
Semua siswa dari kelas 1, 2 dan 3 sudah tidak sabar untuk menyambut hari esok. Dimana hari yang paling berkesan untuk siswa kelas 3.
Kelulusan tahun ini terbilang sangat meriah karena adanya penampilan dari salah satu Band indonesia sendiri yang berasal dari kota M.
Dari tahun-tahun belakangan acara kelulusan mungkin diadakan secara sesederhana mungkin. Cukup serah terima ijazah dan syukuran saja. Tapi, tahun ini karena bantuan dari seorang wali murid yang memang selalu ringan tangan.
"Maaf, Pak Bu jika saya lancang. Saya ingin perpisahan tahun ini kita adakan acara yang semeriah mungkin," kata Papa Vey.
"Maksud pak tentara bagaimana?." tanya balik pak kepala sekolah.
"Begini Pak, saya dan Bundanya Vey berencana untuk mendatangkan salah satu artis Band. Bukan maksudnya saya yang sok atau bagaimana. Ini juga bisa buat sekolah ini menjadi punya nama," jelas Papa Vey. "
Pak kepala sekolah melihat para guru yang juga ikut menemui orang tua Vey. Mereka sempat terdiam sebentar untuk merundingkan rencana besar ini.
"Kalau Bapak dan Ibu Guru tidak berkenan saya juga tidak memaksa. Hanya saja kita mencoba memberikan kebahagiaan anak-anak. Dan juga akan jadi perpisahan yang sangat dikenang untuk semuanya. Untuk masalah dana biar saya saja yang tanggung Oak, Bu!" jelasnya lagi.
"Baiklah Pak, saya setuju kapan lagi sekolah kita mendatangkan artis Band."
Dan semuanya juga ikut menerima usulan dari Papa Vey. Dengan kedatangan Band itu pasti nama sekolah ini akan menjadi terkenal. Sekolah yang selalu dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang terbilang banyak uang.
Semenjak kedatangan Vey ke sekolah ini. Banyak sekali bantuan yang diterima oleh sekolah ini karena bantuan Papa Vey. Banyak donatur yang ikut andil mengelola sekolah swasta itu.
***
Pagi sudah datang dan semua panitia dan anak-anak yang ikut bagian dari acara diminta untuk datang lebih pagi. Menyiapkan ulang apa saja yang akan diberikan. Mempersiapkan konsumsi, mempersiapkan acara sebaik mungkin.
Siswa siswi yang mendapat bagian paduan suara juga melatih sekali lagi suaranya. Semua tidak ada yang berpangku tangan saat ini. Semuanya bergotong royong saling membantu, kedatangan artis Band sudah ketelingan semua murid.
Para guru dan pak kepala sekolah sudah bersiap berjejer di depan gerbang sekolah. Sebentar lagi para wali murid kelas 1, kelas 2 dan kelas 3 tentunya akan tiba. Di atas gedung sudah terpampang tulisan perpisahan kelas 3.
Satu jam sudah semuanya sudah berkumpul dan menduduki tempat yang sudah dipersilahkan. Para siswa paduan suara sudah berada diatas. Memakai seragam hitam putih dengan aksesoris bros diletakkan dibawah bahu kanan.
Serly sang pembawa acara mempersilahkan pak Kepala sekolah untuk ke atas panggung memberi sambutan terlebih dahulu. Suara tepuk tangan terdengar serempak menguar seisi lingkungan sekolah.
Sambutan dari pak kepala sekolah telah usai. Acara selanjutnya tari-tarian yang akan dibawakan oleh seluruh siswa. Perwakilan kelas masing-masing, yang kedua nyanyi juga diikuti oleh semua siswa.
Vey, Tyo, Wildan dan Irene juga murid jelas tiga lainnya memasuki tempat acara. Kedatangan mereka semua disambut oleh nyanyian para paduan suara. Para wali murid kelas 1, kelas 2 dan kelas 3 menengok ke arah tempat dimana anak-anaknya akan diwisuda.
Dengan pakaian serba hitam putih dengan aksesoris bros yang sama terpakai dengan paduan suara. Tanpa memakai kebaya dan riasan tidak membuat para calon wisuda kecewa. Yang penting memakai pakaian yang rapi dan enak dilihat.
Dari kejauhan terlihat rombongan keluarga Vey baru saja tiba. Vey yang tidak tahu dan fokus ke atas panggung di panggil ketua Osis.
"Vey, keluargamu sudah datang," bisik sang ketua. Vey langsung menengok ke arah dimana keluarganya masih berdiri.
