
Kalau harus ku mengingatmu lagi
Aku takkan sanggup dengan yang terjadi pada kita
Jika melupakanmu hal yang mudah
Ini takkan berat, takkan membuat hatiku lelah
Kalah, kuakui aku kalah
Cinta ini pahit dan tak harus memiliki
Jika aku bisa, ku akan kembali
Ku akan merubah takdir cinta yang kupilih
Meskipun tak mungkin, walaupun ku mau
Membawa kamu lewat mesin waktu
Jika melupakanmu hal yang mudah
Ini takkan berat, takkan membuat hatiku lelah
Panjang perjalanan yang harus kulalui
Merelakanmu
Jika aku bisa, ku akan kembali
Ku akan merubah takdir cinta yang kupilih
Meskipun tak mungkin, walaupun ku mau
Membawa kamu lewat mesin waktu, ho-uh-oh
Wo-uh-oh
Jika aku bisa, ku akan kembali
Ku akan merubah takdir cinta yang kupilih
Meskipun tak mungkin, walaupun ku mau
Membawa kamu, oh-oh
Jika aku bisa, ku akan kembali
Ku akan merubah takdir cinta yang kupilih
__ADS_1
Meskipun tak mungkin, walaupun ku mau
Membawa kamu lewat mesin waktu.
Alunan gitar, dram juga piano mengiringi suara Wildan yang terdengar sangat sedih. Begitu dalam dan penuh penghayatan.
Semua pengunjung cafe dibuat terhipnotis tak berkedip. Pembawaan yang Wildan berikan tidak pernah berubah. Semakin hari semakin memukau para pengunjung.
Tak jarang cafe yang berlebel DN itu tidak pernah sepi. Selain memiliki artis cafe yang tampan. Pelayanan dari pramusaji juga sangat ramah tamah.
Sehingga, membuat siapa saja yang berada disana ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi.
Devano yang keluar masuk ruang berhenti sejenak untuk melihat penampilan artisnya. Devano begitu kagum dengan Wildan. Laki-laki yang mandiri juga cerdas dalam segala hal.
Bukan Devano tidak tahu dengan perasaan Wildan terhadap istrinya. Hanya saja, akibat kecelakaan silam Devano masih belum bisa mengingatnya.
Meskipun, ingat Devano mungkinasih bisa menghargai. Dari awal lirik sampai akhir lagu Wildan memberikan penampilan yang terbaik. Penglihatannya memutar melihat kesekeliling dengan senyum mengembang.
"Sampai ada yang nangis?" kekeh Devano menggeleng.
Sebegitu menghayatikah mereka dengan lagu yang dibawakan Wildan pikir Devano beranjak jalan keruangannya.
Dengan langkahnya yang bangga Devano berjalan perlahan. Seperempat diambang pintu suara lain memanggil namanya.
"Vano," panggil suara itu.
"Hey, kamu disini juga?" balas Devano menyambut sang mantan.
Corak mata Wildan tidak sengaja menangkap Devano yang memeluk wanita berkulit putih itu. Marah, Wildan menggenggam erat microfonnya.
Kedua matanya memerah menahan emosi yang tiba-tiba datang. Tyo, menangkap gelagat yang tidak mengenakkan. Sehingga, dengan menepuk pelan bahu Wildan.
Barulah, Wildan tersadar dan menyelesaikan lagunya. Pandangan masih terarah intens kepada Devano dan wanita asing itu. Sampai masuk kedalam kantor milik Devano.
Membuat bulan sabit sepintas kemudian turun dari atas panggung. Tyo yang memegang alat tempurnya bergegas turun mengikuti kemana Wildan pergi.
"Hey, artis cafe. Mau kemana kamu?" teriak Tyo tidak dihiraukan oleh Wildan.
Sesampainya di depan ruangan Devano, Wildan mengintip kedalam. Matanya membelalak ketika melihat wanita yang ditemuinya pada saat Devano koma.
Tyo hanya berdiri melihat kelakuan temannya yang seperti sedang memata-matai orang sedang pacaran. Dengan menggeleng Tyo langsung menepuk dan seketika menyeret kera baju Wildan.
Mendapat tarikan dari belakang tiba-tiba Wildan hampir terjatuh. Kalau saja Tyo tidak segera menangkap tubuh belakang Wildan.
"Ck, apaan sih kamu itu. Lepas!" kesal Wildan mengibaskan tangan Tyo.
"Ya maaf, lagian, kamu sendiri ngapain ngintip. Gak baik kata purnomo," jawab Tyo berlagak polos.
