SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
MEMUTUSKAN SESUATU IRENE


__ADS_3

Mungkin peribahasa ini sama dengan apa yang aku alami. Sepandai-pandainya menyembunyikan sesuatu dikemudian hari akan tercium juga. Meskipun, dengan sekuat tenaga aku terlihat baik-baik saja didepan semuanya. Selama ini hubunganku dengan Reza baik-baik saja, sampai akhirnya salah satu orang tua Reza ada yang tidak menginginkannya. Alasannya karna aku tidak sebanding dengan keluarga Reza.


Kalau didesa orang yang memiliki sepeda motor V, M, atau lainnya dan memiliki mobil A, P dan lainnya juga sudah dianggap sebagai orang kaya. Benar, keluarga Reza orang terkaya didesaku. Rumah yang tidak begitu besar tapi kekayaannya terlihat dengan jelas. Tetapi Reza tetap menjalin hubungan denganku. Aku pun akan terus mempertahankan.


Saat jam istirahat tiba aku, Reza dan teman-temannya berjalan menuju kantin. Aku melihat Wildan, Gio dan juga Vey yang sudah kembali lagi masuk sekolah. Sempat ku dengar kalau Vey mengalami depresi yang sangat berat. Dengans sedikit berlari aku menggandeng tangan Reza menghampiri mereka yang akan menuju kearah atap gedung. Aku menyapa dan memperkenalkan Reza kepada mereka, Vey dan Tio merespon perkenalan Reza sedangkan Wildan dia masih tetap dengan wajah datar dan dinginnya.


Setelah menanyakan keadaan Vey aku melanjutkan perjalannku untuk menuju kantin sekolah. Cacing-cacing diperutku sudah bernyanyi ria tidak sabar untuk menyantap makanan yang akan aku makan. Asyik menikmati sosis bakar salah satu teman lainnya menghampiriku. Dia bilang ada seseorang yang ingin bertemu denganku digerbang sekolah. Tanpa ada yang aku pikirkan lagi aku segera meninggalkan Reza untuk menemui orang tersebut.


Sesampainya didepan gerbang ku melihat Mamanya Reza yang berdiri membelakangiku. Ku sapa beliau dengan senyum manisku, tapi tidak dengannya. Sangat terlihat jelas kalau beliau tidak menyukai ku.


"Budhe." panggil ku pelan tapi terdengar oleh beliau.


Merasa ada yang memanggilnya beliau mengahadapku.


" Langsung saja, dari awal aku tidak pernah setuju kalau kamu dengan Reza. Kamu tidak selevel dengan keluarga kami, setelah ujian kenaikan kelas aku akan mengajak Reza untuk pindah kekota. Aku sudah memiliki wanita yang pantas untuk Reza. Apa kamu tidak mikir sebelumnya untuk menyukai anakku. Apa memang kamu ingin memanfaatkan Reza karna dia kaya. Iya kan?" ucap Mama Reza.

__ADS_1


Aku tersentak mendengarnya ku menoleh kearah teman lainnya. Mereka sedang memperhatikan kami, entah apa yang ada dalam pikiran mereka yang jelas saat ini aku benar-benar malu. Baru kali ini aku mendengar kata-kata yang dilontarkan Mamanya Reza kepadaku. Ku tundukkan wajahku tak berani menatap sekeliling, air mataku keluar tanpa diminta. Cacian dan hinaan masih saja beliau ucapkan dengan lantangnya.


Banyak pasang mata yang melihat keributan ini, sungguh aku benar-benar sudah dibawah malu lagi. Sampai akhirnya ada sebuah tangan yang menarikku. Terdengar suara yang tak asing ditelingaku. dia membelaku, dia mendekap dan menutup telingaku agar aku tidak mendengar ocehan Mamanya. Tanpa memperdulikan teriakan Mamanya Reza mengajakku kembali lagi kekelas. Air mata ku masih saja keluar meskipun aku sudah mencoba menghapusnya.


Reza masih mencoba menenangkanku dia meyakinkan aku agar aku tidak terpengaruh dengan ucapan Mamanya. Dengan meminta bantuan teman-temannya untuk menghiburku agar berhenti menangis. Isakanku mulai sedikit mereda saat Danu temannya Reza bercerita lucu. Aku ikut tertawa bersama mereka, dengan tawa ini ku harap semuanya akan kembali lagi.


Ujian kenaikan kelas telah dimulai hari ini, aku berangkat sekolah dijemput dengan Reza. Masih sama, setiap melihat Reza sekilas hinaan itu terdengar jelas ditelingaku. Reza mamakaikan helm dikapalku, dengan senyum terpaksa ku tunjukkan kepadamu. Aku ingin terlihat baik didepannya. Aku tidak ingin membuat dia semakin bersalah dengan ucapan Mamanya.


