SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
PUKULAN DARI CINTA TAK SAMPAI


__ADS_3

Seseorang sering mengharapkan sesuatu yang selama ini ditunggu. Entah itu harapan kosong atau harapan yang terisi penuh.


Betapa sedih hati jika harapan itu hanya kertas putih yang tidak berwarna. Kosong tak terisi dengan satu huruf. Bisakah itu disebut harapan palsu atau hanya sekedar PHP.


Marah, itu semua hanya menghabiskan energi dan membuang waktu. Memberikan kebohongan kepada seseorang itu kadang perlu.


Ada sebuah kata yang mungkin sering terdengar. Berbohonglah jika itu mendesak dan berbohonglah jika itu diperlukan. Demi kebaikan berbohong tidak akan berdosa. 


Yah, itu lah yang dikatakan oleh dokter Anton. Pasti ada penyesalan tersendiri yang dokter Anton rasakan. Dia tahu berbohong itu dosa dan memberikan sebuah harapan kepada orang lain itu adalah sebuah kebohongan terbesar.


Tanpa diduga Wildan sudah berada di depan pintu dokter Anton. Dengan wajah dinginnya Wildan memasuki ruangan putih itu tanpa mengetuk terlebih dulu.


Dokter Anton dan satu suster terkejut melihat Wilda yang tiba-tiba masuk. Apalagi dengan raut wajah penuh marah Wildan langsung menangkap kera baju sang dokter.


"Pak, tolong jaga sopan santun Anda," cegah suster yang berada di dekat sang dokter.

__ADS_1


"Sudah Sus, lebih baik keluar saja dulu!" titah dokter Anton. Suster itu langsung melenggang pergi dan berniat untuk memanggil satpam.


Selepas suster itu pergi Wildan sudah memberikan pukulan di wajah dokter Anton. Dokter Anton langsung terhempas ke ubin yang terasa dingin. Bibirnya mengeluarkan darah sedikit akibat bogem mentah dari Wildan.


Dengan kemelut rasa emosi Wildan sudah mengangkat tangannya hendak mencengkeram almamater putih itu. Belum sempat menyentuhnya dari arah belakang tangan Wildan tertahan.


"Tuan, sebaiknya kita bicarakan dengan kepala dingin jangan dengan otot dan emosi," seloroh dokter Dandi. Mendengar itu Wildan hanya tersenyum bersamaan tangan dokter Dandi sudah terlepas.


Suster yang tadi disuruh keluar langsung berlari menolong dokternya. 


"Ini sebenarnya ada apa?" tanya dokter Dandi kepada rekan kerjanya.


"Tidak tahu, tiba-tiba saja mas itu sudah mencengkram kerah dokter Anton, Dok," jawab suster Elly. Dokter Anton hanya bisa memejamkan mata merasakan perih di ujung bibirnya.


"He, sebaiknya Anda jangan lagi memberikan harapan palsu kepada keluarga pasien. Anda berpendidikan bukan? Tapi kenapa Anda membohongi wanita lemah itu? Apa Anda tahu, sangat besar harapan yang wanita itu inginkan. Tapi nyatanya,?" 

__ADS_1


"Ton, apa ini tentang ucapanmu tadi?" kata dokter Dandi bertanya lagi.


"Pak Wildan,maaf sebelumnya. Apa yang Anda bicarakan itu-?"


"Anda tidak usah berpura-pura lagi, Dokter! Sebaiknya Anda berpikir terlebih dulu sebelum mengatakan kebohongan itu. Apa Anda pernah tahu bagaimana perasaan Vey ketika Anda mengucapkan itu? Tidak pastinya kan?"


"Maaf, bukan maksud saya untuk membohongi nona Vey. Saya hanya kasihan melihat beliau yang terus saja berada di samping pak Devano. Tanpa makan dan tanpa minum sedikitpun. Saya yakin cacing di perutnya sudah lebih lemas dulu. Pak Wildan,"


"Itu semua tidak berpengaruh kepada Vey, Dok. Anda tidak tahu sudah kedua kalinya kejadian ini terjadi. Maka dari itu jangan lagi memberikan harapan kosong kepadanya," 


Dokter Dandi dan dokter Anton sling tatap sebelum kemudian berlari mengejar Wildan keluar. Setelah melampiaskan kemarahannya Wildan langsung pergi. Namun, di lorong ruang yang tampak ramai Wildan terhenti.


"Tunggu, tunggu dulu Pak Wildan!" teriak dokter Anton mencegah Wildan terus berjalan.


Wildan berbalik dan menatap tajam ke arah dua lelaki yang berpakaian serba putih itu. Rambutnya sedikit berantakan akibat ulahnya. Dan rambut satunya masih terlihat rapi belah tengah. 

__ADS_1


Uhui, bayangannya pasti kemana-mana nih😂😂🤣🤣🤣🤣…..berasa melihat bang lee min ho bukan😂😂😂🤣🤣. Anggap saja seperti itu😀😀😀. Ben ora tegang yah guys😎😎.


__ADS_2