
Waktu jam makan siang sudah dekat Devano menemui Wildan untuk sekedar mengobrol. Cafe dari pagi sampai siang tidak peenah surut pengunjung.
Tepat pukul dua belas Devano keluar dari ruangan kerjanya. Dari jauh Wildan sibuk membersihkan meja dan menyiapkan alat musik. Membicarakan hal yang ingin diketahuinya membiat Devano nekat menemui Wildan.
Setidaknya, menemukan satu hal yang mungkin masih tersimpan dan tidak diketahui Devano. Berjalan menyapa pekerja lain dengan sesekali tatapannya tidak pernah lepas dari Wildan.
"Wil, bisa kita bicara sebentar?" tanya Devano langsung tanpa basa basi.
Wildan yang sibuk membenarkan gitar mendengar namanya dipanggil. Lantas, memberhentikan aktifitasnya.
"Tumben, ada apa nih pak bos. Mau disini apa di belakang cafe?" Tanya balik Wildan meletakkan kain didekat gitar.
Tanpa menjawab Devano langsung berbalik dan menuju tempat yang disebut Wildan. Wildan, mengerutkan dahinya dalam tampak heran melihat raut wajah Devano yang serius kepadanya.
Tidak ingin bos nya menunggu lama Wildan mengikuti dengan jarak tidak terlalu jauh. Sampai di rerumputan luas Devano memberhentikan langkahnya.
Tepat setahnya Wildan pun sudah berdiri tegak disampingnya. Diliriknya dengan ekor mata tajamnya. Tanpa sadar mereka saling melirik dengan pikiran masing-masing.
"Langsung saja aku buka percakapan ini. Aku tidak ingin ada perasaan yang membuat rumah tanggaku hancur. Apa perasaanmu kepada istriku tidak bisa dibuang?"
__ADS_1
Seketika, Wildan langsung menengok dengan mimik wajah tak kalah terkejutnya. Apa Devano sudah bisa mengingat semuanya pikir Wildan.
Hening tercipta di kedua lelaki tampan yang sama-sama dingin. Terpaan angin berhembus kencang mengibaskan rambut keduanya. Devano dengan melipat kedua tangannya dengan pandangan lurus kedepan.
Wildan merendahkan tubuhnya untuk mendarat di rumput hujau yang halus. Rapi, lembut karena selalu terawat. Ditengadahkan kepalanya sebelum menjawab.
Devano beralih posisi menyamping melihat Wildan yang masih diam. Menunggu detik waktu yang seakan kama berputar. Cemburu atau hanya ingin tahu masa lalu sang istri.
"Aku tidak pernah mengira dengan posisiku yang waktu itu gamon dari cinta pertamakum Saat itu juga pertemuan yang tidak pernah aku ingini datang. Vey, gadis manis yang datang pertama kali ke pelosok desa. Kehadiran Vey beserta keluarganya membawa pengaruh besar didesa kami. Kami sangat bersyukur memiliki tetangga yang sangat dermawan. Begitupun, dengan ku yang beruntung mengenal Vey. Dari awal diriku tergugah ingin mengenal gadis manis yang tepat pada saat itu menjadi teman sebangku. Hem," tersenyum getir mengingat awa perkenalannya dulu.
Yah, saat itu juga Wildan yang datar dan beku jatuh cinta pada pandangan pertama. Meski hatinya sepenuhnya milik Irene. Devano mendengarkan apa yang diceritakan oleh Wildan.
Menghela nafas panjang dan menegadahkan kepala keatas dengan keuda mata terpejam. Menyerap semua penjelasan yang mampu memporak-porandakan hatinya.
Yah, meskipun tidak ingat apa yang terjadi ditahun belakang. Pernikahan dadakan itu mampu membuat hatinya menempatkan pada hati yang terbuka.
"Dev, kamu mungkin tidak pernah bisa memasuki hatinya. Tetapi, yakinlah pada hatimu yang memberikan sebuah cinta untuknya. Aku ingat betul, bagaimana dulu kehancuran merenggut semuanya. Meskipun, aku belum pernah bagaimana rupawan Masnya. Andai pada saat itu kamu hadir Dev, kita sama-sama melihat sehancur apa Vey dulu," Wildan menerang bagaimana sulitnya Vey dulu berusaha bangkit.
"Apa gunanya aku pada saat itu kalau aku hadir beberapa tahun belakang dulu? Apa kamu akan berlomba denganmu untuk mendapatkan simpati dari istriku?" peetanyaa Devano mengandung sintilan yang membuat Wildan tertawa miring.
__ADS_1
"Kalau itu perlu. Aku akan berlomba untuk mendapatkan cintanya. Vey, wanita yang sangat rela mengorbankan cinta dan kebahagiaannya untuk sahabatnya. Tyo, dia juga pernah mengungkapkan perasaannya secara gamblang. Sama, dia mendapat penolakan yang diterimanya dengan ikhlas. Akan tetapi, aku meski kembali mencintai Irene. Sedikit pun rasanya hambar. Aku harus bertahan mencintai wanita yang hatinya sudah bukan milikku. Akhirnya, aku tahu waktu itu cintaku dan hatiku kembali retak. Vey, orang yang diam-diam menangisi kesakitanku seorang diri. Di tengah sawah di gubuk kecil. Semuanya sulit untuk aku hilangkan Dev. Sampai, waktunya tiba aku memutuskan untuk pergi dan menjauh. Semuanya sia-sia meski aku berlari menjauh atau lenyap dari bumi. Cintaku terlalu dalam untuk aku lenyapkan."
Bugh!
Amarah Devano sudah tidak bisa tertahan setelah mendengar semua cerita isi hati sahabatnya ini. Wildan terkapar dengan sudut bibir yang berdarah.
Tidak ada perlawanan yang diberikan Wildan. Pantas, karena sampai sekarang Wildan mencintai istri sahabatnya. Devano masih duduk diatas tubuh Wildan.
Dengan nafas yang bergemuruh kedua lelaki itu saling menatap. Manik mata Devano tersirat kebencian yang sangat dalam. Sebaliknya, Wildan seperti menantang Devano.
Bendera perang telah berkibar tinggi. Antara suami dengan masa lalu istrinya telah dibuka. Tanpa mereka sadari Irene dan Vey melihat semuanya. Irene melirik Vey dengan kemarahan yang terbendung.
Vey, masih terpaku kedepan. Tanpa peegerakan atau suara. Sebegitu cintakah Wildan kepada dirinya. Hampir beberapa tahun sudah Vey mengira Wildan bisa mengubur dalam-dalam cintanya itu.
Tapi, tidak kali ini kedua telinganya mendengar jelas semua isi hati Wildan. Pergi tanpa ada kabar bukan berarti rasa cinta Wildan kepada Vey hilang begitu saja.
Devano bangkit sambil mwngulurkan satu tangannya ke arah Wildan. Tidak sengaja ekor mata Devano melihat bayangan seseorang yang dikenal.
Segera Devano berlari masuk dan tidak menghiraukan tatapan pelanggan yang melihatnya. Disana, ada seorang wanita yang sedang bercanda gurau dengan pekerjaannya.
__ADS_1
Vey, melambaikan tangan ketika pandangannya melihat kearah suami. Seorang pianis memitikkan satu jemarinya pada not piano.