SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
PERSIAPAN YANG DADAKAN


__ADS_3

Semua keluarga besar sepakat untuk menikahkan Vey dan Devano sepcepatnya. Dengan semua persiapan seadanya Queen membantu Vey untuk bergegas.


Queen menemukan Vey di musolah dekat rumah sakit. Saat itu semuanya bingung mendengar kabar kalau Vey tidak ada dirumah sakit.


Wildan lelaki itu tampak murung setelah mendengar keputusan papa Candra juga papa Ricard. Tyo Irene, Alisya, Nadin, juga Rizal turut membantu menyiapkan dekorasi di ruangan Devano.


Melihat ruangannya dihias sebagus mungkin Devano terheran. Tidak ada pertanyaan yang terlontar dari bibir pucatnya.


"Selesai," ujar Rizal dan Tyo bersamaan.


"Ya allah, akhirnya Vey menikah juga dengan mas tampannya," kata Alisya.


"Iya, akhirnya Vey akan bahagia dengan mas tampannya," sahut Nadin.


"Semoga," sambung Irene sedikit menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


Mendengar jawaban yang sepertinya tidak pas Alisya juga Nadin langsung menghampiri Irene.


"Apa maksudmu berkata seperti itu? Apa kamu tidak ingin melihat Vey bahagia?" ketus Nadin yang tidak terima.


"Maaf, bukan seperti itu maksudku. Aku sangat bahagia jika Vey menikah dengan mas Devano. Kami semuanya bahagia mendengar kabar ini. Tapi, bagaimana dengan dia?" tunjuk Irene kepada Wildan yang masih sibuk membuat tulisan.


"Semoga bahagia selalu dan menjadi pasangan yang abadi"


Tyo, Rizal, Alisya maupun Nadin langsung menengok ke arah Wildan. Ada setetes air yang jatuh bersamaan. Devano yang mendengar lima temannya semakin heran.


Namun, Devano lebih memilih untuk diam dan terus melihat interaksi kelima orang tersebut.


"Ren, sudahlah nasi sudah menjadi bubur. Anggap saja semuanya tidak pernah terjadi. Kita semua menginginkan Vey bahagia bukan. Sudahlah, lupakan ucapanmu itu. Jangan sampai Vey mendengarnya. Perkataanmu akan semakin membuat Vey merasa serba salah," tutur Tyo yang sebenarnya juga iba dengan nasib sahabat kecilnya itu.


Cintanya tidak sampai pada pelabuhannya. Ada kapal lain yang bersandar di pelabuhan yang dulu menjadi sandarannya. Mendengar itu Rizal menghela nafas panjang dan membuangnya pelan.

__ADS_1


Sebelumnya Alisya baik Nadin juga Rizal sudah mengetahui cerita antara Vey dan Wildan. Tapi, manusia yang merencanakan namun, tuhan tidak menuliskan takdir keduanya untuk bersama.


"Iya, benar kata Tyo. Bagaimanapun, kita harus mendukung keputusan yang sudah dibuat keluarga Vey maupun Devano. Mungkin, Wildan sudah ikut andil dalam segala hal di hidup Vey. Tapi itu dulu, dan sekarang kebahagian Vey sesungguhnya adalah Devano. Orang yang selama ini Vey cari,"


"Aku setuju dengan perkataan kalian berdua. Tetapi, apa kita tidak bisa membantu Wildan dan Vey sekali lagi. Aku rasa Vey egois, Vey plin plan Zal, Yo!?"


"Egak, Ren. Kamu yang tidak pernah tahu apa yang selama ini Vey hadapi. Vey bukan plin plan atau egois. Selama ini Vey sudah cukup mengalah Ren. Apa kamu tidak ingat sewaktu Wildan mengungkapkan rasa cintanya kepadamu. Disitu, dengan besar hati Vey merelakan Wildan untuk kamu--sahabatnya. Tapi apa, sekali lagi kamu melukai hati Vey dan Wildan. Ketika Vey dengan tukus melepas Wildan karena Vey tahu kamulah cinta pertama Wildan dan kebahagiaan Wildan. Apa perlu aku katakan semuanya, Ren?" teriak Nadin kesal kepada Irene.


Wildan yang ikut mendengar semua itu berhenti mengukir tulisan. Wildan melihat antara Irene yang menunduk dan Nadin yang terlihat sangat marah dengan wajahnya yang sudah basah.


Mendengar semua itu Devano langsung merintih kesakitan. Rizal berlari untuk menenangkan Devano.


"Dev, tarik nafas dalam-dalam dan perlahan keluarkan. Dev, jangan paksa otakmu untuk mengingat semuanya. Minumlah!" bujuk Rizal memberikan gelas yang sudah terisi air putih.


Devano menerima gelas itu tanpa berkata dan langsung meneguknya. Melihat Devano sudah tenang Rizal dan lainnya sedikit merasa lega.

__ADS_1


__ADS_2