
FATIH SANJAYA itu namaku, aku tinggal dikota M. Kehidupanku dalam keluarga yang sederhana tidak membuatku malu.
Jika dilihat banyak anak yang menuntut orang tuanya untuk menirukan gaya hidup orang kaya. Aku sudah cukup bahagia dengan keadaan seperti ini.
Aku mempunyai saudara sepupu dari Ayahku. Tapi, sampai sekarang aku masih belum pernah bertemu dengannya.
Saat ini aku sudah berusia 21 tahun, setelah lulus sekolah Ayah menyuruhku untuk mengikuti jejaknya menjadi seorang pengabdi negara.
Sebelum aku menjadi seorang pengabdi negara, dulu aku mengalami kejadian yang tidak akan aku lupakan. Saat itu aku sedang menunggu pengumuman kelulusan.
Aku lulus dengan nilai yang cukup baik, dengan terburu-buru aku menuruni anak tangga hingga tidak memperhatikan jalanku.
Aku terus berlari sampai akhirnya aku terjatuh dari anak tangga yang ketiga. Kakiku tidak sengaja menginjak tali sepatu ku yang lepas.
Aaaaaaahhhhhh ,,,,
Jeritan dari teman-temanku yang menyaksikan jatuhnya tubuhku. Menggelinding seperti bola yang ditendang.
Dari insiden itu aku mengalami kebutaan, aku bisa sembuh jika ada yang mau mendonorkan kornea matanya.
Saat aku mengetahui kondisiku yang buta, aku tidak bisa menerimanya. Aku marah, aku benci pada diriku, jika waktu itu aku hati-hati kejadian itu tidak akan pernah terjadi.
Pada saat itu banyak te.an yang mengingatkan akan tali sepatuku yang terlepas sebelah. Tapi, karna aku saking bahagianya aku tidak menghiraukan mereka.
Aku terlalu bersemangat saat itu tidak sabar untuk memberi tahukan pada Ayah dan Ibuku. Aku benar-benar menyesal saat ini, aku tidak akan bisa mewujudkan cita-cintaku untuk mengikuti jejak Kakek dan Ayahku.
Menjadi seorang pengabdi negara adalah cita-citaku dari kecil. Aku sangat suka setiap melihat Ayah pulang dengan memakai baju kebanggaannya.
Saat aku dan keluargaku sudah putus asa, tiba-tiba dokter menghampiri ku. Ayah Ibu dan aku diberi tau oleh dokter bahwa ada yang ingin mendonorkan kornea matanya.
Aku, Ayah dan Ibu sangat bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada siapapun yang mau menjadi pendonorku.
__ADS_1
" Dok, memangnya siapa yang mau mendonorkan kornea matanya kepadaku. Apa aku boleh bertemu dengan orang baik itu." tanya ku kepada dokter yang menanganiku.
" Beliau tidak mengijinkan saya untuk memberi tahu siapa dia Mas. Karna, orangnya sudah meninggal karna kecelakaan. Tapi, jika Bapak dan Ibu mau mengucapkan silahkan ada Salah satu keluarganya yang ada disini," jawab dokter itu.
Ayah dan Ibu segera keluar untuk menuju orang baik hati itu. Tinggalah aku sendiri diruangan serba putih ini. Aku sangat bahagia tak hentinya muluktu mengucapkan terima kasih.
Pada saat aku ingin membaringkan tubuhku lagi. Terdengar suara decitan pintu yang didorong dari luar.
" Bu, apa itu Ibu yang datang," tanganku mencoba menggapai orang yang baru saja datang.
" Iya Nak! Ini Ibu. Ibu dan Ayah datang sama Kakek dan Nenekmu juga ada Pak Lek dan Budhemu juga." tutur Ibu.
Aku terheran, dalam benakku apa hubungan mereka berada disini dan apa pula hubungan dengan pendonorku. Aku masih belum bisa mengerti kenapa ada mereka dirumah sakit ini.
" Kakek, Nenek!" jawabku heran. Sudah lama aku tidak pernah bertemu dengan mereka. Dan yang membuatku bingung kenapa mereka bisa tau aku disini.
" Yah, kenapa mereka ada disini. Apakah Ayah dan Ibu sudah menemukan siapa orang mendonorkan kornea matanya itu. Trus sekarang orangnya mana Yah, Bu. Aku ingin bertemu dengan dia," kataku antusias.
Semua orang yang disini masih diam seribu bahasa. Tidak ada yang menjawab pertanyaanku. Terdengar ada langkah kaki yang mendekatiku. Tangannya terulur mengusap kepalaku.
