
Dua bulan kemudian acara resepsi pernikahan antara Devano dan Vey dilaksanakan sangat meriah. Tidak ada perjanjian lain antara keduanya untuk mengundang masa lalu.
Dion, lelaki yang dulu menjalin hubungan dengan Vey pun turut hadir dalam resepsi mewah itu. Vey ingin berdamai dengan semua masa lalunya. Meski Vey tahu jika menghadirkan masa lalu akan membuatnya mengingat semua kejadian yang menyakitkan.
Dari jauh Wildan menatap sendu wajah penuh kebahagiaan itu. Jelas terpancar rona merah yang semakin menampakkan ke ayuan wanitanya--dulu.
Suara riuh sana-sini tidak membuat kedua lelaki patah hati itu terganggu. Lelaki satu merasa menyesal dengan perbuatannya. Dan lelaki patah hati satunya menyesal pun sudah tidak ada gunanya.
Semuanya sudah usai di mana kebahagiaan Vey berlabuh. Dengan hati yang hancur Wildan mempersiapkan dirinya untuk menghibur para tamu undangan.
Sahabat-sahabat Vey memiliki tugas masing-masing. Tio, Irene, Alisya, Nadin, Rizal semua melaksanakan tugas yang sudah direncanakan.
Banyak para tamu undangan merasa puas dengan jamuannya. Kedua keluarga juga turut sibuk mendatangi satu persatu para tamu masing-masing.
__ADS_1
"Akhirnya, yah mas. Aku bahagia sekali melihat adik kesayangan ku tidak berhenti tertawa seperti itu. Sudah sangat lama sekali Vey tidak seperti ini," ucap mbak Asri ditengah keramaian acara.
"Ini semua hadiah terindah dari semua masalah yang Vey lalui. Sungguh, Vey adalah wanita terkuat menurut mas. Vey juga wanita yang pintar dalam menyembunyikan semuanya. Dari awal mas bertemu Vey di Alun-alun. Mas melihat ada sesuatu yang waktu mas rasa tidak asing. Almarhum Fahmi begitu beruntung bisa mengenal Vey. Hah, andai saja Fahmi disini. Pasti, orang yang sangat bahagia dari kita semua adalah dia," jawab Fatih dengan mata berkaca-kaca.
"Mas, kenapa kamu yang menangis. Seharusnya aku yang menangis?" protes mbak Asri yang mendapat dekapan dari suami tercintanya.
'Yah, andai semua itu tidak terjadi. Aku yakin Fahmi adalah orang yang sangat bahagia,' batin mbak Asri.
Perut mbak Asri kini sudah berusia 9 bulan sebentar lagi akan ada kebahagiaan lainnya. Menunggu tanggal kelahiran bayi mungil yang akan menjadi mainan Vey.
Tes, Tes, Tes satu, dua, satu, dua. Tes
"Woy, tidak bisa berhitung dengan benar kau dari tadi satu, dua, satu, dua," teriak Tyo sengaja ingin semakin memeriahkan acara pernikahan Devano dan Vey.
__ADS_1
"Haa haa haa haa haa haa haa haa,"
Semua tamu undangan tertawa terbahak-bahak akan lelucon yang Tyo lontarkan. Wildan yang tidak enak hati hanya memberikan genggaman telapak tangannya.
Sedangkan Tyo dan yang lainnya hanya tertawa puas. Tyo hanya tidak ingin Wildan sahabatnya terus bersedih. Tyo tahu betul hati Wildan begitu terluka hebat.
Bagaimana tidak terluka begitu hebatnya. Cinta yang dikiranya masih sama sudah berubah dan melupakan semuanya. Bukan salah Vey untuk semua luka yang Wildan rasakan.
Tidak ingin semua temannya melihat Tyo segera mungkin memalingkan wajahnya. Menghapus setetes air mata yang lewat ekor matanya. Irene tahu itu tapi, Irene tidak bisa berbuat apa-apa. Semuanya sudah terjadi dan tidak bisa lagi untuk diulang.
"Assalamualaikum, selamat sore menjelang malam semuanyaaaaa," teriak Rizal yang ditunjuk sebagai MC.
"Waalaikumsalam," jawab semua orang serempak.
__ADS_1
"Baik, untuk ratu dan raja yang sedang berdiri menyapa para tamunya. Semoga raja dan ratu diberikan kebahagiaan sampai kakek nenek. Diberikan pernikahan yang Sakinah, Mawadah, dan Warahmah. Dev, jangan lupa sediakan sesuatu yang romantis untuk wanitamu nanti malam,"
"Huuuuuuuu,,," sorak para pemuda-pemudi kepada Rizal.