Ruanganku dengan ruangan Reza tidak sama, aku satu ruangan denga Wildan. Tempat dudukku lun bersebelahan dengannya. Melihat Wildan inginku berlari dan menceritakan semuanya, tapi niat itu aku urungkan. Aku berjalan ketempat dudukku tanpa melihat Wildan. Dia terlihat fokus dengan buku yang dipegangnya.


" Wil, apa kamu masih menyimpan rasa itu untukku." batinku.


Setengah jam aku sudah menyelesaikan soal ujian, berharap semua jawaban yang aku tulis tidak banyak kesalahan. Ku rapikan lembaran kertas ujian itu, ku lihat kearah Wildan yang sepertinya sedang melamun. Dia juga sudah selesai, guru pengawas menyuruh kita semua untuk emngumpulkannya kedepan. Semua murid berjalan kearah meja pengawas itu duduk. Dan setelah mengumpulkan soal dan jawabannya mereka langsung berhambur keluar kelas. Ada yang masih mau dikelas untuk belajar lagi persiapan jam kedua.


Reza datang keruanganku dengan membawa minuman juga dua snack. Sebisa mungkin aku harus bersikap biasa saja. Ku melihat sekitar ruangan tidak tampak Wildan mungkin dia keruangan Tio dan Vey. Jam ujian kedua sudah datang, aku fokuskan kem ali pikiranku kekertas putih ini. Ujian kedua mata pelajaran Bahasa Indonesia, tak butuh waktu lama aku sudah memahami setiap inci soalnya.

__ADS_1


Dari samping ku lihat Wildan sudah selesai terlebih dulu, dia seperti tergesa-gesa. Setelah Wildan, aku pun sudah selesai, ku ambil tas ranselku dan ku langkahkan kakiku menuju keluar. Wildan sedang duduk menunggu Tio, ku hanya menatapnya sekilas kemudian akupun ikut mendukung tubuhku disampingnya.


" Ren, kamu gak apa-apa." tanya Wildan.


Aku yang ditanya hanya menundukkan kepalaku. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulutku. Berada didekat Wildan saat ini membuatku tenang. Sekian lama menunggu akhirnya Tio datang juga. Ku berjalan mengikuti mereka berdua, saat di tengah gerbang Reza memanggil manggil namaku. Aku masih tidak menghentikan langkahku, sampai Wildan mencekal pergelangan tanganku.


Dengan berat hati aku berhenti, Reza mengajakku untuk sedikit menjauh dari mereka semua. Dia meminta untuk tetap dengan hubungan ini. Aku hanya bisa menangis, aku tidak berani untuk melihatnya. Aku benar-benar tidak sanggup untuk memutuskannya. Aku masih sangat menyayanginya tapi aku sadar aku tidak pantas untuk Reza.


Reza tampak terlihat frustasi dengan semua masalah ini. Semoga tidak mengganggu konsentrasinya belajar. Wildan menghampiri ku dan Reza, dimenengahi permasalahan ku. Setelah itu Wildan mengajakku kembali untuk pulang. Kami bertiga berjalan beriringan tanpa kata tanpa suara. Hanya terdengar suara mesin diesel tukang tambal ban. Disepertiga jalan aku, Wildan dan Tio berhenti melihat ada banyak orang yang bergerumbul dirumahku. Ada apa orang-orang dirumahku apa yang terjadi, pikiranku masih belum bisa mengerti.


Dengan berlari aku menghampiri mereka dan akhirnya ku temukan jawabannya. Mamanya Reza memaki maki kedua orang tua didepan banyak orang. Ibukku sudah tidak bisa berkata lagi. Ku peluk tubuh rapuh itu yang bergetar hebat. Sungguh tidak pernah kusangka masalalu dengan Reza akan berimbas kepada kedua orang tuaku yang tidak tau apa-apa. Aku yakin untuk mengakhiri ini semua, aku tidak mau lagi melihat kedua orang tuaku dihina lagi. Aku akan memutuskan sesuatu besok, secepatnya harus aku katakan.


NOTES: BERKORBAN DEMI MELIHAT ORANG YANG KITA SAYANGI TIDAK AKAN SALAH MESKIPUN BERAT.


WAH,,,,๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š pasti pada ingusan yah hayo ngaku๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


Maafkan aku yah disini aku ingin menceritakan satu persatu dari mereka. Vey nya aku simpan dulu yah biar masalah Iren selesai duluโ˜บ


Terimakasih sudah mau mampir atau membaca karya recehku. Jangan lupa tinggalkan LIKE, SARANNYA YAH. Maaf juga belum bisa karya kalian๐Ÿ˜Štapi sudah aku masukin favorit kok juga sudah aku tinggalkan bintang 5,Di tunggu yah


__ADS_2