
"Aku terserah mereka saja toh pintu rumahku selalu terbuka untuk kalian semua," jawab Vey.
"Aku terserah mereka aja Ren toh pintu rumahku juga terbuka lebar untuk kalian semua," jawab Vey.
Tio dan Wildan saling bungkam tidak ada yang menjawab. Tio masih sibuk dengan perubahan muka Wildan. Sedangkan Wildan bingung dengan hatinya.
"Wil, Yo! Kalian gimana mau gak. Kan nyantai kita sekarang," kata Irene menatap Wildan dan Tio.
"Boleh aja kalau aku sih," sahut Tio.
" Kamu Wil, mau ikutan juga gak kerumah. Papa sama Bunda kangen lho sama kalian lama gak pernah ngumpul kerumah," ajak Vey.
Wildan yang diajak bicara cuman melihat sekilas dan sedikit menarik nafasnya pelan. Seoelan mungkin agar tidak ada yang sadar kalau saat ini hatinya gelisah.
"Wil, kamu kenapa," tepukkan yang diberikan Irene menyadarkan lamunan Wildan.
"Eh iya, kalian ngomong apa barusan," kata Wildan.
"Ngelamun dirinya, ngelamunin apa sih kamu Wil. Ada yang kamu pikirin yah, cerita sama kita-kita sapa tau aku atau lainnya bisa bantu," desak Vey yang berada disamping Tio.
"Kamu kenapa hem!" tanya Irene khawatir.
"Aku gak papa kok, kalian tadi lagi bahas apa," alih Wildan mengulang pertanyaannya.
"Irene tadi ngajak kerumah Vey dan juga kata Vey orang tuanya pun juga kangen karna kita beberapa bulan ini sibuk dengan ujian dan lainnya. Jadi, yah kamu mau ikut apa tidak," jelas Tio kepada Wildan.
"Emb, ayok aku juga kangen sama masakan Bunda," kata Wildan yang kemudian berdiri berjalan mendahului mereka bertiga yang masih terduduk.
"Kenapa sih Wildan tadi perasaan gak papa deh Ren," tanya Vey kepada Irene. Irene juga merasa heran dengan Wildan. Irene menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
Akhirnya mereka bertiga pun menyusul Wildan yang sudah berjalan duluan. Murid lainnya sudah bersiap-siape untuk pulang juga. Karna hari ini ujiannya anak kelas satu dan dua bel sekolah tidak dibunyikan. Selesai mengerjakan langsung dikumpulkan dan diperbolehkan langsung pulang.
Sebelum pulang Vey dan ketiga sahabatnya berpamitan kepada guru-guru yang berada dikantor.
Tok Tok Tok~~
"Permisi maff, bu, pak kami mau pulang dulu. Apa masih ada yang perlu dibantu sebelum kami pulang." pamit Vey kepada salah satu guru.
"Oh iya Vey, silahkan. Terima kasih yah buat kalian semua sudah mau membantu kita semua?" ujar pak Andi guru olahraga.
"Iya pak, sama-sama selagi kita semua tidak ada tugas apapun. Kita semua pasti bisa, Yasudah pak, buk kita pamit dulu. Assalamualaikum!" pamit Vey lagi.
Semua guru yang ada disanapun serempak menjawab salam dari Vey dan ketiga sahabatnya. Sesudah berpamitan mereka semua berjalan menuju keluar. Seperti hari-hari biasanya Vey selalu membuat kesel Tio.
Senyuman Vey sekarang tidak pernah hilang lagi. Senyuman Vey yang sekarang dengan yang dulu sangat beda. Jika, yang dulu Vey selalu tersenyum tapi sangat terlihat kalau senyuman tidak selega ini.
Salah satunya adalah berusaha untuk tidak lagi menengok kebelakang dan terus menatap kedepan. Memang, benar ucapan lebih gampang daripada mempraktekkan langsung. Setidaknya, ada sesuatu yang bisa membuat rasa lemah menjadi kuat dan kembali bangkit lagi.
Tio dan Vey berjalan beriringan sambil bergurau Wildan dan Irene dibelakang. Sampailah sudah mereka berempat dirumahnya Vey. Tanpa mengganti bajunya dulu mereka semua sudah menyelonjorkan kakinya.
__ADS_1
Vey berjalan kedalam rumah untuk memanggil orang tuanya dan mbak Asri sekedar memberitahukan kalau diruang tengah ada ketiga sahabatnya. Selepas itu Vey berganti baju dan menuju kedapur untuk membuatkan minuman dingin.
"Lha, kok duduk dibawah kalian,"sapa Bunda yang berjalan dengan mbak Asri.
"Iya Bun, enak dibawah bisa selonjoran," kata Tio dan beranjak berdiri untuk menyalami tangan Bunda Vey. Diikuti oleh Irene dan Wildan yang sama mengistirahatkan kakinya.
"Mbak, bantu Vey bawain makanan sama minumannya gih pasti kerepotan dia," suruh Bunda kepada mbak Asri. Mbak Asri berjalan menuju dapur membantu Vey.
