SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
ENTAH RASA APA INI (WILDAN)


__ADS_3

Dia, dia yang dulu pernah membuat hari hariku begitu indah,bahkan aku rasa hanya aku orang yang paling bahagia didunia ini. Dari awal aku mengenal dia, dia lha teman wanita yang menarik buatku,meskipun beda kelas tapi rumah kita searah, juga, aku Tio dan Iren teman sewaktu sekolah dasar.


Persahabatan kita sudah terjalin cukup lama, bahkan sudah bisa dikatakan sudah seperti keluarga, persahabatan diantara kita berjalan dengan bahagia, hingga akhirnya entah perasaan apa yang aku rasakan, disaat aku melihat dia bersama teman laki lakinya yang aku rasa satu kelas dengan dia.


***


Dia,tersenyum manis dikala laki laki itu menggengam tangannya, bercanda bersama berjalan beriringan dengan menggenggam tangan mungil itu.Ingin aku mengungkapkan rasa ini, tapi aku takut kehilangan senyum itu.Sampai,akhirnya Tio melihat perubahan yang terjadi dalam diriku, tak ada tawa,tak ada senyum lagi dan tak ada tegur sapa saat kita berkumpul bersama. Saat, itu pula Tio mulai yakin jika aku mempunyai rasa lebih dari sahabat, karna tidak mungkin dan tidak bukan jika seorang laki laki dan perempuan bersahabat lambat laun tidak memiliki perasaan suka.Tapi, Tio mencoba untuk berpura pura didepan ku dan didepan dia.


***


Ada, saatnya aku dan Tio sedang duduk berdua membicarakan tugas sekolah dan kegiatan kita. Sampai, akhirnya Tio memberanikan diri untuk bertanya tentang perasaanku kepada dia. Aku, mencoba menepis semua yang dikatakan Tio, tapi, bagaimanapun aku berusaha menyembunyikan rasa itu, Tio, sahabat yang kenal aku luar dalam tak begitu yakin dengan penolakanku. Hingga, pada suatu hari, tanpa sengaja atau tidak Tio menceritakan apa yang aku rasakan selama ini terhadapnya.


Aku tau Tio, hanya ingin dia tau apa yang aku rasakan, sebagai teman dia tidak ingin melihat salah satu temannya tersiksa karna memendam rasa itu. Dan, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku ini,tapi, perasaan ini bertepuk sebelah tangan.


Tidak ada jawaban, hanya kediaman dan sikapnya yang berubah padaku.

__ADS_1


***


Sejak saat itu, aku berusaha menghilangkan rasa itu meskipun sulit tapi aku yakin aku bisa.Semakin, hari berubahan dia yang aku rasa semakin dalam, setiap bertemu tak sekalipun dia ingin menyapa, atau membalas sapaanku, bahkan, menatappun tak pernah dia lakukan. Aku,semakin kehilangan senyum itu, kehilangan seluruh kebahagiaanku, entah, sebegitu salahkah jika aku memiliki sebuah rasa terhadapnya.


"Sebenci,itu kah kamu Ren terhadap ku!"gumamku yang didengar Tio. Tio, hanya bisa menguatkan aku dengan mengelus pundakku. Rasa bersalah ini kian bertambah, saat, perubahan demi perubahan yang terlihat jelas dimataku.


Persahabatan, yang aku jalin bertahun tahun, kini sudah tak tau entah masih bisa bertahan atau semakin lama semakin menjauh.


Sampai, akhirnya, aku bisa menghilangkan sedikit rasa ini tanpa harus bersitatap atau pun berkumpul dengan teman teman sekampung. Kebiasaan, kita setiap malam minggu selalu berkumpul dengan remaja remaja kampung lainnya untuk sekedar bercanda dan bermain bersama, agar selalu terjalin kekompakan antar warga.


***


***


Akhirnya, aku temukan senyum yang sama pada diri orang lain, murid pindahan, itu yang berhasil mengubah semuanya secara perlahan, hingga akhirnya aku dapatkan lagi senyum itu meski dari bibir orang lain. Kebahagiaanku, serasa kembali lagi pada diriku, damai itu yang sekarang aku rasakan.

__ADS_1


Tapi, tak berapa lama, senyum yang bru terukir indah diwajahku, kini, seakan hilang saat aku bertemu dengan dirinya lagi dikantin sekolah, bahkan kita duduk satu meja.Tanpa, menoleh, tanpa menegur ku pun, dia dengan santainya bercanda tawa dengan murid baru itu dan dengan sahabat kecilku, atau bisa dibilang sahabat Tio juga.


Rasa sesal itu muncul kembali dalam benakku, aku memilih diam dan mendengarkan apa yang dia bicarakan dengan Vey dan Tio.Entah, mereka merasakan kediamanku atau hanya Tio yang merasa kan itu. Sebisa, mungkin aku berusaha menyembunyikan dari mereka.Aku tak ingin merusak percakapan mereka dengan sesekali aku ikut tersenyum,walaupun hanya senyum tipis.


Perubahan ku sangat ketara dimata Tio, dia tau apa yang saat ini aku rasakan, dia berusaha menguatkan aku dengan cara melingkarkan tangannya dipundakku. Tak lama, suara bel pertanda masuk pun ku dengar, tapi, aku masih dengan kediamanku yang sangatlah awet. Jika, sudah begitu, Tio pun tak berani menegurku.


Biarlah aku dan kediamanku ini yang tau.


"Maaf, jika aku salah telah mencintaimu dan mengungkapkan rasa ini dengan begitu lancangnya!".bisik hati Wildan,


NOTES:JIKA DIAM INI LEBIH BAIK, AKU MEMILIH UNTUK DIAM.


Tak banyak yang aku minta๐Ÿ˜Š


cukup,LIKE dan SARANNYA karna untuk VOTE aku sadar diri๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š.

__ADS_1


__ADS_2