SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
HARAPAN YANG DINANTI


__ADS_3

Vey tersenyum mendengarnya. Pasalnya rasa bersalah itu masih di pikiran dan hati Vey. Ditatapnya lagi wajah tampan kekasihnya. Sedikit demi sedikit hati Vey mulai terbuka.


"Nona, sebaiknya Anda beristirahat saja dulu. Saya lihat Anda tidak pernah mengisi kantong perut juga tidak pernah keluar dari ruangan ini. Pak Devano sudah melewati masa kritisnya. Kita hanya menunggu beliau bangun dan melihat kekasihnya lagi. Tidak lucu jika saat beliau bangun Anda sudah tidak cantik lagi," goda dokter Anton yang mendapat decakan oleh rekan dokternya.


"Ck, Nona jangan dengarnya dia. Sebaiknya Anda keluar saja dulu untuk sekedar minum atau makan sedikit. Suster akan membantu Anda menggantikan posisi Anda disini!" sambung dokter Dandi dengan ramah.


"Baiklah, Dok," ucap Vey. " Aku keluar sebentar yah!" bisik Vey berpamitan. Tidak ada jawaban dari bibir pucat itu. 


Mengusap sekali wajah Devano dan meninggalkan kecupan singkat di dahi kekasihnya. Dokter Anton dan dokter Dandi memalingkan wajahnya.


"Jiwa jombloku meronta-ronta, Dan," bisik dokter Anton yang samar terdengar oleh Vey.


Vey menduduki untuk menyembunyikan senyumannya. Vey melupakan para dokter yang ternyata masih berada ditempatnya. Tidak ingin terlalu malu Vey segera keluar tanpa permisi kepada kedua dokter dan satu suster.

__ADS_1


Mereka bertiga terkekeh melihat tingkah Vey yang diyakini kepalang malu. Vey keluar down langsung mendapat pelukan dari Queen. Sungguh, Queen sangat berterima kasih kepada Vey.


Vey pun membalas pelukan calon adik iparnya. Wildan, hanya berdiri menatap kedua perempuan itu saling berpelukan. Diikuti dari dalam dokter Anton dan dokter Dandi. 


Vey mengurai pelukannya dan sedikit memberi jarak untuk kedua dokter tunangannya. Queen dan dokter Dandi saling tatap. Vey melihat ekspresi adik iparnya begitu kagum dengan kemanisan wajah dokter Dandi.


"Kenalkan, ini Queen adik dari pasien Devano," sanggah Vey membuat keduanya gelagapan memalingkan mukanya. Vey sedikit ada hiburan melihatnya.


"Alhamdulilah,,,kata dokter Devano sudah melewati masa kritisnya, Wil. Dan, menunggu Devano sadar kedua dokter ini menyuruhku untuk mengisi kantong perutku sejenak," jawab Vey dengan tersenyum tanganya mengusap-ngusap perut datarnya.


"Lagian Mbak betah banget gak makan juga gak minum. Mbak ada penyimpanan makanan yah di perut?" gemas Queen melihat kakak iparnya yang sejak datang tidak mau keluar dari ruangan kakaknya.


"Hehehe, jangan gitu Dek? Perutku sama kayak kamu kok. Hanya saja, mbak gak bisa makan melihat kakakmu seperti ini?!" 

__ADS_1


Yah, semua orang bakalan melakukan apa yang Vey lakukan. Tetapi tidak separah Vey. Tidak makan tidak minum selama menunggui mas tampannya.


"Kalau begitu kami berdua izin untuk melanjutkan pekerjaan lain," pamit dokter Anton. Vey, Queen, dan Wildan mengangguk.


Selepas kedua dokter itu pergi menjauh. Vey mengajak Queen juga Wildan berjalan ke arah kantin. Vey sudah tenang melihat Devano sudah dijaga oleh suster. Sekarang, Vey bisa makan dan minum dengan sedikit lega.


Pasalnya, kurang lebih Devano akan sadar dan saat itu. Vey ingin sekali dirinya yang pertama dilihat mas tampannya. Wildan terus memperhatikan Vey yang terus tersenyum.


Beda dengan Queen yang asyik melihat ponselnya. Wildan terus menatap Vey yang sesekali menggeleng sambil tersenyum. Ada rasa bahagia mendengar Devano akan sadar. 


Hati tidak bisa berbohong bahwa ada pisau yang langsung menancap tepat di tengah hatinya. Sakit, perih, Wildan menahan semuanya sendiri. Wildan kira dengan dirinya ikut Vey datang ke kota J bisa menggantikan Devano.


Semuanya hanya khayalan singkat yang menutup akal sehatnya. Sekuat apapun dirinya ingin mendekat lagi semuanya akan sia-sia. Sungguh, Wildan ingin melangkah pergi. 

__ADS_1


__ADS_2