"Dek, aku bantu sini!" pinta mbak Asri.
"Iya mbak tolong bawain puding sama brownisnya minumannya Vey saja yang bawa. Mas Fatih gk kesini mbak kok tumben," tanya Vey.
"Bentar lagi juga nongol dek. Kek gak tau Mas Fatih aja sih kamu," jawab mbak Asri.
Fatih dan Mbak Asri sudah bertunangan keluarga juga sudah merestui hubungan mereka. Mbak Asri sudah menyelesaikan kuliahnya sekarang tinggal menunggu untuk diwisuda.
"Ya juga sih," sambil membawa nampan menuju ruang tengah.
Sampai diruang tengah ternyata orang yang dibicarakan sudah berkumpul juga disana. Terlihat sangat menyenangkan jika sudah berkumpul seperti ini. Hanya saja Papa Vey sedang ditugaskan keluar kota. Jadi, untuk beberapa hari kedepan Vey, mbak asri dan Bunda tinggal bertiga.
"Wah, wah senengnya lagi bahas apa sih kok kayaknya seru banget," kata Vey meletakkan nampak minuman kemeja.
"Gak lagi bahas apa-apa Vey, oh ya Vey kamu kok gak bilang kalau mbak Asri sama Fahmi kw udah tunangan," ucap Tio.
"Iya maaf Yo, cuman keluarga saja yang tau karna kan Mas Fatih belum selesai juga sekolahnya. Jadi, yah gak ada yang tau kecuali keluarga saja," jawab Vey.
"Masih belum tau Vey, Papa belom ngubungi Bunda lagi," jawab Bunda.
"Oh! Mas Fatih ama mbak Asri mau keluar yah," tanya Vey pada Fatih.
"Iya Dek, mau ngajak mbakmu maen kekota. Kata temenku ada tempat wisata yang bagus, kamu mau ikutan gak Dek," ajak Fatih.
"Gak deh mas, aku disini aja sama mereka," sambil menunjuk dengan dagu.
"Yah gak papa mereka juga bisa ikut kok kalau mau. Gimana Wil, mau gak kalian ikut. Mumpung aku lagi bawa mobil juga kan gak enak kalau yang naikin cuman kita berdua saja. Biar rame juga kan asyik. Yok ikut!" deaak Fatih dan mbak Asri.
"Gimana Yo, mau gak mumpung masih jam segini. Kalau iya cepet pulang gih biar gak tambah panas ntar," bujuk Vey.
"Kalau gratisan aku mau-mau aja ding, tapi aku makan ini dulu yah nanggung tinggal segini," kata Tio mengambil satu sisa potongan kue brownis dan dimasukkan kedalam mulutnya.
"Yey, dasar sentoloyo," kata Wildan menoyor kepala Tio. Yang lain hanya tertawa melihat kelakuan Tio.
"Yasudah Vey, aku pamit dulu yah mau mandi dan ganti baju juga mau pamitan dulu sama Ibu," pamit Irene.
"Iya Ren, nanti biar kita aja yang jemput langsung kerumahmu biar kamu gak bolak-balik kerumah," kata mbak Asri.
Irene berpamitan pulang dulu untuk berganti baju dan sekalian berpamitan kepada orang tuanya. Rumah Irene masih digang sebelum kerumah Vey, dekat dengan rumah Tio dan juga Wildan.
Tio dan juga Wildan masih berada dirumah Vey, Tio masih enggan untuk beranjak pulang. Wildan menatap Vey dengan ekspresi yang dingin.
__ADS_1
"Vey, bisa kita bicara sebentar kedepan," ujar Wildan. Mbak Asri, Fatih, Tio dan juga Bunda menatap kepada mereka berdua.
"Ayok, memangnya disini kenapa Wil," ajak Vey beranjak berdiri.
"Emb, gak papa tapi aku pengen ngobrol berdua sama kamu," Wildan pun juga berdiri dan mulai beriringan dengan Vey.
Tio melihat Wildan dan Vey berjalan keluar rasa penasarannya mulai menggebu.
"Bicara aja sampek keluar, kenapa tidak disini saja," gerutu Tio yang juga didengar oleh yang lainnya.
"Kenapa Yo, kamu cemburu yah?" goda Fatih.
"Idih, emangnya aku sapanya Vey, mau cemburu segala," sergah Tio.
"Sudah Bun, Tio mau balik aja dulu brownisnya juga sudah habis," pamit Tio menyalami semua yang ada disana.
"Iya hati-hati, nanti Bunda bawakan juga brownisnya untuk dimakan disana yo," kata Bunda. Tio terlihat sangat senang sekali. Kemudian dia berjalan keluar dengan membawakan ranselnya Wildan.
Belum benar-benar sampai didepan pintu Tio mendengar pembicaraan Wildan dan Vey.
"Aku seneng Vey, kamu bisa tertawa lagi kek dulu. Aku bahagia jika melihat kamu bahagia seperti tadi," ucap Wildan.
