
Devano memandang wajah istrinya dengan tatapan sendu. Ada gejolak rasa cemburu ketika Vey berjata tidak munafiknjika memiliki perasaan kepada lawan jenis.
Vey mendongak dan tersenyum kembali. Tangannya menggapai wajah cemburu sang suami.
"Aku tahu, perkenalan kita bisa terbilang sangat singkat. Tapi, apa kamu tahu sejak saat itu pula aku berusaha untuk berdamai dengan diri sendiri. Tidak bermaksud menghilangkan. Karena semua itu akan percuma. Biar rasa itu menghilang dan lenyap dengan sendirinya. Dan, terbukti adanya. Aku mencintaimu dengan tulus dan sepenuh hatu. Meski, ada sedikit ruang yang masih tersimpan. Lantas akhirnya sisa ruang itu akan penuh dengan nama pangeran tampanku. Yaitu, Devano,"
Bukan rayuan ataupun buwalan semata untuk membuay sang suami bahagia. Nyatanya, Vey sudah tidak lagi memiliki sebuah rasa yang dalam untuk sahabatnya.
Pernikahan yang dijalani Vey, akan menjadi sebuah pernikahan yang sangat di dambakan. Bukan hanya bahagia semata memiliki seorang suami tampan dan cerdas.
Melainkan, bersatu dalam angan akan dikejar bersama. Bukan lagi aku, bukan lagi dia. Aku dan dia sudah menjadi KITA. Kita sudah waktunya untuk tidak memikirkan hal lain yang akan merusak kebahagiaan itu.
Manik mata Devano masih memandang lurus manik mata sang istri. Merunduk, sedikit demi sedikit. Terpaan nafas Devano terasa sangat hangat diwajah Vey. Sedetik kemudian kedua mata itu saling terpejam dan...
Astaghfirullah,,,,,puasa woy, puasa,,,,πππππππ€£.
__ADS_1
Biarlah, malam ini mereka berdua memadu kasih yang masih belum tahu mau dibawa kemanaπ.
***
Sejenak rembulan malam bersinar dengan cahaya yang terang. Cahaya yang mampu menyinari seluruh isi bumi. Tetapi, sinar yang lain meredup dan gelap.
"Wil, jangan pernah masuk lagi dalam kehidupan mereka. Kalau memang kamu mencintai dia. Biarkan dia bahagia dengan suaminya. Jangan sampai kamu menjadi penghancur wanita yang kamu cintai." saran Tyo.
Entaj, sampai kapan Wildan sadar akan perasaannya yang membawanya masuk dalam keredupan. Ditundukkannya kepala Wildan dengan kedua mata yang tertutup.
"Bagaimana denganmu sendiri. Ketika satu perasaan yang sama pernah kamu miliki terhadapnya?" tanya Wildan masih dengan tertunduk lesuh. Rapuh, Wildan semakin rapuh akan cintanya yang dalam kepada Vey.
"Perasaanku terhadap dia hanya sekedar mengagumi. Tidak lebih seperti perasaanmu. Karena aku tahu, cinta tidak selamanya memiliki rasa yang sama. Wil, perasaan mungkin ada disetiap insan. Tapi, biarlah mereka yang menyimpan dan mengenang perasaan itu."
Sungguh Tyo yang sekarang sangatlah sudah berubah banyak. Lebih dewasa, lebih mengerti akan kehidupan yang membawanya untuk menjadi lelaki dewasa.
__ADS_1
"Hem, kata-katamu, Yo. Sudah seperti seorang motifator saja," seringaian tipis Wildan berikan untuk sahabatnya.
"Kalau itu bisa membuatmu sadar. Aku siap jadi motifator Wildan si kutu badak yang gamon. Alias gagal move one. Puas Anda saudara Wildan Prasetyo," celetuk Tyo memukul kepala sahabatnya.
"Tyo, woy. Kebiasaan kamu memukul kepala. Kualat kamu, tuyul," kesal Wildan yang tidak peenah suka kepalanya dipukul.
Tyo berlari keluar rumah dengan mengacungkan jari jempol. Wildan hanya mampu menggeleng sambil mengusap kepalanya. Ada sesikit kelegaan yang Wildan rasakan.
Membenarkan perkataan Tyo tidaklah salah. Malam mulai semakin gelap dengan rinai hujan yang tidak begitu lebat. Biarlah hati yang memanas akan menjadi dingin tersapu hawa angin malam.
Mengistirahatkan pikiran dalam suasana sunyi sangatlah tenang. Perlahan kedua mata itu tertutup sempurna. Nafasnya begitu teratur keluar dari lubang hidung.
Jangan sampai salah lubang yah pemirsaπ π .
"Ketika hati hanya tercipta ada satu bentuk. Dapatkah, cinta juga memiliki satu ruang?"
__ADS_1