"Purnomo, Purnomo. Porno iya. Sudah, kamu diam saja," kata Wildan dengan menutup bibir Tyo.
__ADS_1
"He, Wildatun bin Agus,,,,,,dengerin yah. Sudah lha jangan ikut campur ini bukan urusan kita, Wil. Juga kita belum tahu kan dia itu siapa. Wil, dengerin deh kalau manusia lagi ngomong," sungut Tyo menarik tangan Wildan.
Dengan marah Wildan mengibaskan tangan Tyo. Tanpa mau menunggu lagi Wildan mendorong pintu yang setengah terbuka.
"Dev," panggil Wildan dengan nafasnya yang sudah tidak terkontrol.
Tyo mematung di bang pintu dengan wajah tertunduk. Sungguh, Tyo tidak bisa mencegah sahabatnya itu. Emosinya sudah ingin keluar dari ubun-ubun nya sejak tadi.
Devano dengan perempuan itu terperanjat dan spontan berdiri. Dengan wajah kagetnya Devano melihat Wildan yang tampak marah terhadapnya.
Devano mencoba untuk tetap tenang. Langkah pertama yang Devano lakukan adalah berjalan mendekati Wildan. Belum sempat tangannya sampai dibahu Wildan.
Kepalan tangan kekar sudah melayang hampir mengenai pipinya. Beruntung Devano segera menghindar dari terpaan pukulan mendadak Wildan.
"Wil, goblok," sentak Tyo menarik keras bleser yang dipakai sahabatnya itu. Tanpa sadar pinggul Wildan terbentur pojokan meja yang di dekat pintu.
Devano, Tyo, dan perempuan asing itu terkejut ketika suara hantapan keras terdengar. Dengan tersentak Wildan membelalak bersamaan tubuhnya jatuh kebawah.
Sedikit terlihat bleser yang dikenakan dengan baju kaos dalamnya robek. Memperlihatkan kulit merah dengan gorengan yang mungkin panjangnya 5cm.
Wildan langsung tidak sadarkan diri. Dengan luka robek yang sedikit parah. Darah terus mengucur deras membuat bajunya yang berwarna navy bercampur dengan darah.
Perempuan asing yang berprofesi seorang dokter langsung meminta Devano dan Tyo untuk menggotong tubuh Wildan. Agar dipindahkan di sofa.
Dengan rasa bersalah Tyo tetap memandang sahabatnya dengan penuh air mata. Sesekali tangannya bergetar melihat Wildan yang terluka akibatnya.
"Yo, tenang lah Wildan tidak akan kenapa-kenapa. Ini juga bukan kesalahanmu," tenang Devano.
"Dev, sebetulnya aku dan Wildan yang harus meminta maaf. Wildan mengira,"
"Iya, aku tahu maksudmu. Dengan datangnya Wildan tiba-tiba tadi aku sudah tahu. Dia, keponakanku yang datang dari luar negri. Sekilas wajahnya memang mirip mantanku karena, ayah dari keponakanku itu masih bersaudara dengan mamanya," jelas Devano melihat Anita yang sibuk membersihkan luka Wildan.
"Gobloknya si es batu," gumam Tyo menutup wajahnya.
"Sudah, aku dengar apa kamu ucapkan. Yo, aku sebenarnya ingin tahu tentang Wildan dan istriku Vey. Mereka dulu sedekat apa?"
Spontan Tyo terbelalak mendengar pertanyaan Devani. Tyo paham mungkin selama ini Devano sering kali berusaha mengingat namun, tidak pernah bisa.
Masih terbengong di depan Devano. Tanpa disadari Anita sudah selesai membersihkan luka Wildan. Anita sengaja memberikan obat tidur agar Wildan beristirahat.
Akhirnya, Devano menyuruh Tyo untuk melanjutkan ceritanya. Anita menatap wajah sepupunya yang berubah. Tampak jelas raut wajah entah marah atau cemburu.
Tetapi Devano sangat pandai dalam menyembunyikan perasaannya ketika sedih. Tyo berhenti sejenak dan menengok ke Wildan. Menghembuskan nafasnya kasar dan menunduk dalam.
"Sebenarnya, berat buatku untuk menceritakan ini semua, Dev. Dan, aku juga berjanji kepada Vey untuk tidak menceritakan ini sama kamu," sesal Tyo. Devano menatap Wildan dengan keringat yang sudah membasahi dahinya.
"Ada kalanya sebuah rasa tidak perlu dipendam terlalu dalam. Ketika, sudah ada hati yang sudah memenuhi hatinya."
__ADS_1