SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
WILDAN DATANG KEMBALI


__ADS_3

Derasnya hujan dengan angin yang ikut menyempurnakannya. Vey, Irene, Devano, Tio dan juga Wildan sibuk menghangatkan tubuhnya masing-masing.


Irene menyajikan teh panas untuk membantu menghangatkan. Vey yang duduknya dekat dengan Devano menjadi pusat perhatian Wildan.


Dua hati yang akan terlepas dan terhempas begitu saja. Melihat kondisi yang gelap seperti ini tidak mungkin untuk kembali kerumah. Beruntungnya Irene selalu membawa dua selimut yang sengaja disimpan di warungnya.


"Dev, kamu kasih selimut ini untuk Vey!" suruh Irene yang melihat wajah Vey yang memucat.


"Terima kasih," jawab Devano mengambil selimut yang tidak begitu tebal dan diselimutkan pada tubuh tunangannya.


"Mas, ini untuk mas!"


Irene yang masih belum mengenali siapa pemuda yang diberinya selimut. Topi hitam degan kacamata besar dilepasnya.


Sontak membuat Irene sedikit menyipitkan kedua matanya dan pikirannya berusaha mengingat siapa lelaki di depannya itu.


Tio yang bajunya tidak begitu basah hanya mengeringkan dengan usapan-usapan tangannya. Vey dan Devano sibuk meminum teh panas buatan Irene.


Satu ruangan masih belum menyadari kecuali, Devano. Karena sibuk dengan tunangannya Devamo sampai lupa menyapa teman sejawatnya di kota besar.


Pertemuan Devano dengan Wildan berawal ketika Wildan tertabrak. Dari situlah akhirnya mereka menjadi akrab dan Devano membantu Wildan mencari pekerjaan.


"Tio, sepertinya aku tidak asing dengan wajah temanmu itu?" bisik Irene yang terus menatap Wildan.


"Ck, kamu benar-benar tidak mengenalnya. Hay, buka matamu lebar-lebar girl. Berapa tahun lamanya kamu tidak bertemu dengan dia sampai-sampai kamu melupakan dia?" cecar Tio menyenggol siku Irene.


Irene yang masih belum faham dan belum mengerti maksud ucapan Tio. Hanya mampu menggeleng cengong dan wajah lugunya.


"Huft, wait. Vey," panggil Tio


"Hem," jawab Vey yang tengah menyecap minumannya.


"Vey, apa aku boleh bertanya sesuatu kepadamu?" tanya Tio. Vey mengangguk dan meletakkan gelasnya ke meja.


"Dev, sebelumnya perkenalkan dia Tio sahabatku dan juga sahabatnya Irene. Sebenarnya, ada satu lagi sahabat laki-laki kita. Iya kan Ren?" ucap Vey. Irene mengangguk cepat dan tersenyum simpul.


Kedua matanya kembali lagi menatapi Wildan yang sibuk dengan tangannya. Devano yang sempat sedikit cemburu karena tiba-tiba saja Vey memeluk lelaki lain.


Kini, baru sadar kalau mereka sudah tidak bertemu lagi. Devano mengulurkan tangannya dan me jabat tangan Tio dengan rasa kawannya.


"Tio, apa yang mau kamu tanyakan tadi?" tanya balik Vey.

__ADS_1


"Vey, apa kamu masih mengingat sahabat kita yang jauh di perantauannya?"


"Siapa, Wildan kah?"


"Hu'um. Dan, apa kamu dan Irene tidak ingat dengan wajahnya?" tanya Tio lagi.


Vey mengerutkan kulit dahinya tidak mengerti maksud Tio. Menggeleng sebagai jawaban yang membingungkan untuk Vey cerna.


Hening senejak untuk beberapa menit saat. Butuh kesiapan dan kehati-hatian untuk Tio mengatakannya. Pasalnya sekarang Vey sudah tidak sendiri dan mungkin saja ucapannya membuat hubungan Vey dan Devano retak sesaat.


"Sudah lah, jangan berbelit-belit," kata Irene.


"Ok, Dev maaf yah kamu jangan cemburu dan maaf bukannya aku mengungkit masa lalu," ucap Tio kepada Devano dan Devano hanya tersenyum kemudian mengangguk.


"Vey, Ren ini. . . ,"


Duuaaaaarrr!


