
Vey tidak bisa menahan tangis harunya. Selama ini, Vey cukup tenang dengan kesendiriannya. Dan, bukannya Vey meragukan Devano yang mengajaknya berta'aruf.
Melainkan, Vey takut tidak bisa memberikan apa yang diminta Devano. Cinta, hati dan rasa sayangnya. Vey sebenarnya juga menginginkan itu semua.
Vey, belum yakin dengan hatinya sendiri. Apakah hatinya sudah cukup bersih? Apakah hatinya sudah cukup yakin untuk menerima Devano dan memberikan cintanya?
Suasana menjadi hening dan sunyi. Semuanya menunggu jawaban apa yang akan Vey berikan. Semuanya juga menyadari kalau saat ini Vey tampak bingung.
"Nak," panggil bunda Vey yang sudah menghampiri putri tercinta itu.
Mendengar suara bundanya Vey langsung berbalik dan memeluk erat tubuh bundanya. Air matanya lolos keluar membanjiri wajah ayu Vey.
Para tamu lainnya juga tidak kuasa menahan haru. Pak le dan Bu lek pun ikut menghampiri Vey yang menangis dalam pelukan bundanya.
"Nak, kalau memang kamu masih belum bisa menerima semua ini. Berikan jawaban yang bijak dan tidak menyakitkan. Bunda yakin, jawabanmu pasti bisa membuat semuanya baik-baik saja," saran bunda.
"Bunda," rengek Vey terisak-isak.
"Ndok, jawabanmu ditunggu nak Devano. Yakinlah, semuanya akan baik-baik saja," pungkas pak le yang mencoba menenangkan Vey.
Devano tampak sedikit takut kalau Vey tidak menerima lamarannya. Bukan malu yang Devano takutkan. Devano yakin, Vey adalah jodohnya.
Dalam hatinya Devano tidak berhenti untuk diberikan petunjuk dari sang khalik. Beberapa kerabat Devano menghampiri Devano untuk memberikan semangat.
__ADS_1
Dio, yang menjadi pembawa acara juga ikut was-was. Ditariknya mikrofon dan selembar kertas di meja.
Dio menghampiri Devano yang masih menunggu jawaban dari bidadarinya.
"Van, yakinlah Allah tidak akan pernah salah. Kalau memang Vey bukan jodohmu, ikhlaskan. Untuk mengurangi rasa tegang ini. Sebaiknya kamu naik gih, kamu hibur semuanya dengan suaramu!" saran Dio kepada sepupunya.
Devano mengangguk dan berjalan ke arah panggung. Mungkin dengan satu lagu yang akan dinyanyikan Devano bisa membuat semuanya santai. Semoga suara Devano bisa menghilangkan rasa panas dan tegang doang mengelilingi ruangan cafe.
"Selamat malam semuanya. Untuk menunggu jawapan dari wanita yang Allah berikan untukku. Sudi kalanya kalian, semua mendengarkan satu lagu yang akan saya bawa kan."
Lagu yang dipilih Devano berjudul DI SEPERTIGA MALAMKU yang dinyanyikan oleh Rey.Β
Alunan musik mulai terdengar di pendengaran semuanya. Lantunan lirik mulai dibawa Devano dengan mantap dan penuh penghayatan. Vey, yang mendengarkan Devano bernyanyi mengurai pelukannya.
Buang cerita lama
Menua bersama
Aa-aa
Ku Yakin kaulah jawaban
Di setiap pintaku
__ADS_1
Walau
Ku belum tahu namamu
Uu-oo
Bisikkan di sujudku
Di sepertiga malamku
Untukku
Kehadiranmu
Lirik lagu yang paling menyenggol hati Vey. Ketika, Devano menyakitkan bait lagu yang membuat Vey seperti tersentil. Dan, tatapan Devano juga melihat intens ke arah Vey yang menatapnya dengan kedua matanya terus mengalir.
Devano berhenti sejenis dan diikuti musik yang juga berhenti. Vey dan Devano saling pandang cukup lama. Semua orang menyoraki Devano yang menatap Vey terus.
"Vey, kalau memang kamu menolak, aku tidak akan memaksamu untuk menggapai tanganku ini. Tapi, kalau kamu menerima lamaranku ini. Gapailah uluran tanganku ini dan berdirilah di sisiku, di atas panggung ini," ucap Devano mengulurkan tangannya di awang-awang.
Ini kesempatan bagus buat ketiga temannya untuk memprovokasi tamu yang hadir. Riuh suara mulai terdengar dari belakang. Tak ayal membuat Vey yang entah melamun atau tertegun menjadi terkejut.
"Naik, terima. Naik, terima. Naik, terima," semua suara menyoraki Vey yang masih terbengong.
__ADS_1
Bunda, pak le, buk le dan mbak Asri nya cukup meyakinkan Vey dengan menganggukkan kepalanya. Dengan kepala tertunduk dan mata terpejam Vey mencoba untuk memberikan jawabannya.
DERIK-DETIK AKAN TAMAT GUYSπππ.