
Rencana tuhan memang indah dimana sebuah berlian yang telah hilang. Kini, kembali dengan kilaunya yang lebih cantik.
Tidak pernah menyangka dengan apa yang sudah dikehendakkan oleh sang pencipta. Rencananya sungguh tidak pernah bisa diduga.
Manusia hanya bisa mengikuti kemana alur cerita itu berjalan. Berjalan sesuai dengan ceritanya. Hari ini, akan ada rencana besar yang tidak akan pernah ada yang menduganya.
Rencana yang tadinya untuk di datangi hanya berdua. Sekarang diubah menjadi rencana besar yang pastinya akan membuat semua orang terkejut.
Devano sudah mempersiapkan semuanya. Dimana sebelum waktunya tiba, Devano sudah meminta izin kepada orang tua angkat wanitanya.
Dengan sedikit terkejut kedua orang tua itu merestui niat baik Devano. Devano juga sudah meminta izin juga kepada orang tua Vey melalui pak le dan bu le veyo tentunya.
Papa dan Bunda Vey sama terkejutnya dengan apa yang disampaikan kakak nya. Teenyata diam-diam ada seseorang yang hendak meminang putrinya.
Vey belum mengetahui rencana yang sudah diatur oleh semua keluarganya. Dan tanpa sepengetahuan Vey. Bunda dan Papa beserta keluarga lainnya sudah berada di dekatnya.
Hanya saja Bunda dan lainnya memilih hotel yang di dekat rumah saudaranya itu menjadi penginapan alternatif yang tepat. Yang sekarang menjadi tempat tinggal Vey selama menjalani pendidikannya.
Keluarha tidak pernah melarang ataupun menolak niat baik Devano. Malah sangat tersanjung mendengarnya, tidak pernah mengira sama sekali.
Alisya, Rizal dan Nindhi orang terdekat Vey dan Devano. Juga belum mengetahui kabar baik itu. Devano sengaja menyembunyikan niatnya kepada mereka bertiga.
Bukan tidak percaya hanya saja mhlut tidak bertulang. Kapan saja ucapan itu akan keluar secara tidak sengaja bukan?.
Sore ini Vey sedang bersantai di dalam kamarnya. M3ndengarkan musik dan membaca novel kesukaannya. Karya salah satu penulis yang menurut Vey sangat welcome kepada para pembacanya.
Setiap pulang dari kampusnya jika, semua tugas sudah selesai. Vey langsung menyumpal lubang telinganya dengan headset kesayangannya.
Kedua tangannya memegang sebuah novel yang sedang tren ding dikalangan pembaca. My Introvet Husban karya dari Noviana Lancaster atau biasa disebut Nona Lencaster nama pena di buku novelnya.
Dan lagu yang pas di dengar Vey saat ini lagu yang juga sedang digandrungi para pemain Room. Lagu yang sukses membuat semua pendengarnya memintanya berulang kali diputar.
Kekasih tak direstui yang dibawakan oleh seseorang yang bernama Nil Akim. Vey, sangat menyukai lagu ciptaan beliau.
A: Gini-gini Vey juga pencinta bang Nil Akim guys, ahahaaha.
V: Iya lah emangnya authornya saja yang boleh.ππ
A: Dasar kembaran tidak ada akhlak.
Tok! Tok! Tok!
"Vey, kamu sedang apa nduk?" sapa bu lek dari depan kamar Vey. Meskipun telinganya disumpal dengan ujung headset Vey masih mendengar teriakan bu lek nya.
Vey menaruh pembatas buku di halaman yang dibacanya. Dilepasnya dulu penyalur muaik di telinganya dan berjalan ke adah pintu.
"Lagi dengerin musik dan baca novel aja bu lek. Memangnya ada to?" tanya Vey yang sudahembuka pintunya lebar-lebar.
"Itu Nduk, ada pria tampan yang menuggu kamu di ruamg tamu." tunjuk bu lek dan diikuti oleh mata Vey.
Vey terkejut siapa orang yang dimaksud bu leknya itu. Vey, benar-benar tidak menyangka kalau Devano akan serius dengan ucapannya tadi.
"Bu lek, sejak kapan dia ada disini?" tanya Vey yang sedikit berbisik dan menvajak bu lek nya masuk ke dalam kamarnya.
