
Mendapat sorakan tidak membuat Rizal malu. Malah semakin menjadi-jadi dan membuat semuanya semakin merasa geli.
"Dasar MC sableng. Bilang aja kamu iri Zal. Pengen cepet-cepet kayak mereka toh. Bilang saja," teriak Tyo yang semakin memojokkan Rizal.
"Maaf, lelaki tampan seperti aku tidak iri sama sekali. Hanya saja,,,,,ah sudah lah. Sore menjelang malam kita akan dihibur dengan artis kita yang seringkali menunjukkan suaranya. Siapa dia, apakah disini sudah ada yang tahu?"
"Setyo si wajah dingin,!" teriak para fans Wildan.
"Hadeh,,fans Wildan ternyata banyak banget. Gimana kalau mereka tahu tentang mereka bertiga yah. Haa haa," ujar Nadin menepuk dahinya. Alisya tertawa membayangkan Vey dilabrak fans garis kerasnya Wildan.
"Sstt, sudah jangan bicara begitu. Kalian ini yah, tapi gimana yah jadinya. Haa haa haa," sambung Irene yang juga tertawa membayangkannya.
"Sudah-sudah, kita dengarkan jeritan hati Wildan bagaimana? haa haa," ejek Tyo membuat Irene, Alisya dan juga Nadin semakin tertawa terpingkal-pingkal.
"Baiklah, tidak usah menunggu lama lagi mati kita beri applause yang meriah untuk Setyoooo muka es batu merk tub. Haa haa," tambah Rizal yang langsung di pukul mikrofon oleh Wildan.
Mbak Asri dan Fatih juga semua keluarga besar mempelai sangat terhibur dengan lelucon yang tidak hentinya mereka lontarkan. Begitu Pula halnya dengan Devano dan juga Vey. Meski tidak berhenti menyalami para tamu.
Mereka berdua juga tertawa mendengar lelucon yang sahabat-sahabatnya buat. Inilah akhir dari segala kisah Vey. Cintanya, bahagiannya kini bersandar sempurna di tempat yang indah Devano.
POV WILDAN
Mendung tanpo udan
Ketemu lan kelangan
Kabeh kui sing diarani perjalanan
Awak dewe tau duwe bayangan
Besuk yen wis wayah omah-omahan
Aku moco koran sarungan
Kowe blonjo dasteran
Nanging saiki wes dadi kenangan
Aku kiri kowe kanan, wes bedo dalan
Mlaku bebarengan
Bendino sayang-sayangan
__ADS_1
Sedih lan kebahagiaan
Dilewati tahun-tahunan
Padu meneng-menengan
Bar kui kangen-kangenan
Kadang bedo pilihan
Nganti pedot balikan
Mendung tanpo udan
Ketemu lan kelangan
Kabeh kui sing diarani perjalanan
Awak dewe tau duwe bayangan
Besuk yen wis wayah omah-omahan
Aku moco koran sarungan
Kowe blonjo dasteran
Nanging saiki wes dadi kenangan
Aku kiri kowe kanan, wes bedo dalan
Mendung tanpo udan
Ketemu lan kelangan
Kabeh kui sing diarani perjalanan
Awak dewe tau duwe bayangan
__ADS_1
Besuk yen wis wayah omah-omahan
Aku moco koran sarungan
Kowe blonjo dasteran
Nanging saiki wes dadi kenangan
Aku kiri kowe kanan, wes bedo dalan
Awak dewe tau duwe bayangan
Besuk yen wis wayah omah-omahan
Aku moco koran sarungan
Kowe blonjo dasteran
Nanging saiki wes dadi kenangan
Aku kiri kowe kanan, wes bedo dalan
Aku kiri kowe kanan, wes bedo dalan
Kaki yang sedari pagi sampai menjelang petang berdiri. Terasa banyak semut yang berkumpul. Devano juga Vey akhirnya bisa terduduk dengan lega.
Tiga jam lebih raja dan ratu itu harus membalas salam dari para tamu. Devano membantu Vey untuk duduk dan bersandar pada punggung sofa pengantin. Setelah itu dirinya pun juga ikut serta menyandarkan punggungnya.
"Hah, capeknya. Rasanya kakiku mau lepas," keluh Vey. Untungnya di acara resepsi Vey meminta untuk memakai gaun tanpa hiasan kepala.
"Iya, apa mau aku pijat kakinya?" tanya Devano. Vey hanya menggeleng dengan bibirnya yang masih tersenyum.
Devano seakan dejavu melihat senyum itu. Kapan dan dimana pertama kali dirinya melihat seorang wanita tersenyum sebegitu ayunya.
Merasa ada yang beda Vey langsung menegakkan tubuhnya. "Dev, kenapa kamu ngeliatin aku seperti ini?"
Devano langsung berdehem dan menggeleng. Pandangannya kembali menatap kedepan. Akan tetapi jantungnya tidak berhenti berdebar hebat. Vey tersenyum melihat mas tampannya menjadi gugup.
__ADS_1
Suara Wildan tidak pernah berubah sedikitpun. Penuh penghayatan yang mendengarkannya pun larut dalam alunan melodi.