Petir menggelegar diudara dengan sangat keras. Membuay Vey, dan Irene terlonjak kaget. Dan Irene sepontan memeluk Wildan. Vey mendekap erat lengan tunangannya dengan bergetar hebat.


Satu hal yang sangat Vey takutkan ketika hujan adalah duara petir yang tiba-tiba. Vey gemetar dengan jantungnya berdegup kencang.


"Dev, Dev," bisik Vey pelan namun, dengan suara yang bergetar.


"Hey, tenang yah aku disini. Sudah, jangan takut lagi ada aku disampingmu. Vey, tenang yah!"


Devano mengerti maksud panggilan Vey barusan. Devamo juga tahu kalau Vey sangat takut dengan suara petir. Di lepas pelan-pelan cengkraman tangan Vey.


Sesaat kemudian, dilingkarkannya tangannya ke belakang tubuh Vey. Didekapnya orang terkasih dengan penuh kasih sayang. Wildan kembali menunduk dan tidak memperdulikan Irene yang masih memeluknya.


"Ren,"


Kedua mata Ireme langsung terbuka lebar ketika mendengar seseorang menyebut namanya. Tio, tio hanya diam melihat kedua perempuan yang mendapat sanggahan masing-masing.


Vey mendengar suara yang tidak asing yang menyebut nama Irene dengan lembut tetapi terkesan dingin. Masih memeluk tunangannya Vey melihat ke arah Irene yang amsih terbengong dalam tubuh pria asing itu.


"Bisa tolong lepaskan lilitan tanganmu ini!"


Vey dan Irene sama-sama mencoba mengingat siapa pemilik suara dingin itu. Dengan sekali tarikan tibuhnya tangan Irene terlepas dan sedikit menggeser duduknya.


"Set, kenapa kamu tidak bilang kalau mau kesini," sapa Devano yang membuat Tio, Irene, dan juga Vey menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Dev, kamu kenal sama dia," bisik Vey dan diangguki Devano.


"Iya, sejak awal dia datang sebenarnya aku ingin menyapa. Hanya saja, ada sedikit drama yang aku lihat," sindir Devano menggoda tunangannya.


Bugh!


"Ish, menyebalkan," gerutu Vey melipat kedua tangannya bersedekap dada.


Devano tertawa dan mencubit pucuk hidung Vey. Ditepis oleh Vey dan disambut kecupan oleh Devano. Sungguh pasangan yang romantis.


"Wil, benar kamu mengenal Devano. Tunangan Vey,"


Seperti di sambit tali tampar yang panjang dan langsung mengenai wajah Vey dan juga Irene. Sekali lagi, Vey dan Irene dikejutkan dengan kembalinya seseorang yang sudah lama sekali tidak tahu kabarnya.


"Tio, apa katamu barusan? Wil, Wil, Wildan?"


Merasa tidak percaya dengan semuanya Vey memukul Irene sekencang-kencangnya.


"Vey, sakit," jerit Irene tanpa mengalihkan pandangannya.


"Beneran kamu Wildan, kenapa wajahmu berubah sangat tampan?"


"Vey, iling Vey iling. Jangan ngawur kamu. Devano ada disampingmu loh,"


"Coba buktikan kalau kamu Wildan yang dulu aku kenal!"


"Vey, ini Wildan kita. Wildan yang dulu jadi tempat persinggahannya Irene," ejek Tio dengan mengedipkan matanya.


"Tio, sudah yah gak usah ngungkit masa lalu itu, Wil, bagaimana kabarmu?" tanya Irene.


"Baik," jawab Wildan singkat.


"Iya, dia benar Wildan. Dev, kamu salah orang dia bukan Setyo temanmu. Tapi Wildan sahabat ku,"


"Veyo sayang, kalau kamu lupa nama panjangnya Wildan itu siapa?"


"Wildan Adtya-,"


"Sudah ingat kan? Jadi, aku tidak salah manggil dong sayang?"


Kabar baik atau kabar buruk yang di Vey lihat langsung. Meskipun sudah melupakan semua kenangan dan perasaannya kepada Wildan.

__ADS_1


Tetap saja Vey merasa Wildan masih menyimpan rasa itu. Rasa yang pertama di tujukan kepada Irene kemudian mencoba memeluk hatinya.


Tepat pukul 18.00 semuanya sepakat untuk ikut Vey kerumahnya. Devano dan juga Wildan berbincang-bincang santai di teras. Meskipun Devano tahu ada perubahan yang terlihat jelas.


__ADS_2