
Kenapa waktu dan detik tidak berhenti bergerak pada satu waktu saja?
Empat jam mengurung diri di dalam kamar dengan gelap-gelapan. Membuat Vey gerah dan capek. Sudah cukup menangis dan waktunya kembali menampakkan perannya secantik mungkin.
Berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berdandan. Menutupi kantung mata yang hampir jatuh ke pipi. Memakai soflen warna coklat agar tidak tampak sembabnya.
Sekuat mungkin Vey harus harus berusaha semuanya baik-baik saja. Dan, berperan untuk tersenyum itu butuh tenaga dan kekuatan hati yang besar.
Keluar dari kamar Vey sudah mengembangkan senyumannya. Berjalan dan berlarian seperti biasanya yang dilakukan.
"Selamat injing para penghuni istana ku?" salama Vey dengan berteriak layaknya, bisa menutupi kesedihannya.
Semua orang yang masih berkumpul di ruang tengah. Menatap Vey dengan perasaan bersalah. Vey melipatk3dua tangannya untuk di tenggerkan pada tubuh depannya.
"Vey, kamu bilang apa. Selamat pagi? Coba tengok matahari yang sudah di ganti bulan?!"
Vey hanya cengengesan mendengar kakak tercintanya berseru sebal. Vey langsung dudum di dekat Tyo yang menatapnya sendu.
Irene beberapa kali menyembunyikan wajahnya untuk menghapus sumber beningnya. Sedangkan Wildan, jangan katakan lagi untuk satu lelaki itu.
Setegar mungkin mereka menyembunyikan semuanya. Papa Candra dan mas Fatih sudah terbang ke kota lain. Sejurus kemudian terdengarlah mada dering ponsel Vey yang begktu nyaring.
Now the day bleeds
__ADS_1
Into nightfall
And you're not here
To get me through it all
I let my guard down
And then you pulled the rug
I was getting kinda used to being someone you loved
Entah Vey sengaja memasang lagu itu atau hanya memang "memasang". Berhenti menjejal snack coklat kesukaannya. Masih dengan senyum yang mengembang Vey menekan tombol hijau itu.
Bunda dan lainnya menatap Vey dengan wajah yang tegang. Benar saja sedetik kemudian air mata Vey luruh juga. Irene langsung memeluk Vey yang masih menempelkan ponselnya di telinga kirinya.
"Vey, kamu harus tetap kuat sayang. Cobaan orang untuk menikah memang banyak. Karena itu, kamu dan Devano diuji sedemikian, Nak. Bunda yakin kamu anak yang kuat. Kami selalu ada untuk Vey sayang?"
Mbak Asri dan Irene mengangguk dengan memeluk erat Vey. Vey tidak menjerit ataupun meraung. Menangis dalam kediaman yang membuat semuanya sesak sendiri.
"Bunda, Devano kuat. Devano hanya tertidur. Devano akan sembuh sebelum tanggal yang kita buat. Vey, Vey lupa tidak memberikan sesuatu yang Dev inginkan, Bunda,"
Pecah semuanya, gelasnya sudah pecah berkeping-keping. Diatas pecahan beling Vey berusaha untuk menguatkan dirinya. Demi mas tampannya Vey akan kuat.
__ADS_1
"Mbak, coba kamu telfon masmu!" titqh bunda kepada mbak Asri. Mbak Asri langsung menekan layar yang tertetesi air matanya.
Bunda sangat sedih melihat Vey kembali seperti dulu. Hanya saja Vey tidak berteriak ataupun meronta seperti dulu. Vey sekarang lebih bisa mengendalikan emosinya dan berusaha untuk menutupinya.
Tetapi kedua matanya tidak bisa berbohong. Mata merah dan air yang terus mengalir membuktikan bahwa Vey sudah mengetahuinya.
Diokta lain tepat malam hari papa Candra juga mas Fatih sudah sampai dirumah sakit. Disana terlihat keluarga dari Devano yang sama hancurnya.
Pandangan Fatih melihat seseorang gadis yang tampak sangat asing. Jika Fatih mengenali Queen yang menangis dipelukan sepupunya. Lain halnya dengan gadis cantik yang tingginya semampai.
Tidak ingin berfikir jelek Fatih mengalihkan tatapannya kepada kedua orang tua Devano. Disana papa Devano menjelaskan kronologi sebenarnya.
Bagaimana papa Candra mengatakan kepada putrinya. Bahwa calon imamnya tidak bisa mengingat satubal pun tentangnya. Ingatannya sepenuhnya hilang dansulit untuk kembali.
Papa Candra yakin akan ada mukjizat yang bisa membantu Devano kembali bisa mengingat. Juga, papa Devano mengenalkan gadis berambut merah itu sebagai mantan dan sahabat Devano.
Monika, orang yang pertama mengetahui Devano kecelakaan motor. Bersamanya pula Devano terkapar di tengah jalan. Pelindung kepala yang terpakai langsung terlepas dan menggelinding jauh.
Monika terpental dan tidak begitu parah. Fatih terus menatap Monika dengan perasaan marah. Begitupun kepada Devano yang kenapa tidak memikirkan dirinya sendiri.
Pernikahannya kurang menghitung hari. Tapi, Fatih tidak bisa menyalahkan semuanya. Tidak begitu lama terasa ada sesuatu yang bergetar disakunya.
"Pa, aku maumenjawab telfon dulu," izin Fatih yang diangguki papa Candra. Sebelum melangkah papa Candra menahan dan menaruh tlunjuknya di bibirnya.
__ADS_1
Mas Fatih paham dengan maksud sang mertua. Mas Fatih menjaub dan duduk di depan rumah sakit. Mas Fatih hanya mengatakan kalau Devano mengalami kecelakaan dan membuatnya kritis.
Papa Candra memutuskan untuk. erada dikota ini sampai calon menantunya membuka matanya. Mas Fatih pun juga ikut bergantian menjaga adik iparnya itu.