
Sudah dua bulan lebih Vey bergelut dengan buku-bukunya. Hari-hari Vey hanya keluar masuk kampus dan kembali lagi langsung kerumah.
Mandi, makan terus tidur lagi. Tidak ada waktu sedikitpun untuk istirahat. Vey bertekad untuk menuntaskan kuliahnya sebelum tahun depan.
Karena kecerdasan dan kepintaran nya Vey bisa menyelesaikan semua prakternya dengan waktu yang sedikit. Alisya yang jurusannya sama juga sibuk dengan semua aktivitasnya.
Mereka berdua sudah jarang sekali bertemu. Jadwal Alisya dengan Vey berbenturan. Sampai menjelang akhir bulan mereka baru bisa bertemu saat jam istirahat.
Setiap pulang dari kampus Vey dan Alisya langsung pergi ketempat tinggal amaing-masing. Terkadang jam mata kuliah mereka sama terkadang tidak.
Seenaknya dosen yang meminta mereka hadir. Berbeda saat mereka masih sekolah penjurusan mungkin kesibukannya saat mendekati kelulusan.
Hari ini Vey pulang berjalan kaki, dengan metenteng buku Vey menyusuri setiap jalanan. Kepadatan di kota baru membuat Vey sedikit pusing. Polusi yang dihasilkan dari kenalpot kendaraan berterbangan kemana-mana.
Vey selalu memakai masker setiap keluar rumah ataupun kemana saja. Terik matahari juga sangat terasa menyengat dikulit putihnya. Walau begitu Vey tidak pernah mengeluh.
Di perempatan jalan Vey berhenti untuk sekedar membeli camilan. Seperti dulu-dulu Vey selalu membeli martabak telur dan martabak manis kesukaannya.
Setiap pulang dari kampus Vey tidak pernah pulang dengan tangan kosong. Ada saja makanan yang Vey beli. Meskipun tubuhnya kurus tapi makanan Vey seperti orang yang tidak pernah makan selama setahun.
Vey tidak pernah takut gemuk, apapun itu yang penting bagi Vey masih bisa bernafas.
"Pak le seperti biasanya yah," kata Vey kepada penjualnya.
"Wokey, wong ayu," jawabnya.
wong artinya orang dalam bahasa indonesia. Bahasa yang dipakai sehari-hari di kota barunya ini bermacam-macam. Ada yang setiap harinya berkomunikasi dengan bahasa indonesia, ada juga yang berkomunikasi mwnggunakan bahasa jawa yang halus, banyak lagi macam bahasa di kota barunya.
__ADS_1
Vey, sangat menyukai itu walaupun tidak ada yang dia mengerti. Mendengar mereka bicara dengan logatnya masing-masing membuat Vey ingin belajar bahasa lainnya.
Dijam istirahat Vey memutuskan untuk pergi ke kantin. Rasanya sangat penat dan pusing, kepalanya hampir pecah.
dengan metenteng tas dan buku ditangannya. Vey berjalan menunduk memainkan ponselnya. Tidak pernah lupa headsetnya yang selalu tersumpal di telinga nya.
Kepalanya menunduk melihat layar pipih nya. Telinganya terus mendengar lagu yang disukainya. Karena terus menunduk melihat ponselnya Vey sampai tidak sengaja menabrak seseorang.
Dug!
"Mbak kalau jalan jangan sambil natapin ponselnya dong. Kasian jalannya kamu anggurin," tegur lelaki itu.
Vey yang merasa ada yang menegurnya langsung berhenti.
"Eh maaf mas saya tidak sengaja," jawab Vey menengok ke arah belakang dimana lelaki yang ditabraknya juga melihatnya.
Setelah mengatakan maaf Vwy melanjutkan jalannya. Pas ditengah-tengah ruangan lainnya langkahnya kembali lagi terhenti.
Dari arah belakang ada teman lainnya yang berlari dan menabraknya. Posisi tubuh Vey saat itu hanya kepalanya yang menengok kebelakang. Otomatis tubuhnya yang tidak imbang langsung tersenggol dan terhuyung kebelakang.
Devano yang melihat Vey tertabrak langsung berlari. Ponsel Vey terlepas dari kabel headsetnya. Lima menit saja Devano telat mungkin tubuh Vey sudah terhempas ke lantai.
Bugh!
"Ahhss," pekik Devano yang tubuhnya tertimpa tubuh Veyo.
KRAK!
__ADS_1
Ponsel Veyo pecah menjadi dua. Terinjak sepatu teman lainnya yang sedang berjalan pas bersamaan ponsel itu jatuh.
Semua orang yang sedang berada di koridor kampus menyaksikan adegan yang terjadi. Devano yang sedang bermain di kampus temannya tidak sengaja ditabrak Veyo dan sekarang mereka menjadi pusat perhatian teman-temannya.
"Ciyeeeee,,,,,,!" sorak semua teman kampusnya. Devano juga Vey masih saja saling pandang.
Telinga Vey masih terpasang headset yang terlepas dari ponselnya. Suara sorak dan ramai tidak juga membuyarkan pandangan mereka.
Sampai akhirnya ada salah satu teman Devano yang mendekat dan menumpu tubuhnya dengan satu kakinya yang ditekuk. Dibisiknya sesuatu yang membuat Devan langsung tersadar.
"Leng, enak yah dapat barang limited edition," ejek Rizal sahabat Devano. Mendengar ada suara di dekat pendengarannya Devano menengok ke samping.
Mata Rizal mengkode Devano yang masih belum mengerti maksudnya.
"Leng, Leng. Tampan tapi oon. Lihat siapa diatas tubuh mu itu Buleng?" ujar Rizal yang menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir kalau temannya ternyata masih saja bloon.😂
Vey, yang berada diatas tubuh Devano hanya menatap wajah Devano tanpa berkedip. Devano yang sudah tahu maksud Rizal langsung tersenyum jahil.
"Mbak matanya gak pedih mandangin aku sampai tidak berkedip," ucapan Devano seketika menyadarkan Veyo.
"Eh, maaf, maaf." jawab Vey langsung berdiri. Buku, tas sudah tidak lagi di bawanya. Semuanya sudaah terpental ke depan.
"Lho, ponselku mana yah," kata Vey yang mencari ponselnya. Headset yang menggantung segera dilepas dan dilempar kan nya ke sembarang arah.
Devano bangun dibantu Rizal yang tersenyum-senyum melihatnya.
"Enak yah dapat springbed empuk," goda Rizal kepada Devano.
__ADS_1
Springbed. . . . pikir sendiri yahðŸ¤ðŸ¤pengen ketawa sendiri akunya.
NB: MUNGKINKAH JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA BISA DIKATAN JATUH CINTA PADA SAAT PERTAMA BERTEMU?