
Belum siap kehilangan mungkin itu yang Wildan rasakan. Seperti sebuah lagu yang dinyanyikan oleh bang steven pasaribu yang sekarang lagi viral.
Ada rasa yang tertinggal jauh dalam lubuk hatinga yang hitam. Hati yang dulu berwarna kini semakin hitam dan gelap.
Ada dua hati yang ingin memiliki satu hati yang sama. Sayangnya hati yang ingin Wildan miliki sudah dimiliki orang lain. Sebelum janur kuning belum melengkung Wilfan bertekad untuk mencobanya kembali.
Usia sudah tidak muda lagi dan masong-masing sudab dewasa dalam sebuah percintaan. Semakin dewasa semakin keras memikirkan soal cinta. Apalagi hidu seperti Wildan. Sana sini mencari cinta yang pas untuk dirinya.
Seminggu setelah kejadian itu Vey memutuskan untuk tidak ingin keluar rumah. Devano beberapa kali membujuk untuk keluar sebelum dia kembali ke kota asalnya.
Namun, Vey tetap bersikeras untuk bersantai dirumah. Bukan karena Devano tidak tahu perbincangam antara Vey dan Wildan. Mungkin saat ini Vey mulai dipema dengan hatinya.
Cinta monyet arau cinta masa lalu yang belum terjadi. Membuat Vey dilema akan perasaannya kepada siapa dia labuhkan. Mencari tempat persandaran yang pas dan tepat.
Bunda dan papa Candra tahu betul permasalahan yang dihadapi sang putri. Diam adalah waktu yang tepat untuk memberikannya waktu untuk berfikir.
Bunda dan papa Candra yakin putrinya sudah dewasa dan bisa menentukan apa yang harus dilakukan. Orang tua hanya bisa membantu lewat doa dan dorongan semangat.
Di dalam kamar Devano duduk di karpet yang memang dibuat duduk oleh Vey. Kamar yang tidak begitu besar juga tidak terlalu kecil. Menjadi pilihan yang sangat Vey mau.
Sedangkan Vey, duduk menyandarkan punggungnya di punggung Devano. Manik matanya membaca setiap huruf tapi tidak dengan pikirannya. Vey masih mengingat perkataan Wildan kepadanya.
Bukan menjadi seorang wanita yang munafik jika mendengar omongan manis dari seorang pria yang dulu pernah dicintai. Sayangnya, Vey ingin menghapus semua kenangan dan perasaan itu.
Pilihannya untuk memilih Devano adalah pilihan yang tepat. Sesulit apapun itu Vey akan terus berusaha membuka hatinya untuk Devano. Mas tampan yang seperti artis korea favoritnya.
Anggap saja seperti itu๐๐คฃ๐คฃ.
__ADS_1
Matahari membumbung tinggi diatas langit. Memancarkan sinar yang menyengat kulit. Cahaya yang semburat memasuki kamar Vey yang tertutupi gorden putih tipis.
Berdiam didalam kamar membiat Devano maupun Vey mulai merasa gerah. Tetapi, Vey tetap tidak ingin berpindah dan keluar kamar. Posisinya pun masih tetap menempel pada punggung tunangannya.
Devano memutar lehernya ke samping. Ekor matanya melirik Vey yang masih fokus membaca novel kesayangannya. Devano tersenyum baginya Vey adalah wanita pertama yang dia cintai.
Wanita yang dari awal bertemu sudah membuathati Devano menghangat. Perlahan Devano memutar tubuhnya dan menyangga punggung Vey dengan telapak tangannya.
Vey yang merasa tidak nyaman menggeser punggungnya. Berniat mensejajarkan punggungnya dengan nyaman. Merasa ada yang aneh alhirnya Vey menutup bukunya dan menegakkan tubuhnya.
Devano bersedekap menunggu reaksi wanitanya yang sudah Devano tahu pasti akan memukul. Dengan memancarkan senyum lebarnya dan kedua matanya yang hampir menutup. Devano menggoda Vey yang merasa kesal.
"Ih, apaan sih?" telapak Vey meraih hidung Devano yang mancung.
