SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
KEDATANGAN IRENE


__ADS_3

Sesaat keheningan yang tercipta menjadi semakin tegang saat Irene datang. Vey yang sudah lama tidak melihat atau tahu kabar sahabatnya.


Begitu tampak terkejut saat melihat penampilan Irene yang tidak seperti dulu. Senyum cerianya tidak lagi ada di wajah ayunya.


Pertemuan pertama lagi untuk kedua sahabat itu membuat yang lain menjadi canggung. Bunda, yang mengajak Irene masuk ke dalam menatap semua orang yang ada di hadapannya.


Ingin sekali Vey berlari dan memeluk sahabatnya. Pasti, itu semua berat Irene hadapi seorang diri. Kehilangan lelaki yang bertahun-tahun dipertahankan. Kini, semuanya hanya kenangan kalbu yang berjalannya waktu akan menjadi abu gelap dalam kisah percintaannya.


"Mbak, sejak kapan Irene seperti iti?" tanya Vey berbisik ke mbak Asri.


"Kasihan sekali Irene, setelah kepergian tunangannya itu. Irene menjadi gadis yang pendiam dan hampir tidak pernah mau keluar rumah. Kamu tahu sendiri Vey," jelas mbak Asri memelankan suaranya.


Devano, beradu pandang dengan Irene yang menatap dalam pada dirinya. Vey sadar, mungkin Irene teringat oleh almarhum Reza. Mas Fatih menyenggol lengan istrinya untuk memberi kode.


Mbak Asri bertanya lewat angkatan dagu dan kepala. Kedua mata mas Fatih menunjuk mbak Asri untuk melihatnya. Mbak Asri mengikuti arah kode suaminya yang menunjukkan Devano sedang terus memandang Irene.

__ADS_1


Ekor mata mbak Asri melirik ke arah adiknya yang bergantian melihat Devano dan Irene. Tidak ingin Vey salah paham mbak Asri mengalihkan perhatian Vey.


"Eh, Vey, Dev lebih baik kalian cepet pergi deh. Nanti, keburu sore loh. Mana cuaca lagi gak tentu sekarang. Go go!" Mbak Asri mendorong Vey ke arah Devano.


Papa Candra tahu maksud dari anak pertamanya. Papa Candra melihat Devano yang masih membungkam mengangguk dan tersenyum.


"Iya, sebaiknya kalian segera pergi saja!" suruh bunda diangguki Vey.


Sebelum pergi Vey menghampiri Irene dan mencoba menguatkan sahabatnya.


"Ren, semuanya pasti akan baik-baik saja. Reza pasti akan sangat sedih kalau kamu terus kayak gini. Bangkitlah, kembali tersenyum seperti dulu. Aku tidak menyuruhmu untuk melupakan Reza. Aku hanya ingin kamu bahagia Ren, Reza ingin kamu bisa seperti dulu. Untuk beberapa minggu ke depan aku masih disini. Temui aku kalau kamu ingin bercerita. Aku pergi dulu!" pamit Vey kepada Irene yang hanya mendapat tatapan kosong.


Vey dan Devano berjalan kearah pintu yang sudah terbuka. Baru sampai di depan teras Irene menjerit memanggil nama Reza.


"Reza, kamu jahat," jerit Irene histeris membuat semuanya terkejut.

__ADS_1


Bunda yang masih disamping Irene sejak awal. memegang Irene agar tidak terjatuh. Kedua bahu Irene dipegang bunda dan papa Candra.


Mendengar teriakan Irene, Vey dan Devano kembali lagi masuk. Vey berlari bersama Devano yang juga ikut berlari. Irene sudah terduduk sambil terisak-isak.


Mulutnya tidak berhenti memanggil-manggil nama Reza. Bunda mencoba menenangkan Irene yang terus histeris. Namun, tidak di dengar karena Irene terus menjerit tidak karuan.


"Irene, sayang tenang, Nak. Ikhlaskan almarhum, biarkan almarhum tenang disana. Irene jangan merasa sendiri, kita semua selalu ada untuk Irene. Tenang yah, istigfar Irene!" suruh bunda merangkul dan meletakkan kepala Irene di dadanya.


"Ren, ayo kita kekamar ku," ajak Vey, mencoba membujuk Irene agar mau ikut ke kamarnya.


Dengan dibantu bunda Irene berdiri dan sekarang Vey yang membopong Irene untuk dituntunnya ke kamar. Devano yang melihat itu mencoba mengerti keadaan.


Ke makam bisa lain hari lagi datang. Karena, mereka masih lama tinggal di desa.


"Nak Devano, maaf kalau rencana kalian harus ditunda dulu. Bunda juga tidak menyangka kalau Irene akan datang," ucap bunda tidak enak.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bun. Besok juga masih bisa kok. Kalau boleh tahu, itu siapa?" tanya Devano.


"Itu Irene sahabat nya Vey. Ayo, kita kembali duduk bunda akan ceritakan semua sahabat Vey. Pasti papa belum sempat cerita," ajak bunda berjalan lebih dulu kembali ke sofa.


__ADS_2