Devano yang sempat melihat Vey seperti terkejut hanya tersenyum simpul. Devano datang kerumahpak de dan bu lek nya tidak sendiri. Melainkan ditemani seseorang yang berparas cantik.
"Sudah, cepet ganti bajumu dan samperin Devano sana!" suruh bu lek membantu Vey memilih baju yang cocok dan sopan.
"Memangnya dia bilang apa sama pak de dan bu lek?" tanya Vey yang masih terus penasaran. Dan siapa gafis yang dibawanya, sangat serasi sekali dengan si tampannya.
Vey sedikit menciut ketika pandangannya tadi menemukan seseorang yang datang bersama si tampan miliknya. Ke galauan mulai menghampiri Vey.
"Sudahlah Nduk, kamu mandi dan cepat pakai baju yang dipilhkan bu lek ini yah!" titah bu Lek yang belum juga dilaksanakan Vey.
Vey hanya menggeleng dan kembali melipat baju pemberian bu lek nya. Bu lek yang melihat Vey seperti sedang cemburu hanya tertawa dalam hatinya.
Bu lek tahu kenapa tiba-tiba Vey menjadi berubah seperti ini. Bu lek sudah tahu siapa gadis cantik yang dibawa Devano tapi bu lek pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Lho, kamu kenopo to nduk?" tanya bu lek berpura-lura sedih.
"Vey tidak kenapa-napa kok bu lek. Vey hanya males saja keluar, Vey sudah enak baca novel ini saja sambil dengerin musik," jawab Vey yang merangkak naik ke temoat tidurnya lagi.
Diambilnya headset yang masih menyambung dengan ponselnya dan musiknya pun masih menyala. Di kembalikan lagi pada lubang di pendengarannya.
"Patahkan hatiku, patahkanlah sayang, , ," pendengaran Vey disuguhi suara emas oleh sang penyanyi. Hati Vey semakin sakit dan semakin perih rasanya.
Dimana si tampan yang dikagumi sudah memiliki kekasih yang tidak kalah cantiknya dengan dirinya.
"Nduk, kalau memang tidak mau menemuinya biar bu lek sampaikan. Apa kamu tidak ingin kenal dengan gadis yang-?"
"Tidak, bu lek Vey sudah tahu kok. Bu lek, tolong bilang saja kalau Vey sedang sibuk. Ok!" pinta Vey dengan senyum yang dipaksakan. Bu lek tahu betul kalau saat ini mungkin Vey sedang galau dan cemburu.
Meski bu lek tahu tidak ada hubungan apapun antara Vey dan Devano. Bu lek hanya tersenyum simpul walau hatinya sebenarnya merasa tidak enak juga sudah tidak jujur ke pada ponakan kesayangannya itu.
"Ya sudah, bu lek keluar yah nduk." pamit bu lek yang di jawab tangan Vey membentuk huruf "O". Bu lek menghembuskan nafasnya pelan sembari keluar dan menutup pintu kamar Vey.
Pak le yang melihat istrinya kembali tanpa keponakannya merasa heran. Wajahnya pun tampak terlihat tidak baik-baik saja. Sesampainya bu lek di sampingnya pak lek langsung memberondong pertanyaan-pertanyaan ya g membuatnya gelagapan.
"Lho bune kok genduk tidak ikut to?" tanya Pak le yang heran melihat istrinya yang muram.
"Genduk tidak mau pak, dia sedang galau." jawab bu lek, Devando dan Gladis saling berpandangan.
"Kenapa, bu lek kalau boleh tahum" tanya Devano yang mulai merasa tidak tenang. Apa niatnya sudah tercium oleh Vey, sehingga Vey menolaknya.
"Sebenarnya bu lek ingin tertawa sejak tadi. Le, Vey galau karena adik kamu ini?" ungkap bu lek di sela-sela tawa kecilnya.
Devano, Gladis dan pak le saling pandang dan kemudian memastikan lagi melihat ke arah bu lek yang mengangguk. Devano langsung menepuk dahinya, Gladis hanya terkekeh dan pak le sama dengan Devano menepuk dahinya sambil menggeleng.
Tawa mereka pun akhirnya pecah setelah mendengar ungkapan bu lek yang menyatakan kegalauan Vey di sebabkan calon adiknya sendiri.