Vey berlari kecil menghampiri keluarganya yang menunggu dijemput sang anak. Tempat acaranya di lapangan sepak bola samping sekolah. Karena tempatnya yang luas dan muat untuk orang banyak.
"Assalamualaikum, keluarga ku," tawa centil Vey menyambut kedatangan keluarganya.
Vey, berhambur memeluk satu persatu keluarganya. Dan melabuhkan pelukan yang sangat lama kepada Eyang putri dan Kakungnya.
__ADS_1
"Aku kira kalian lupa dengan acara ini kok datangnya lama sekali."
Semuanya terkekeh melihat bibir merah Vey yang sengaja dibuat maju kedepan. Fatih yang gemas dengan kelakuan calon adiknya mencubit pipinya.
"Ih, Mas Fatih seneng bener sama pipi Vey. Sakit tahu!" cemberut Vey.
Tanpa menunggu lagi Vey mengajak semua keluarga untuk menduduki tempat yang sudah disediakan. Papa Vey memilih untuk duduk di barisan belakang. Bersamaan pak kepala sekolah melihatnya dan segera menghampirinya.
"Lho Pak, kok duduk di kursi belakang. Kami sudah menyiapkan kursi di depan untuk Bapak dan keluarganya!" kata pak kepala sekolah.
"Disini juga sama saja Pak? Juga kelihatan kok," jawab Papa Vey sesopan mungkin.
"Wah, mari silahkan Bapak pindah ke depan dan keluarganya. Vey, ajak keluarga kamu duduk di depan." suruh Pak Kepsek.
"Tidak usah Pak, terima kasih sekali lagi. Tapi, kita lebih enak duduk di sini yah kan Bun?" tolak Papa Vey dan di angguki oleh semua keluarga.
"Ya,sudah kalau begitu Pak, semoga suka dengan acaranya. Saya permisi ke depan untuk menyambut keluarga lainnya. Mari semuanya."
Vey dan semua keluarganya mempersilahkan pak kepala sekolah pergi. Kesederhanaan ini lah yang di sanjungi oleh semua orang. Meskipun terbilang orang berada tapi, Vey dan keluarganya tidak ingin terlihat berlebihan.
Sebisa mungkin dimanapun mereka berada mereka akan terus bersikap seperti itu. Hidup tidak akan selamanya berada diatas.
Pertengahan acara ponsel Papa Vey bergetar. Sengaja digetarkan karena pasti tidak akan terdengar kalau sudah berhadapan dengan sound system.
Papa Vey berjalan memilih tempat yang sekiranya tenang. Vey, yang masih ikut bergabung dengan keluarganya melihat ke mana sang Papa pergi.
"Halo, waalaikumsalam. Bagaimana, sudah sampai mana sekarang?" tanya Papa Vey.
Tawa kecil terdengar samar-samar karena suara sound system lebih kencang. Setelah menjawab begitu Papa Vey segera berlari keluar. Vey yang melihat itu langsung berdiri dan berlari mengikuti sang Papa.
"Papa," teriak Vey yang sukses menghentikan larian sang Papa.
Melihat sang Papa berhenti Vey langsung menghampirinya.
"Papa, mau kemana? Papa sudah janjikan untuk melonggarkan waktunya untuk acara ini," ucap Vey dengan nada sedih dan bibir yang mengerucut kecil.
Tanpa menjawab ucapan anaknya tangan kekarnya langsung menarik tangan Vey. Vey pun mengikuti langkah besar sang Papa. Mobil putih polos sudah tiba dan menunggu sang memiliki hajat.
"Itu mobil siapa Pa!" tanya Vey yang melihat sebuah mobil berhenti di depan sekolahnya.
Papa Vey hanya tersenyum dan kembali melihat ke depan. Dari arah mobil turun seorang laki-laki yang tidak asing bagi Vey.
"Lho, kok ada Om Hendrik juga Pa? Lho, itu bukannya, Pa?"
Papa Vey hanya bisa tertawa melihat anaknya yang sukses terkejut. Om Hendrik dan personil Band tersebut mengekor di belakangnya.
Vey masih mematung seketika menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Saat Om Hendrik dan rombongannya semakin mendekat.
"Pa! Papa ini beneran mereka. Kenapa Papa tidak bilang sama Vey dulu," cecar Vey yang pandangannya masih menatap semuanya.
