
Semuanya merasa tenang melihat Vey yang terus mercon meyakinkan Irene. Memeluk Irene dengan penuh sayang dan cinta. Itulah gunanya sahabat memberikan pemahaman dan pengertian.
Sahabat bukan hanya ada disetiap waktu dan sedang dibutuhkan. Melainkan, Sahabat akan tetap ada dihati dan pikiran.
Sejauh apapun tempat yang memisahkannya. Masih, sahabat akan tetap menjadi sahabat.πππππ
Hidup sendiri tanpa seorang sahabat rasanya sangat hampa. Meski, kita begitu tahu tuhan selalu ada untuk kita. Sahabat yang tidak ada duanya di alam semesta.
Manusia membutuhkan manusia lainnya. Membutuhkan dorongan dan semangat dari manusia terdekat.
Tegarlah dalam setiap ujian, tegarlah dalam setiap masalah yanh datang menghampiri. Hidup tanpa masalah itu seperti gulai kambing tanpa sate kambingnya.
Begitupun, hidup tanpa masalah itu tidak etis. Karena, semua ujian, semua masalah bisa mendewasakan seseorang. Membuat bijak setiap perkataan yang terucap.
Sebuah ujian mengajarkan kesabaran yang tidak akan pernah terbatas. Bangkitlah, bangunlah kembali dan tata kembali hidup yang hancur.
Melakukan tidak sama dengan berucap yang hanya sekedar berucap.
Bunda masuk ke dalam kamar Vey. Perlahan-lahan mendekati Irene dan Vey. Menarik dan merangkul Irene dengan penuh kasih sayang. Mungkin, ini yang Irene butuhkan.
__ADS_1
Banyak kemungkinan yang akan terjadi di depan. Dan, masih banyak lagi rintangan yang baik ataupun tidak di depan sana. Vey, ikut memeluk Irene dan memberikan kecupan di pipinya.
"Ren, manusia hidup itu saling mengingatkan, saling menguatkan ketika manusia lainnya rapuh. Dulu, aku juga sama seperti mu. Bahkan, aku yang lebih parah darimu. Tapi, apa? Aku bisa bangkit dan bisa seperti ini itu semua karena kamu dan lainnya. Satu hal yang harus kamu lakukan setelah ini. Kamu harus bisa memaafkan dan berdamai dengan dirimu sendiri. Itulah hal yang dulu aku lakukan," jelas Vey.
"Benar apa yang dikatakan Vey. Bunda dan lainnya akan membantumu kembali seperti dulu. Reza adalah masa lalumu, meskipun dia sudah meninggal. Tapi, cinta Reza masih disini. Di hati ini," tunjuk bunda ke dada Irene. Memberikan ketenangan yang sedikitnya bisa ditangkap oleh Irene.
"Nak Irene," panggil papa Vey masuk diikuti Fatih dan Devano.
Bunda, Vey, dan Irene melihat ke arah papa Candra. Mas Fatih menghampiri istrinya yang berdiri di depan tempat tidur Vey.
Papa Candra menarik Irene untuk berdiri dan diajaknya ke arah jendela kamar Vey. Dipeluknya untuk menyalurkan rasa nyaman yang Irene butuhkan. Pelukan seorang ayah kepada anaknya.
Vey sangat bahagia memiliki kedua orang tua yang tidak melihat seseorang dengan pikiran negatif. Selalu memberikan dorongan lewat kata-katanya yang bijak.
Devano tersenyum dan menganggukkan kepalanya ke arah Vey. Vey pun membalas senyuman lelaki tampannya dengan pipi yang merona malu.
Papa Candra merenggangkan pelukannya. Menghadapkan tubuh Irene untuk menghadapnya. Tersenyum dan kemudian memberikan kecupan di dahi Irene.
"Berjanjilah, Nak, kalau kamu bisa menerima semua takdir yang tuhan berikan kepadam. Kamu, Vey, Wildan dan Tyo sudah papa anggap seperti anak papa sendiri. Papa sangat menyayangi kalian semua. Bahkan papa sangat-sangat berterima kasih kepada kamu dan semua orang disini. Karena apa? Karena, kalian bisa menerima anak papa yang manja itu di lingkungan kalian. Kalian merangkul dengan penuh sayang. Ketika, Vey anak papa yang manja itu. Kamu juga harus bisa seperti Vey, memaafkan diri sendiri dan berdamai. Seperti yang Vey katakan tadi," pinta papa Candra kepada Irene yang dirasa memahami apa yang dikatakannya.
__ADS_1
Pundaknya bergerak naik turun mengikuti isakan yang terdengar keluar dari mulut Irene. Tanpa sadar Vey memeluk Devano dan menangis di dekapannya.
Vey yang cengeng tidak menyadari tatapan bunda dan mbak Asri kepadanya. Vey terus menangis terharu melihat Irene sahabatnya yang sudah bisa menerima hidupnya kembali.
"Masih belum muhrim dek, erat banget tu tangan," goda mbak Asri yang membuat Vey berhenti terisak.
"Astagfirulloh," gimana Vey langsung melepaskan pelukannya.
Papa Candra dan Irene tersenyum melihat Vey yang bertangkap basah memeluk Devano. Devano menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Vey mengintip Irene yang mulai tersenyum kembali. Ditegakkan kepalanya dan berlari memeluk sahabatnya.
"Tersenyumlah meski itu sulit," bisik Vey di telinga Irene.
"Iya, maaf aku sudah menyakitimu," kata Irene dalam pelukan Vey. Vey melepaskan pelukannya dan mengusap kedua pipi Irene yaang basah karena air matanya.
"Tidak perlu minta maaf, seperti kataku tadi. Kamu tidak bermaksud serius berkata seperti itu. Kamu hanya melihatku datang dengan lelaki tampanku," gurau Vey mencairkan suasana yang sejak tadi tegang.
NOTES: RASA SAYANG ITU BUKAN HANYA DATANG DARI ORANG-ORANG TERDEKAT SAJA. SIAPA SAJA DAN DIMANA SAJA RASA ITU TUMBUH DAN ADA DISETIAP MANUSIA.
__ADS_1
Salam satu jiwaππππ,,,,,,untuk kelanjutan kisah Aaron dan Oxcel. Maaf yah, belum bisa up untuk bulan in jugaπ...Maaf yah tidak pernah amanah