"Terus bune bilang gimana?" tanya pak le
"Bune cuman bilang akan menyampaikan penolakannya. Bune juga tidak bilang kalau nak Gladis sebenarnya calon adiknya sendiri. Haa haa," tawa bu lek akhirnya lepas lagi.
Tanpa disadari keluarga angkat Devano teman semasa kuliahnya papa Vey. Devano semakin mendapatkan lampu hijau yang semakin terang. Hanya menunggu sang permaisyurinya saja.
"Ya sudah bu lek, pak lek rencananya akan Devano ubah. Biar Vey mengira kalau gadis manja ini tunangan Devano. Sekarang bu lek dan Pak le bujuk aja Vey agar mau ikut datang ke kafe yang saya bilang tadi. Saya dan adik saya akan membicarakan ini dengan keluarga besar dulu. Bagaimana bu lek, pak le?" jelas Devano yang disetujui oleh kedua orang tua di depanya.
Setelah mengatakan itu Devano juga adiknya segera pulang. Tepatnya langsung menuju ke hotel dimana kedua orang tuanya juga menginap disana. Menjadi satu dengan keluarga Vey.
Flashback on
"Assalamualaikum," salam Devano mengetuk pintu gerbang rumah Vey.
"Walaikumsalam," jawab pak le yang mendengar salam Devano.
"Lho, tole ganteng to. Ayo masuk le," ajak pak le mengajak Devano masuk ke dalam. Devano langsung menjabat tangan yang hamlirenua itu dan diarah kannya ke dahinya.
"Bune, ini loh ada tole ganteng." teriak pak le memanggil istrinya yang sedang di dalam.
Bu lek yang mendengar teriakan suaminya langsung keluar.
"Loh, cah ganteng ndek sini to." sapa bu lek yang sangat antusias sekali. Mwndengar cerita dari Alisya kalau ponakannya sangat mengagumi lelaki tampan di depannya ini. Devano jiga tidak lupa, dia langsung membungkuk untuk menjabat tangan wanita paruh baya itu.
Dan setelah itu kembali duduk lagi.
"Ada le kok tumben sekali datang kesini. Mau mintak sirat izin lagi?" tanya Pak le yang tidak tahu maksud kedatangan Devano.
"Iya pak le, buk le. Devano mau meminta izin lebih tepatnya meminta restu dari buk le dan pak le." ujar Devano tanpa gemetar ataupun ragu. Devano sudah mantap untuk bertaaruf dengan Vey, wanita yang juga selama ini sudah mengikat hatinya.
Pak le dan buk le sangat terkejut dengan penjelasan Devano yang tiba-tiba saja melamar keponakannya.
Mereka tidak pernah menyangka kalau keponakannya ternyata diam-diam sedang diperhatikan orang lain.
"Apa nak Devano yakin dengan keputusan yang kamu buat?" tanya Pak le yang mencoba meyakinkan ulang niat Devano.
__ADS_1
"Saya yakin pak le, memang ini terlihat sangat mendadak sekali. Tapi, kalai seandainya pak le dan buk le tidak merestui tidak apa-apa?" jawab Devano dengan tegas.
"Begini, alangkah lebih baiknya kamu bilang langsung saja kepada kedua orang tua Vey. Karena, yang berhak memutuskan itu keluarga Vey terutama papa dan bundanya!" ujar buk le yang memberi jalan pintas untuk Devano bicara dengan papa dan bunda Vey.
"Kalau begitu, apa Devano bisa meminta tolong agar buk le menelfon kedua orang tua Vey?" tanya Devano.
"Sebentar yah buk le akan bantu menelfonnya. Kenapa, tidak kamu telfon sendiri?"tanya buk le yang tangannya dan indra penglihatannya fokus oada layar pipih yang ditekannya.
"Tidak sopan buk le, buk le saja yangenelfonnya nanti kalau sudah terhubung biar Devano yang bicara. Mungkin ini jiga terlihat tidak sopan juga sebenarnya." tolak Devano halus. Devano bukan takut, Devano hanya sungkan.
Tut!
"Assalamualaikum, mbak! Kok tumben banget telfon?" tanya bunda Vey.