Tio yang mendengar merasa ada sesuatu yang menusuk hatinya. Selama ini Tio menjadi sahabat yang sangat baik, mendengarkan semua keluh kesah sahabatnya. Tapi, dengan hatinya sendiri Tio menutup semuanya. Menyembunyikan semua masalahnya sendiri, jika didepan semuanya Tio terlihat biasa saja.
Tio masih berada dibelakang jendela yang mereka belakangi, bukan maksud untuk menguping pembeciraan kedua sahabatnya. Hanya saja Tio merasa ini ada perubahan yang dia lihat dari wajah Wildan.
"Vey, apa kamu memiliki perasaan kepada Tio," tanya Wildan tiba-tiba. Vey yang tadi melihat kedepan kini menghadap sempurna kearah Wildan.
Memiringkan sedikit kepalanya agar bisa melihat wajah Wildan yang datar. Datar tanpa ekspresi dan diapun menanyakan itu juga tidak melihat lawan bicaranya. Vey mengerutkan keningnya memperhatikan mimik tampan itu.
"Kenapa kamu bisa menyimpulkan begitu Wil, kayak dukun aja kamu bisa tau isi hatiku. Jangan sok tau," memukul bahu Wildan sambil terkekeh menghadap kedepan lagi.
Wildan yang melihatnya pun menambah wajah dinginnya menjadi semakin datar. Vey, masih tertawa sampai mengeluarkan air matanya.
"Aku serius Vey," kata Wildan lagi. Seketika itu Vey langsung berhenti tertawa, tatapannya tiba-tiba kosong menatap kedepan.
"Wil, kamu tau tidak dulu aku sempat memiliki rasa suka sama kamu. Awal pertama aku kenal sama kamu aku sudah memilih untuk menyukaimu. Tapi, semakin aku mengenalmu aku semakin tau jika rasa sukaku hanya sekedar rasa suka mengagumi. Aku juga tau saat itu saat kamu mengasah suaramu aku yakin pasti ada sesuatu yang terjadi. Aku sempat terluka saat tau kamu menyukai seseorang sahabatmu sendiri. aku berusaha untuk mengganti perasaan itu menjadi rasa kagum. Aku berhasil menghapus semua rasa sukaku terhadapmu dan kamu inget tidak saat kamu nembak aku. Disitu aku sempat memberi kamu harapan tapi besoknya aku mengklarifikasi lagi. Aku lebih nyaman seperti ini Wil, tidak ada rasa suka melebihi rasa kagumku sekalian berdua. Kalian sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri. Dan juga aku katakan lagi sama kamu kalau aku lebih memilih persahabatan ini dari pada cinta. Cinta bisa dicari kapan dan dimana kita bertemu dengan seseorang yang bisa menarik, putus karna cinta mungkin rasanya akan sakit. Tapi, akan lebih sakit lagi jika kita kehilangan orang-orang yang selama ini menemani kita. Buatku persahabatan yang utama sedangkan cinta bisa ditemukan seiring perjalanan waktu. Jadi, jangan membuat ku membenci ucapan itu," ucap Vey tegas tanpa senyum yang terukir dia menatap kearah Wildan.
Wildan dan Tio dibuat kagum dengan semua penjelasan Vey, jika dia lebih memilih persahabatan ini ketimbang cinta. Sekilas senyum tipis itu terukir ikhlas dari bibir Tio. Dia berusaha ikhlas dan lebih memendam perasaannya sendiri.
"Aku harap perasaanmu terhadapku dulu hanya sebuah rasa suka biasa Wil, hati dan cintamu hanya tertuju pada Irene. Jangan pernah kamu melukai hati seorang wanita, sedikitpun itu akan menjadi luka yang sangat besar. Sengaja atau tidak ku harap itu semua tidak pernah Irene rasakan. Kamu juga melihat sendiri bagaimana dulu Irene patah hati kepada pacarnya dulu. Wil, aku harap kita semua masih sama seperti sekarang ini. Tidak ada cinta diantara aku, kamu atau Tio. Karna, aku benar-benar akan menghilang dari sini. Juga, aku tidak ingin melihat sahabatku pecah. Susah tau nyatuin kalian lagi seperti ini. Kalau kamu tega sama aku silahkan lakukan saja dan jangan harap aku mau bertemu sama kalian semua," lanjut Vey mengancam sahabatnya ini.
Tio kemudian berjalan kearah luar berniat mengajak Wildan untuk pulang dulu. Setelah itu pergi refresing bersama, setelah berpamitan mereka berdua pulang dengan santai. Vey melihat kedua punggung tegap sahabat-sahabatnya. Tersenyum sekilas sebelum memasuki rumah.
Semoga dengan ucapannya ini Wildan maupun tio tidak terlalu berharap lebih kepadanya. Pada dasarnya Vey sudah bahagia menjadi bagian dari persahabatan mereka. Jadi Vey tidak akan tega melukai semuanya.
NOTES: JIKA HARUS MEMILIH ANTARA CINTA DAN SAHABAT JELAS AKAN MENJADI DILEMA.
Masih ingat kan Readers😊,,,,,
__ADS_1