
Udara sore ini sangat sejuk, angin sepoy sepoy menyibakkan helaian rambut Vey yang tergantung indah diatas pundaknya. Vey, ijin untuk keluar sebentar kepada sang bunda, Vey, ingin kealun alun kota yang katanya sangat indah jika dikunjungi sore hari.
Menyusuri jalanan yang tidak begitu ramai, padahal hari ini adalah hari sabtu. Dimana, para pasangan yang berbondong bondong untuk berkencan. Vey, terus menyusuri jalanan itu dan berhenti dipemberhentian angkutan umum.
Saat Vey berbalik, terlihat dari seberang jalan yang didepan Vey,berdiri sosok laki laki yang tidak asing dimata Vey. Dia adalah Wildan, yang sedari tadi melihat kearahnya. Entah, sengaja atau tidak tatapan mereka bertemu dan dari arah jauh Vey menyapa Wildan dengan senyum khasnya itu. Saat dirasa angkutan yang Vey tunggu sudah datang, dengan segera mungkin Vey menaikinya. Terlihat dari dalam angkutan, Wildan sedang seperti mencari seseorang yang Vey kira itu orang lain.
Didalam angkot banyak muda mudi yang juga ingin kearah yang sma dengan Vey. Alun alun kota saat hari sabtu dan minggu pasti ramai pengunjung. Seperti taman tapi banyak beragam permainan untuk orang dewasa atau anak anak kecil.
Setelah tiba Vey tidak lupa untuk membayar angkutan itu. Saat sudah memasuki depan alun alun, dari jauh Vey seperti melihat seseorang yang dia kenal. Vey, mencoba mengejar sosok pria tersebut hingga Vey menabrak salah satu pengunjung.
Setelah meminta maaf Vey, melihat sekelilingnya tapi seseorang yang Vey cari itu sudah hilang. Akhirnya, Vey berjalan menuju sebuah taman yang melingkar. Berjejer bangku bangku panjang yang dihiasi bunga bunga cantik disetiap samping bangku itu.
Vey, mengeluarkan benda pipih itu dari dalam tasnya, dan memainkannya. Sekedar menggantikan pikiran Vey dari bayangan pria tersebut. Saat, Vey asyik memainkan ponselnya, ada dua orang yang tiba tiba duduk ditempat duduk yang Vey duduki saat ini. Tanpa permisi terlebih dulu sepasang kekasih itu langsung mendudukkan tubuhnya disamping Vey, yang masih sama sedang asyik memainkan game piano kesukaannya.
Tanpa merasa terganggu dengan orang yang disampingnya Vey masih melanjutkan permainannya. Sampai, akhirnya orang tersebut merasa terusik dengan suara dari ponsel Vey.
"Maaf, mbg tolong bisa dikecilkan volume ponselnya?" kata laki laki itu. Vey yang merasa terpanggil menengikkan kepala kearah suara yang disampingnya. Ponsel yang berada digenggaman tangan Vey terjatuh. Terkejut, seakan tubuh Vey membeku, saat dirasa orang yang selama ini dia cari duduk berada disampingnya sedari tadi.
__ADS_1
Sebenarnya ada alasan yang membuat sang Papa meminta untuk dipindah tugaskan dari kota kelahirannya. Papa Vey ingin menghibur Vey yang saat itu kehilangan sosok kakak yang sudah dia kenal dari kecil. Sosok itu adalah Fahmi, anak dari salah satu rekan kerja dari papa Vey.
Mereka berdua sudah seperti adik kakak, kemana pun mereka pergi, Papa Vey selalu mengajak keluarga Fahmi untuk ikut serta. Sampai akhirnya, kecelakaan yang tidak pernah terduga itu terjadi. Vey yang saat itu masih berusia belasan tahun, yang sudah mengerti apa itu arti meninggal, sekejap menjadi gadis kecil yang pendiam.Fahmi mengalami luka parah pada kepala dan kedua kakinya, hingga membuat Fahmi meninggal ditempat. Sedangkan kedua orang tuanya meninggal saat dibawa kerumah sakit.
Vey, yang biasanya tersenyum bahagia saat itu juga menjadi Vey kecil yang tanpa senyum. Saat itu pula Papa dan bunda Vey merasa kasian sehingga, Papanya meminta pada atasannya untuk dipindah tugaskan kekota M.
***
Vey, masih membeku menatap sosok didepannya, tanpa kata atau sapaan Vey masih tidak dapat berkata kata. Tepukan dipundak Vey seketika membuyarkan lamunannya.
"Maaf, dek kamu kenapa?". ucap sang perempuan yang bersama laki laki itu.
Hanya gelengan yang dapat Vey ungkapkan. Derai air mata itu semakin deras meluncur kepipi mulus Vey. Orang yang masih ditatap Vey itu juga menatap dengan kening yang dikerutkan.
"Yang, kamu kenal sama adek cantik ini!". Sapa sang pacar pada Fahmi. Yang ditanya hanya memberi gelengan kepala dan mengidikkan bahunya sebagai jawabannya.
"Deg, kalau kita ada salah atau mengganggumu kita minta maaf yah,bukan maksut kami mengganggu saat bermain game." Memegang pundak Vey, seketika itu Vey tersadar dan dengan cepat menghapus sisa sisa air mata itu.
__ADS_1
"Ekhem,,,menetralkan hati dan pikirannya. Eh maaf kak, aku yang seharusnya meminta maaf sama kakak kakak, karnya terganggu dengan suara diponsel saya." Mencoba tersenyum. Sepasang kekasih yang mendengar jawaban Vey juga ikut tersenyum.
Dan, kemudian Vey berpamitan, beranjak pergi dari tempat itu, saat dirasa sudah jauh dari sepasang kekasih itu. Vey, mencoba menengokkan kepalanya kearah mereka yang masih duduk ditempatnya. Vey, kembali mengeluarkan bulir bulir bening itu tanpa suara, terlihat dari kejauhan laki laki yang dianggap Fahmi itu tertawa bahagia bersama pasangannya.
Akhirnya Vey memutuskan untuk kembali kerumah. Tapi sebelum itu Vey, harus menunggu angkutan yang kearah rumahnya. Tak berapa lama menunggu angkutan itu tiba dan dengan wajah diamnya Vey menaiki angkutan itu.
Didalam angkutan umum Vey mencoba menahan air mata yang sudah ingin terjun bebas lagi. Sampai akhirnya angkutan itu sudah sampai ditempat awal Vey tadi ingin berangkat. Dengan langkah panjang, Vey berjalan cepat agar segera sampai rumah. Berlari dan mengusap air matanya yang sudah lolos keluar.
Disepanjang jalan menuju rumahnya,Vey masih dalam diamnya. Senyum itu seketika hilang lagi, setibanya dirumah Vey langsung memasuki kamarnya dan menutup pintu kamar itu. Bunda yang melihatnya pun terkejut saat Vey berlari dan mengusap nusa kedua pipinya dengan punggun tangannya.
NOTES: SETIAP ADA PERTEMUAN PASTI AKAN ADA YANG NAMANYA PERPISAHAN.
Hayooo,,,,,,,udah pada siapin tisu belumπππππ
maaf yah kalok ada yang ngira Wildan yang sedang dilanda dukaπππ. Sebenarnya Vey lah yang dilanda duka ituπ
jangan lupa kasih LIKE,SARAN DAN BINTANGNYA YAH
__ADS_1