
Apa sih yang harus diharapkan dari sebuah hubungan? Status, atau kah ikatan. Semua itu belum tentu menjamin.
Banyak cerita yang tertulis dari sebuah cerita yang mungkin bisa melupakan kenangan buruk. Kenangan hitam yang sulit untuk dihapus dari memori.
Akan menjadi kebencian ketika melihat atau merasakannya. Pernah kah kalian merasakan patah hati untuk yang kedua?π
Atau berulang kali tersakiti tetap setia mencintai. Berkata tidak mungkin, adalah hal yang salah. Karena, dari semua kemungkinan pasti ada kepastian.
Menunggu dan menanti itu bedanya hanya sehelai rambut. Menunggu sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Dan, menanti sebuah jawaban yang juga belum pasti.
Satu kata yang tepat adalah "sabar". Semuanya pasti akan indah pada waktunya. Percayalah. jika memang cinta itu putih. Pasti, pasti warna putih itu akan berubah menjadi warna yang begitu indah.
Irene maupun Wildan hanya mampu terdiam di antara gelap dan sunyi. Di bawah atap awan gelap yang bergemuruh. Wildan dan Irene saling merenung.
Tio dan semua pengunjung keluar dan melihat keduanya yang membisu. Sebuah penyesalan yang dirasakan Irene membuatnya hancur dan lupa.
Bersamaan juga Vey da Devano baru sampai di tempat. Devano dan Vey melihat semua orang yang tampak berhamburan keluar warkop. Vey yang baru turun dan disusul Devano yang dengan sigap langsung membantunya melepas helmnya.
"Vey, ada apa? Kenapa semua orang keluar kafe?"
"Haa haa haa, warkop bukan kafe Dev?"
"Warkop atau kafe sama saja Vey? Ayo?"
__ADS_1
Setelah melepas helm dikepala wanitanya. Devano menatap ke arah warkop lagi.
Rasa penasaran Devano semakin kuat sehingga, membuatnya langsung menarik pergelangan tangan Vey. Vey langsung mengikuti tarikan lelakinya untuk maju dan melihat kerumunan itu.
Tepat, disaat hujan turun lebat Devano dan Vey sampai di depan warkop. Yang jauh ditengah-tengah halaman warkop ada dua insan yang bermandi air hujan. Wildan dan Irene terguyur air hujan.
Devano sibuk menarik Vey ketempat yang aman. Agar Vey tidak terkena air hujan. Melihat dua orang di hadapannya Vey langsung terdiam.
Devano, Devano sibuk melepas jaket yang dipakainya untuk di tutupkan ketubuh Vey. Merapikan rambut Vey yang sedikit basah. Devano belum menyadari tatapan Vey kemana.
"Ada apa ini?" gumam Devano mencoba melihat apa yang orang lain lihat.
"Dev, lihat itu!" tunjuk Vey. Dan Devano langsung mengikuti telunjuk Vey.
Vey mengangguk dengan pandangan lurus ke depan. Pikiran Vey bertanya-tanya ada apa dengan mereka itu. Devano yang melihat raut wajah Vey yang tampak tidak biasa ketika, melihat Wildan dan Irene.
Semuanya sudah jelas, bahwa hati Irene sudah tidak membutuhkan nama lama itu. Kepergian Reza bukanlah alasan Irene yang terpuruk dan hampir depresi.
Egois memang ketika perpuruk Irene membutuhkan Wildan yang tidak tahu rimbanya. Hanya Wildan yang Irene tunggu selama ini. Irene sadar obat yang bisa membantunya adalah Wildan.
Dan, tuhan menjawab semuanya ketika, Vey dan Devano datang. Seperti sebuah permainan puzzle yang ditentukan oleh potongan-potongan puzzle tersebut.
Irene tidak bisa memilih antara Reza dan Wildan. Cinta yang pernah terlukai dua kali karena keegoisannya. Sekarang, apakah Irene pantas untuk memeluk cinta itu lagi?
__ADS_1
Langit bergemuruh seperti akan terjadi hujan. Dan benar saja, dalam hitungan detik air turun dari atas begitu sangat deras. Mengguyur dua tubuh yang mematung menantang dinginnya air hujan.
Air mata yang sejak awal sudah membasahi wajah ayu Irene bercampur dengan rintik air hujan. Sedang, Wildan tetap membelakangi Irene yang menangis menatap.
Dalam rintik hujan Irene berjalan maju sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya, jarak wajah Irene dengan punggung Wildan hanya sejengkal.
"Wil, sampai kapan kamu akan membenciku?" tanya Irene.
Wildan tidak menjawab ataupun melihat ke arah belakang. Tetes-tetes air langit tidak menggoyangkan posisi Wildan. Rasa sakit dan benci dihati Wildan sudah sulit untuk disembuhkan.
"Wil," panggil Irene sekali lagi.
"Ren, bicara saja memang mudah. Tapi, melakukan semuanya itu sulit. Apa kamu tahu bagaimana aku berusaha keras untuk melupakan dan menghapus kenangan itu?"
"Wil, cobalah untuk membuka kembali. Aku akan berusaha mencintaimu dan menyembuhkan luka itu. Wil-,"
"Ren, jangan menunggu kepastian yang belum pasti terwujud. Pergilah, dan kejar cintamu yang lain. Aku sudah cukup bahagia dengan kehidupanku sekarang. Aku lebih nyaman seperti ini,"
"Wil, apa setelah aku melukaimu. Hatimu dimiliki wanita lain?"
"Ya, dari dulu hatiku sudah ada yang memiliki. Hanya saja, hati itu tidak ingin aku mencintainya karena sekedar suka. Marena dia tahu, kalau hatiku hanya untukmu. Dulu, dan tidak untuk yang sekarang,"
Sebuah tamparan keras untuk Irene. Hatinya benar-benar hancur ketika mendengar perkataan Wildan. Dulu, Wuldan mengejar nya dan hampir menjadi patung. Sekarang, seakan berbalik kepada Irene yang mengejar Wildan.
__ADS_1