"Ah, ah, ah. Lepas sakit sayang?" rengek Devano. Melihat mas tampnanya kesakitan Vey melepaskan dan dikecupnya ujung mancung hidung mas tampnnya.
Saling tersenyum dan saling memberi kode lewat alis atau mata. Menatap lama wajah Vey yang ayu dan pastinya akan Devano gambar setiap lekukan di wajah Vey.
"Vey," panggil Devano sambil meraih kedua tangan wanita yang tinggal beberapa bulan lagi akan dihalalkannya.
"Sebelum aku balik ke jakarta. Apa yang ingin kamu minta dari aku?" tanya Devano yang membuat Vey mengkerutkan dahinya. Devano tertawa kecil dan mengecup punggung tangan Vey.
"Aku tidak minta apa-apa, Dev. Aku hanya minta hatimu selalu buatku," jawab Vey yakin.
Sedikit egois dan memaksa untuk dicintai tidak lah salah. Yang salah jika kita meminta seseorang untuk berlari mengejar cinta yang jauh.
"Selalu dan akan tetap selalu. Tetapi, apa hatimu juga sama sepertiku yang penuh dengan satu nama saja?"
__ADS_1
Deg, seperti apa yang dipikirkan oleh Vey. Arah perbincangan mereka sudah sedikit saling sindir. Tatapan mata Devano seperti menghunus dan mencari jawaban apa yang akan ditemukan lewat bibit mungil milik Vey kekasihnya.
Vey diam tidak berkutik dengan pertanyaan calon imamnya itu. Seakan ketebak semua oleh Devano tentang perasaannya. Apa Devano mendengar semua percakapannya dengan Eildan kemarin malam pikir Vey.
Dilepaskannya genggaman tangannya yang sedari tadi digenggam erat oleh Devano. Vey berdiri dan berjalan ke meja belajarnya.
Diambil bingmai foto yang dimana terpasang gambar dirinya juga Fahmi. Foto yang selalu Vey simpan di tempat yang gampang terlihat oleh manik matanya.
"Dia,"tunjuk Vey pada gambar Fahmi yang tersenyum manis. "Hati ku masih ada nama dia dan masih dimiliki dia. Sebelum, lebel HALAL itu tertulis disini," Vey tersenyum menuntun kedua mata Devano ke dada sebelah kirinya.
Devano membalas senyum wanita yang menghadap ke arahnya. Meskipun hati Devano sangat yakin itu bukan jawaban Vey yang sebenarnya.
Tetapi, Devano tidak ingin Vey tahu. Inilah rasanya mencintai seseorang yang masih belum mencintai kita. Harus sabar dan harus tetap yakin dengan hati masing-masing.
Devano berdiri dan menghampiri Vey yang masih berdiri di depan jendela. Kelambu putih menari-nari mengikuti hembusan angin yang menerbangkannya. Menutupi wajah Vey yang tampak masih terlihat.
Dengan penuh rasa berdebar Devano sdmakin dekat dan membuka kelambu yang menutupi wajah Vey. Dengan mata terpejam Vey menunggu Devano membukanya.
Tidak ada debaran yang terasa di hati Vey. Entah, kenapa rasa itu tidak Vey rasakan meski, Vey berkeringat dingin. Sedikit, sedikit sengatan mungkin bisa menghidupkan hati Vey yang mati.
Tangannya terangkat dan menyapu kelambu putih polos itu. Tentu, suatu kejadian yang baru pertama kali Devano pandang dan Devano tatap dengan jelas.
Cantik, polos, anggun, dan sederhana yang Devano lihat di wajah Vey. Meski dengan mata terpejam Devano bisa melihat dalam kecantikan tunangannya.
Devano sedikit memajukan wajahnya dengan hati-hati dan perlahan. Tepat di antara hjdung, dahi, dan bibir mungil merah jambu milik Vey. Devano tersenyum simpul menatap ketiga itu.
Ditatapnya dan beberapa detik kemudian mendaratlah sebuah kecupan lama di dahi Vey. Sengatan itu cukup membuat hati Vey terasa bergetar. Air matanya mengalir mulus lewat pipi tembem Vey dan menetes tepat di punggung tangan Devano.
__ADS_1