SENYUM DIBALIK DUKA

SENYUM DIBALIK DUKA
KETEGANGAN MULAI TERASA


__ADS_3

Tidak banyak tamu yang datang karena, memang Devano hanya memberikan keluarga besar dari papa dan mamanya. Juga keluarga Vey dan beberapa teman mereka.


"Baiklah, acara yang sangat ditunggu-tunggu semuanya adalah lamaran mas Devano untuk bidadarinya. Saya persilahkan untuk mas devano menjemput bidadarinya," panggil mas Mc nya menyuruh Devano untuk menjemput Vey.


Vey yang sejak tadi tidak memperhatikan dengan jelas acara. Tidak sadar kalau Devano berjalan ke tempatnya. Semua tamu, keluarga dan teman Vey berdiri.


Pendengaran Vey tidak lagi mendengar suara musik ataupun keramaian.


"Bu lek, Pak le acaranya sudah selesai yah," ucap Vey yang masih memainkan ponselnya.


"Ndok, kamu jangan main ponsel terus dong. Mbok yo dilihat dulu," tegur buk le mengambil ponsel Vey dengan sengaja.


"Buk le, Lho kamu kenapa berdiri disini? Acaranya sudah selesaikan?" tanya Vey kepada Devano yang berdiri di samping kursi Vey.


Devano hanya tersenyum dan menekuk satu lutut ke lantai. Dan satunya di tekuk persis orang yang hendak melamar kekasihnya.

__ADS_1


"Hey, kamu ngapain?" tanya Vey berdiri dan sedikit memundurkan dirinya.


Saat itu juga semua keluarga yang bersembunyi keluar. Vey melihat sekelilingnya yang langsung berdiri. Pandangan Vey tertuju kepada satu sosok wanita yang dirindukannya.


'Bunda, bukan itu bukan bunda. Bunda ngapain kesini Vey, bukan itu bukan bundaku,' batin Vey mencoba meyakinkan penglihatannya kalau itu bukan bayangan bundanya.


Bunda dan mbak Asri melambaikan tangannya ke arah Vey. Sontak, kedua mata Vey melotot dengan mulut yang sedikit terbuka. Vey melihat lagi ke bawah dimana Devano yang juga melihat ke arah bunda dan keluarga lainnya.


"Vey, maaf kalau aku lancang atau tidak memberitahukan dulu. Vey, malam ini aku ingin meminta semua yang kamu punya. Mulai dari hatimu, cintamu, sayangmu. Vey, sudikah kiranya kamu menerima niat baikku ini, yang ingin mengajak kamu berta'aruf," ungkap Devano.


Vey membungkam mulutnya karena, tidak percaya dengan ungkapan dari Devano. Vey kembali menatap keluarganya yang tersenyum.


"Terima, Vey," teriak Nindi dari jauh. Vey yang mendengar suara cempreng khas dari Nindy.


"Nindi, Alisya, dan Rizal," gumam Vey.

__ADS_1


Vey, memundurkan langkahnya ke belakang. Kepalanya menggeleng tidak tahu harus bagaimana.


Menerima atau menolak niat baik Devano. Vey membalikkan badannya sehingga, membuat semua orang menjadi cemas.


"Loh, kok Vey," resah Rizal.


"Ya allah, Vey," lirih Alisya.


"Vey, jawab iya dong," pinta Nindi dengan suara lirih.


Semua orang dibuat bingung dengan reaksi Vey yang sepertinya, masih ragu. Bunda dan mbak Asri saling tatap dengan menautkan jemari keduanya.


Rasa cemas, gelisah dan ragu menyelimuti semua orang yang melihatnya. Devano sempat tertunduk sebentar dan kemudian memutar lehernya.ย 


Sang papa mencoba untuk menenangkan anaknya yang terlihat cemas. Devano mengangguk dan kembali meyakinkan dirinya.ย 

__ADS_1


Ditariknya nafasnya dalam-dalam dan dihembuskannya pelan. Devano berusaha untuk meyakinkan dirinya dan pikirannya.


"Vey, aku tahu mungkin kamu terkejut dengan keputusanku yang terlihat sangat mendadak ini. Tapi, Vey aku sudah yakin dengan keputusanku ini. Dan, sebelum melakukan ini semua. Aku sudah terlebih dulu meminta petunjuk Allah SWT. Vey, sekali lagi aku bertanya padamu. Apa kamu mau menerima ta'aruf yang aku ungkapkan karena Allah SWT?" tanya Devano meyakinkan Vey lagi.


__ADS_2