__ADS_1
Sang vokalis melambaikan tangannya untuk sekedar 'say hello'. Vey semakin berjingkrak-jingkrak kegirangan, semua yang melihat kelakuan Vey menjadi tertawa.
"Om Hendrik, terima kasih ya sudah datang juga dan membawa kanak-kanak ini," ucap Vey yang tak pernah hilang senyumannya.
"Iya putri salju, ini spesial buat kamu. Sebenarnya, mereka hari ini tidak bisa datang lho Dek! Karena Om paksa jadi kakak-kakaknya mau deh," goda Om Hendrik yang mendapat pukulan keras dari Vey.
Vey akhirnya menuntun semuanya keruangan yang sebelumnya sudah dipersiapkan. Ruangan kelas 1 yang di gabung dengan kelas 2 sehingga bisa luas.
Habis mengantarkan semuanya Vey berpamitan untuk memberitahu kepada ketua Osis. Vey juga tidak lupa membawa spanduk yang tadi diberikan oleh Om nya.
"Pak ketu, nih spanduknya tolong diikat di tiang itu yah. Tamu agung nya sudah datang dan sekarang masih di ruangan yang tadi. Nanti kalau artisnya sudah mau naik langsung tarik talinya ngerti kan maksudku!" suruh Vey. Dengan sedikit berteriak Vey menjelaskan.
Tyo, Wildan dan Irene yang melihat Vey berlarian kesana kemari menjadi bingung sendiri.
"Wil, kamu gak ikutan Vey lari-lari. Apa gak capek yah dia mondar-mandir kayak angin lesus."
Dan ketiganya langsung tertawa melihat Vey yang dibilang seperti 'angin lesus'. Sudah memberi aba-aba pada pak ketu Vey berganti pada Serly yang menyaksikan temannya bernyanyi.
Mata Sherly langsung membulat dan mulutnya pun juga membentuk huruf O. Segera Vey menutup mulut temannya itu, takut-takut ada lalat salah masuk gua.😂
Setelah semuanya sudah selesai Vey kembali lagi ke ruangan yang ada sang Papa dan Om nya. Dengan menunggu personil band tersebut melatih suaranya kembali.
Serly naik keatas panggung dan menyampaikan suatu hal yang dibisikkan Vey.
"Akhirnya, yang kita tunggu-tunggu sudah tiba. Berkat bantuan salah satu keluarga teman kita Band yang sekarang ramai digandrungi para remaja rela meluangkan waktunya di sekolah kita. Dan tidak menunggu waktu lama lagi mari kita sambut Band papan atas yang berasal dari kota dingin M. Sebelumnya kasih applause yang meriah untuk FLANELLA BAND."
Bersamaan spanduk yang diikat pun ditarik oleh ketua Osis dan terpampanglah wajah personil FLANELLA. Para siswa langsung bersorak ria, berdiri menyambut kedatangan tamu agungnya.
"Ayok, sudah dipanggil," ajak Vey yang berjalan di depan semuanya.
Kedatangan Vey dan personil band FLANELLA disambut dengan sangat meriah dan jeritan-jeritan para remaja putri. Beberapa siulan juga turut meramaikan acara. Sampai di tangga panggung Vey mempersilahkan sang artis untuk naik.
Para siswi tidak henti-hentinya bersorak kegirangan. Melihat artis yang selama ini mungkin ingin mereka temui.
Vey menghampiri sang Papa yang masih berdiri dibelakang keluarganya yang dudu. Vey kembali ketempat keluarganya dengan menahan sehat cairan kebahagiaan ya.
"Terima kasih, Papa sudah mendatangkan mereka. Vey seneng banget melihat semua teman-teman Vey."
Cairan bening yang sedari tadi Vey tahan akhirnya lolos juga. Memeluk erat sang Papa menyalurkan rasa bahagianya. Tidak berhenti-hentinya Vey bersyukur memiliki keluarga yang sangat peduli dengan semua orang.
NOTES: BAHAGIA BISA MELIHAT ORANG LAIN BAHAGIA.
😢😢😢😭😭😭🤧🤧🤧
Maaf, aku ikutan nangis juga karena tidak tahan. Padahal sudah aku tahan lho tapi yah akunya juga cengeng. Huaaaaaaa..........
Maaf yah kalau aku lama gak up, karena ada sedikit masalah yang yang yang,,,,,,harus aku nikmatin dulu😊,,,,
__ADS_1
semoga masih suka yah sama ceritaku in dan setia menunggu meskipun lama. Tapi kalau gak suka karena upnya lama gak papa tinggalin aja😊😊,,,,,