dan sekarang semakin mengguncang tubuhnya. Itu lah sebabnya Wildan memukulnya tanpa bicara pikir dokter Anton.


"Sebelumnya saya meminta maaf kepada dokter Anton dan dokter Dandi. Karena saya tahu betul bagaimana perjuangan Vey untuk bangkit dari depresinya. Bahkan kita semua di desa berusaha dengan keras memeluknya. Memberikan perhatian lebih kepada Vey. Mengingat begitu besar jasa keluarga Vey untuk desa kami. Tapi, jangan pernah berfikir kalau saya dan warga desa membalas budi. Papa Candra tidak akan suka perkataan satu itu,"


"Bukan salah Anda juga memukul saya tanpa sebab seperti tadi. Dan, maaf bukan maksud saya untuk semua itu. Saya yakin mereka adalah pasangan yang kuat, pasangan yang sama-sama berjuang untuk bersatu. Saya tidak pernah melihat seorang wanita seperti nona Vey. Begitu banyak yang nona Vey lalui. Tetapi sedikit pun beliau tidak menunjukkan kesedihannya di hadapan semua orang,"


"Yah, begitulah Vey. Maka dari itu aku dan lainnya akan merasakan hal yang sama dan tidak ingin lagi melihat Vey kembali meneteskan air matanya,"


"Kak, terus kita harus bagaimana agar kak Vey tidak terus seperti ini? Queen benar-benar tidak tega melihatnya. Dan, dan asal kak Wildan tahu, kak Vey sempat menyenandungkan sebuah lagu yang bener-bener--hiks Queen gak kuat mengingat suara kak Vey yang sepertinya bergetar namun dia tahan?"

__ADS_1


"Kita biarkan saja Vey seperti ini dulu. Esok, kak Wildan akan berbicara kepada Papa dan Bunda bagaimana baiknya untuk Vey,"


"Apa aku juga boleh ikut membantu, tuan Wildan?"


"Panggil Wildan saja, aku masih muda seumuran dengan kalian. Aku hanya ingin berpesan kepada Anda berdua. Sebagai seorang dokter aku tidak tahu bagaimana Anda bisa menenangkan pasien atau keluarganya. Yang aku tahu dokter adalah pekerjaan yang sangat mulia dan juga mendapat sumpah. Jangan pernah membohongi keluarga pasien yang seperti dokter lakukan kepada Vey. Dokter tidak pernah tahu keadaan keluarga pasien. Berkatalah jujur meski itu menyakitkan."


"Banyak cara lain untuk menyampaikan kepada keluarga dokter, bukan begitu dokter Dandi?" cetus Queen memotong pembicaraan Wildan.


Dokter Dandi mengangguk canggung dan tersenyum simpul. Lebih baik berkata terus terang daripada menyakiti hati tanpa kita sadari ada harapan besar yang tersimpan di benak.


Tujuan hidup untuk menyambut kebahagiaan adalah berbesar hati menghadapi segala ujian yang bertubi-tubi menghampiri.

__ADS_1


Seperti peribahasa berakit-rakit kehulu. Berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.


Yah, semoga peribahasa itu benar adanya. Keempat manusia berbeda profesi itu saling bertukar pikiran juga menikmati hembusan angin senja. Sedangkan, mereka tidak tahu kalau orang yang mereka bicarakan berdiri jauh di belakang.


Dengan senyum kesedihan Vey berbalik dan berlari pergi menjauh pelataran rumah sakit. Devano dibiarkan sendiri tertidur dengan ditemani banyak alat medis.


Cukup hari ini Vey melepaskan semua kesedihannya. Berlari sejauh mungkin bisa membuatnya tenang. Dengan begitu Vey akan kembali datang dengan suasana hati yang sudah jauh lebih tenang dan bisa menerima semuanya.


Sepeninggal Vey perlahan kedua mata yang sudah lama tertutup sedikit demi sedikit terbuka. Mengerjap-ngerjap menyesuaikan retina matanya yang tertutup lama dengan pencahayaan lampu rumah sakit.


Sangat disayangkan ketika kedua matanya terbuka. Tidak ada satu orang pun yang Devano temui. Akhirnya, Devano menutup kembali matanya yang masih terlihat lemah.ย 

__ADS_1


Kepalanya berdenyut-denyut ketika mencoba mengingat apa yang terjadi. Mengerang tertahan dengan kedua tangan yang sudah terangkat mencoba memegang kepalanya.


Kedua matanya kembali terbuka saat telapak tangannya menyentuh sesuatu yang tebal melingkar di kepalanya. Sejurus kemudian seorang suster masuk dan segera berlari lagi keluar.


__ADS_2