SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
BIDADARI YANG RAKUS


__ADS_3

"Pa, Bun, Mas? kenapa?" tanya Devano yang belum tahu satu rahasia dari Vey.


Bunda, papa Candra dan mas Fatih melihat ke arah Devano yang keheranan. Ketiga orang tersebut cukup tersenyum dan menggeleng. Devano semakin heran melihat ketiga calon keluarganya menggeleng tanpa bicara.


Mbak Asri yang kembali ketempat semula terduduk lesuh. Dilingkarkan tangannya ke lengan suami tercintanya. Tangan satunya melingkar ke perutnya yang sedikit membuncit.


Vey belum mengetahui kabar bahagia yang diberikan mbak Asri dan juga maf Fatih. Begitupun kedua orang tuanya yang belum mengetahui kehamilan putri pertamanya.


Fatih tersenyum melihat dan mengelus tangan sang istri. Devano mengerutkan kulit dahinya semakin dalam. Batinnya bergejolak ingin tahu apa yang membuat semuanya seperti itu.


Karena, tidak bisa lagi menahan ke heranannya. Devano, berdiri dan hendak melangkah. Namun, papa Candra yang melihat itu langsung menghentikan Devano.


"Dev, mau kemana?" tanya papa Candra mendapat perhatian dari bunda, mbak Asri dan mas Fatih.


"Hem, Devano mau-" belum sempat Devano melanjutkan ucapannya. Mbak Asri langsung memotongnya.


"Gak usah Dev, sudah habis semua dilahap tanpa sisa," cetus mbak Asri.


"Maksudnya gimana mbak?" tanya Devano kembali duduk lagi.

__ADS_1


"Si bidadarimu sudah menghabiskan semuaa makanan dimeja makan. Upss," ceplos mbak Asri menutup mulutnya.


Papa Candra, bunda dan Fatih langsung menutupinya dengan tawa yang sangat kencang. Devano terdiam entah, mengerti maksud mbak Asri atau terdiam karena semakin bingung.


Vey, yang asyik menyantap berhenti sebentar. Berdiri untuk melihat ke arah suara papanya tertawa. Dengan mulut yang masih mengunyah makanannya. Vey, terus melihat dengan sesekali menyuap lagi ke dalam mulutnya.


'Pasti nertawain aku lagi,' batin Vey semakin menyuap dan menjejalkan nasi serta lauk yang bercampur sambal terasi kesukaannya.


Ekor mata Devano melihat Vey berdiri dengan terus menyuap langsung ikut tertawa juga. Kedua mata Vey melotot tidak menyangka si tampan nya tertawa sebegitunya sambil menepuk-nepuk pahanya.


Melihat Devano yang tertawa di akhir. Papa Candra, bunda, mbak Asri dan mas Fatih terdiam. Tatapan mereka mengikuti telunjuk Devano.


Dengan serempak semuanya melihat ke arah Vey yang membawa piring dengan mulut yang tidak berhenti mengunyah.


Kenyang menyantap semua makanan yang seharusnya dimakan bersama. Vey, menaruh piring dan mencuci tangannya ke baskom yang sudah tersedia.


"Tawa aja terus sampai perut kalian semuanya kenyang," celetuk Vey masuk ke dalam kamarnya. Belum sempat pintu terbuka Vey mendengar suara merdu yang bernyanyi.


KRUKKK!!

__ADS_1


"HAAA HAAAA HAAAA, Rasain," Vey menertawakan keluarganya yang kelaparan. Seketika tawa Devano dan lainnya terhenti.


Tawa Vey masih mereka dengar dengan muka dan perut yang terus bernyanyi.


"Vey,,,,tega bener kamu sama calon ponakanmu," teriak mbak Asri keras. Vey yang tertawa di dalam kamarnya langsung berhenti.


BRAAKK!


"Apa?" tanya bunda, papa Candra dan Devano serempak. Mas Fatih menempelkan telapak tangannya ke dahinya.


Sedangkan, mbak Asri hanya menyengir kuda seperti tidak merasa mengucapkan apa-apa.


"Mbak, coba ulangi lagi!" cetus Vey yang membentur pintu yang hendak dibukanya.


"Em, ngomong apa memangnya? Mbak gak merasa ngomong apa-apa?" jawab mbak Asri dengan santainya.


"Mbak, apa yang mbak maksud itu. Alhamdulillah, pa sebentar lagi kita mempunyai cucu," sorak bunda kegirangan seperti anak kecil.


"Bener, mbak yang dikatakan bunda?" tanya Vey berjongkok di depan mbak Asri.

__ADS_1


Ehem, nafas dulu dongπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.


NOTES: KEBAHAGIAN YANG BESAR ADALAH KETIKA AKAN ADA KEHIDUPAN LAIN YANG DATANG.


__ADS_2