"Walaikumsalam deg, iya ini ada seseorang yang hendak bicara sama kamu?" ucap buk le langsung.
"Siapa mbak?" tanya bunda Vey yang heran.
"Kamu kenalan saja sendiri yah, aku ganti mode vidio yah, Deg!"
"Iya,"
Tak lama terpampang lah wajah cantik dari bunda Vey yang tidak termakan oleh usia.
"Mbak, siapa bocah ganteng itu?" tanya bunda Vey yang melihat Devano duduk di samping pak le Vey.
"Le, ini silahkan ngomong langsung sama pemiliknya," goda buk le yang membuat bunda dan mbak Asri heran.
Bunda yang sedang memasak mendengar ponselnya berbunyi. Buru-buru diangkatnya sambungan telfon yang berasal dari kakaknya.
Mbak Asri yang juga sedang membantu bundanya turut ikut mendengarkan percakapan orang tuanya dengan kakak nya.
"Assalamualaikum, Bu!" salam Devano menyapa orang tua wanitanya juga menyapa kakak wanitanya.
"Walaikumsalam, dengan siapa yah ini?" tanya bunda Vey tersenyym ramah.
"Maaf sebelumnya jika saya lancang. Sebenarnya tidak sopan jika membicarakn niat baik yang akan saya minta ini. Saya Devano bu, niat saya meminta bantuan buk le untuk menelfon ibu untuk meminta anak ibu menjadi pasangan hidup saya. Apa ibu merestuinya?" jelas Devano mengutarakan niatnya yang hendak melamar Vey.
Bunda dan mbak Asri terlibat terkejut. Mereka berdua saling pandang dan menatap wajah Devano lagi. Bunda juga mbak Asri melihat keseriusan dalam wajah Devano.
Mbak Asri tampak mengangguk ke arah bundanya. Pak le dan buk le juga terlihat was-was menunggu jawaban apa yang akan diberikan adiknya.
"Begini saja, nanti bunda akan sampaikan dulu kepada papanya Vey. Apa bunda boleh meminta nomor ponsel kamu. Biar nanti papanya Vey yang menghubungimu lagi. Kalau bunda sebenarnya setuju-setuju saja. Mengingat Vey masih mempunyai orang tua yang lengkap jadi, bunda memutuskan untuk membicarakan ini dengan papanya Vey. Bagaimana nak Devano, tidak apa-apa kan?" ujar bunda panjang lebar. Bunda tidak bisa memutuskannya secara sepihak, ada seseorang yang juga berhak atas putrinya.
"Iya ibu, tidak apa-apa?. Malau begitu, biar nanti buk le yang mengirimkan nomor saya. Maaf jika saya tidak sopan meminta anak ibu melalui sambungan telefon." kata Devani meminta maaf.
"Tidak nak, kamu sangat sopan sekali iya kan mbak. Vey, beruntung sekali jika mau menerima kamu." jawab bunda sebelum akhirnya ponselnya padam karena kehabisan batray.π
Buk le lupa ngecash ponselnya habis lihat drakorπππ€£π€£.
Devano mengembalikan ponsel buk le dan menuliskan nomor ponselnya di kertas yang memang tersedia di atas meja.
Setelah itu Devano berpamitan untuk pulang sebelum Vey mengetahuinya.
Flashback Off.
Setelah melihat Vey yang pulang dengan menge darai sepeda maticnya. Devano dan yang lainnya juga langsung pulang.
Sebelum itu Devano memastikan Vey tidak benar-benar pulang. Melihat Vey yang berbelok arah, Devano langsung meneruskan perjalanannya untuk menuju sampai di rumah pak le nya Vey.
Untuk sekarang tidak ada catatan guys. Untuk cerita Vey ini aku mau langsung namatin yah. Maaf kau seperti tidak nyambung dengan cerita sebelumnya. Karena, Wildan dan Tyo juga Irene sudah manggil-manggil ingin diceritakan juga kisahnya hehehe.... Aku tidak bisa membuat cerita tamat seperti yg lain.
Ini bukan cerita yang benar-benar tamat kok.π
Jangan lupa juga yah bqca ceritaku juga yang berjudul SUAMIKU BUKAN MILIKKU.
Terima kasih karena masih menunggu kelanjutan cerita Veyo dan kawan-kawan.
__ADS_1