Beliau juga memelukku dengan rasa sayang. Ini bukan tubuh Ayahku dia lebih kekar dibanding Ayahku.
" Fatih, masih ingat sama Pak Lek Le? Papanya Veyo. Dulu kalian pernah bermain bertiga, kamu, Fahmi, Veyo Wktu itu kalian masih kecil sekitar umur 4 atau 5 tahun trus tidak lama kamu dan keluargamu pindah," Kata Papa Veyo yang disampingku.
" Veyo?" aku menggeleng tidak ingat
" Maaf," sambung lagi. Aku tertunduk lesuh aku tidak ingat dengan mereka.
" Tidak apa-apa Le. Pak Lek tau keren sudah lama sekali kalian tidak bertemu lagi bahkan kita semua kehilangan kontak Ayahmu," kata Papa Veyo.
" Bu ( tanganku melambai-lambai mencari sosok Ibuku berada ),"
__ADS_1
" Iya Le, Ibu disini," jawab Ibu memegang tanganku.
" Bu? Dimana orang itu, apa Ayah sama Ibu sudah ketemu," tanyaku yang tak sabar.
Ku dengar Ibu mulai terisak kembali.
" Ada apa ini sebenarnya, kenapa Ibu menangis. Yah, ada ini," cecarku penasaran kenapa semuanya menangis.
" Nak, apa kamu ingat Fahmi sepupumu. Fahmi dan kedua orang tuanya mengalami sebuah musibah yang merenggut nyawanya. Nak, mungkin kamu lupa sama mereka, tapi kamu harus tau kamu Vey dan juga Fahmi masih ada ikatan darah. Kakek dan Nenekmu sama dengan Fahmi. Ini Kakek dan Nenek Veyo, ternyata Kakek Veyo mempunyai saudara kembar. Dan kembarannya adalah Kakek dan Nenek Fahmi juga kamu. Dan, yang menjadi pendonormu itu adalah Mas mu Fahmi. Sebelum kejadian ini Fahmi dan keluarganya mencari kita. Samapi akhirnya mereka tau kamu mengalami kecelakaan. Semenjak itu Fahmu memutuskan jika terjadi sesuatu sama mereka, Fahmi ingin mendonorkan korneanya sama kamu. Sudah saatnya kamu tau semuanya Nak," tutur Ayah menjelaskan.
" Lalu dimana sekarang jasad mereka Yah, keadaan Budhe dan Pak De ku bagaimana. Fahmi," kataku berhenti saat aku menyadari semuanya. Orang normal tidak akan mendonorkan kornea nya jika mereka masih diberi kehidupan.
" Yah, Bu kapan oprasiku dilakukan. Sebelum mereka dimakamkan aku ingin bisa melihat mereka untuk terakhir kalinya," tanyaku.
" Sebentar lagi Nak. Dokter masih menyiapkan semuanya," jawab Ibu.
Ada rasa senang dalam hatiku, aku akan bisa melihat lagi. Aku bisa mengejar cita-citaku lagi. Tapi, ada rasa sedih juga yang melandaku. Entah, bagaimana caraku untuk membalas semuanya.
Setelah menunggu akhirnya oprasi pendonoran kornea dilakukan. Semua anggota keluarga berkumpul didepan ruangan oprasi.
Lampu oprasi masih menyala itu tandanya didalam sana masih ada kegiatan. Jarum jam masih berjalan dengan lambatnya.
Menit demi menit detik demi detik semuanya tetap menunggu dengan rasa was-was dan rasa cemas. ketakutan juga menyelimuti semua yang berada disana.
Ayah dari Fatih terlihat mondar mandir didepan pintu oprasi. Kedua tetua tidak berhenti melafalkan doa. Bunda Vey mencoba menenangkan Ibunya Fatih.
Mereka semua tidak ada yang pergi dari tempatnya. Meskipun hanya sekedar mencari minum atau sekedar mencari makan. Rasa lapar ataupun rasa haus pun tidak mereka hiraukan.
Saat ini yang mereka pikirkan hanya lah Fatih dan Fahmi. Setelah lama menunggu akhirnya lampu oprasi itu mati. Tandanya oprasi telah selesai dan berjalan lancar.
NB: SEJAUH APAPUN PERGI, SELAMA APAPUN TERPISAH. SUATU SAAT PASTI AKAN BERTEMU, BAGAIMANAPUN KEADAANNYA. DARAH LEBIH KENTAL DARI AIR.
__ADS_1
Jangan lupa LIKE, SARAN, RATE dan juga VOTE.ππππ